Langsung ke konten utama

Pada buku bersampul Violet

Di buku-buku yang terserak aku menemukan obat bagi sakitku. Gelisah yang bertubi-tubi merajam diri di setiap malam menjelang. Lalu pada bait-baitnya yang begitu teratur, aku menemukan sejumput penawar bagi bisa yang tercipta begitu saja. Bisa yang kadang menjelma menjadi racun namun di lain waktu berbeda menjelma menjadi penyembuh.

Sakit yang seringkali aku ingin melepasnya dan berharap semuanya menjadi terbiasa, tapi dari kalimat-kalimat panjang sang legenda aku menemukan arti dari sakit itu sendiri. Sakit adalah kenikmatan untuk kehidupan selanjutnya. Sakit tak harus dihindari, sakit jangan diharapkan menjadi kekebalan agar kita terbiasa, tapi rasakanlah kesakitan itu, nikmatilah setiap potongannya, sambil terus mencari jalan untuk keluar darinya. Kelak ketika kita dewasa, sakit itu akan menjadi kenangan.

Di lembaran-lembarannya aku mulai memahami bahwa tuntutan hanya akan menimbulkan kesakitan, maka bersabarlah, memberilah, jangan pernah meminta, pemberian adalah cermin kebesaran jiwa, mengerti adalah cermin keikhlasan, maka, aku memutuskan untuk memengerti dan memberi saja.

Pada buku bersampul violet....aku menemukan bahwa cinta adalah memberi untuk mengasihi.

Komentar

  1. "Di lembaran-lembarannya aku mulai memahami bahwa tuntutan hanya akan menimbulkan kesakitan, maka bersabarlah, memberilah, jangan pernah meminta, pemberian adalah cermin kebesaran jiwa, mengerti adalah cermin keikhlasan, maka, aku memutuskan untuk memengerti dan memberi saja."

    Setuju. Namun layaknya beritahu keinginan, (mungkin) tanpa pengharapan berlebihan :)
    suka sama untaian katanya. Great!

    BalasHapus
  2. sangat menarik tulisannya ihan

    salam kenal

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.