Langsung ke konten utama

Tidak Punya BB (Tidak) Sama Dengan Kere (?)

@blackberryempire.com
Di Bandara Soekarno Hatta akhir Februari lalu, aku berkenalan dengan seorang gadis. Usianya terpaut beberapa tahun di atasku. Dari dialeknya aku sudah bisa menebak dari mana dia berasal. Orangnya ramah. Setidaknya, aku punya teman berbincang yang asyik sembari menunggu jadwal keberangkatan.

Lazimnya sebuah perkenalan, meminta nomor telepon atau nomor kontak lainnya adalah hal yang lumrah. Itu juga yang terjadi pada kami.

"Kau punya pin BB?" tanyanya.

"Enggak, aku cuma punya nomor telepon," jawabku.
"Ya nggak apa-apa lah, siapa tahu nanti kau punya rejeki, kalau sudah punya BB kau kasi tahu aku ya,"

Aku tersenyum. Tidak mengangguk tidak juga membantah. Hanya saja otakku cepat berputar; apa tadi katanya, kalau sudah punya rejeki?

Oh, sejak kapan kah punya BlackBerry (BB) jadi indikasi seseorang dianggap ber-rejeki atau berduit? Artinya, orang yang tidak ber-BB sama dengan kere kah?

Ini bukan pertama kalinya ditanya "Apa kau punya BB?". Terlebih saat aplikasi ini mulai tersedia di Android.
Paling sering adalah menerima pesan yang isinya super singkat, padat dan jelas; invite pin bb-ku ya. Parahnya tidak diberitahu pula siapa yang dimaksud dengan 'aku' itu. Akhirnya kita cuma bisa menduga-duga tentang 'aku' di seberang sana.

Mungkin karena mayoritas orang Indonesia konsumen produk BB, jadi yang tidak pakai BB malah dianggap aneh ya? Ini lah yang namanya 'membenarkan kebiasaan', bukannya 'membiasakan kebenaran'. Sebagai produk teknologi, BB tidak wajib dimiliki. Apalagi mengaitkannya dengan kondisi kantong seseorang. Dan lagi setiap orang punya selera berbeda bukan?[]

Komentar

  1. Hehhe..ada2 aja. Disni pernah ketemu anak indo, mereka g berani nyapa dan yakin mira dkk juga dari indo karena kita gak pake bb haha..kocak

    BalasHapus
    Balasan
    1. kata temenku yang di Batam, kalau pergi ke Singapura salah satu cara mengenali orang Indonesia adalah pake BB hehehe

      Hapus
  2. malah ada juga yang jadikan bb standard jomblo atau enggaknya kak.

    aku pernah gak sengaja dengar dua orang cowo ngobrol

    "eh... dia gak pake bb tu, berarti jomblo"

    hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hah? serius ini Syahuri? etapi bagus juga aku nda disangka jomblo karena ngga pake bb hahahaaa

      Hapus
    2. iya serius kak... entah apa maksudnya mreka bilang gitu, gak berdasar sama skali :))

      Hapus
    3. hahahah justifikasi sepihak ya, bikin para jomblo bahagia tersinggung

      Hapus
  3. Hahahhaha ngakak baca komen Syahuri :D

    BalasHapus
  4. Setuju...BB tidak wajib dimiliki. Aku punya BB juga karena teman-teman pada komplen katanya susah menghubungi, soalnya mereka udah pada langganan bulanan jadi malas mungkin ya buat sms atau telfon. Tapi tetap sih nggak wajib.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener Nufus, kadang-kadang komunikasi sama temen2 yg udah beralih ke BB jadi putus hahaha, alah tapi biar aja lah, kalau perlu pasti telp/sms juga

      Hapus
  5. Aneh kali menilai orang dari punya BB atau nggak, padahal masih banyak HP lain yang lebih canggih. Aku dari dulu nggak pernah tertarik pakai BB. Walaupun sudah install BBM di HP yang sekarang, tetap saja WhatsApp yang jadi IM favoritku, :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul Ahmad Zaki, orang kan punya selera macem2 yaaa,

      Hapus
  6. Hahaha, sebenarnya biasa aja sih. Hanya orang-orang yang merasa kaya itu punya anggapan demikian. Nah sekarng ini, orang yg punya BB itu malah lari terbirit-birit begitu lihat Android yang di atas 5 inci, layar sentuh, layar bening, lebih kencang, harga lebih murah dan bisa BBM pula!

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.