Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2009

Dia, dalam tulisanku

"Kesalahan terbesar yang paling sering dilakukan oleh banyak orang, adalah mereka tidak pernah mengatakan apa yang sebenarnya mereka rasa dan inginkan"


maka ia tidak ingin begitu. kepadaku ia bercerita, sambil duduk menghadap mata, hampir-hampir saja keluar salju dari mata beningnya, lalu ia menggigit bibir, berharap tidak ada yang basah. "Biar saja hatiku yang basah," tuturnya sendu, sendu yang berbalut tawa yang entah.

aku menatapnya, penuh tanya dan heran. benarkah ia baik-baik saja? tanyaku dalam hati. benarkah ia setegar karang, benarkah ia seperti yang terlihat? ceria, senyum dan penuh semangat?

"banyak hal yang bisa membuat manusia menangis, tetapi dengan menangis semuanya tidak akan menjadi lebih baik. maka, tidak menangis adalah pilihan yang paling baik". ia berdiri, matanya menatap lepas. mungkin ia memandangi jalan yang ramai, atau manusia yang hilir mudik, kadang ia tersenyum, kadang menghela napas. tapi aku tahu, ia menyimpan sesuatu.


aku tahu, t…

Bahagia yang Tak Indah*

jika pada akhirnya aku kembali jatuh cinta, siapa yang salah? keadaan yang membawaku pada liku yang unik, atau diri yang memang menginginkan cinta itu kembali ada? lalu, bila itu benar terjadi, kepada siapa pertanggung jawaban dicari?

hidup ini memang seperti kumpulan puzzle yang rumit, kadang terlihat biasa saja tetapi membutuhkan tenaga ekstra untuk bisa menyelesaikan setiap kepingannya. kadang, ia terlihat sangat rumit, tetapi padahal sangat biasa, dan memang biasa.

tetapi siapa sangka, kebiasaan itulah yang sering menjebak, karena rupanya yang tak jelas.
dan rupa itu sering berubah-ubah wujud, kadang ia seperti malaikat yang menawarkan sejuta kedamaian dan salju yang sejuk, tetapi ia sedang menjebak. lain waktu ia berubah menjadi menyeramkan dan menakutkan, tetapi sebenarnya itulah yang nyata.

ketakutan kadang-kadang membawaku pada harapan yang aku sendiri sukar mewujudkannya. membawaku pada telikungan dan kelokan tindakan yang aku sendiri kadang tidak menginginkannya. tetapi darisana…

Badai

ada badai yang bergemuruh dalam jiwa
meliukkan seluruh pertahanan dan kebersahajaan
ada gelombang yang bertali saling menghempas
memukul dan menerjang tanpa permisi

kukurung matahari dalam ceruk batin
lalu ia mendidih melahirkan amarah dan sengat
dan diri terkulai penuh dalam lengkung yang hampir patah

inikah perjalanan
buah dari fikir dan jiwa yang akan besar

Perempuan Patah Hati*

Aku mengenal perempuan ini disebuah kafe, lima belas hari sebelum hari ini. Saat itu aku tengah berputar-putar mencari bangku kosong ditengah hiruk-pikuk orang-orang yang sama sekali tak peduli padaku. Kalau bukan karena sebuah suara, aku sudah akan meninggalkan tempat itu. Barangkali mungkin aku tidak diijikan menikmati semburan lampu sorot yang menjerla menelan awan, dengan segelas kopi khas kafe ini malam itu.Aku berpaling diantara sekian banyak kakah-kakah tawa laki-laki, aku melihat seorang perempuan malambaikan tangannya padaku. Aku mendekat.“ Duduk disini saja.” Tawarannya, sambil tersenyum bersahabat.Hatiku berlonjak girang. Bukan apa, terbayang mengeluarkan motorku dari area parkir saja sudah membuatku lelah dan capek. Tapi perempuan itu, tawarannya, seyumnya, melucuti seluruh gerah dan lelahku selama seharian tadi.“Terimakasih kamu baik sekali” jawabku tulus.Aku menarik kursi berkaki pendek berwarna hijau luntur. kuletakkan pantatku pada kursi yang tak empuk itu m…

Jejak

Angin kecil yang berubah menjadi beliung besar tidaklah terjadi dengan sendirinya, begitu juga hujan yang mengikis seluruh tanah dan kerikil. Kepompong yang pada akhirnya memilih menjadi kupu-kupu, juga manusia... yang memutuskan menjadi salah satu dari kumpulan warna-warna...



seperti pohon besar, yang pada awalnya hanya kecambah dari biji kecil yang nyaris tidak terlihat, lalu tumbuh dan berkembang, membentuk daun dan ranting, menjadi cabang yang kokoh dan besar, sehingga mampu menjadi tempat berteduh bagi para musafir.


lalu, seperti apa bentuk lara itu sendiri? seperti daun-daun berguguran, karena memang sudah masanya gugur, atau seperti kuncup yang patah karena kepakan sayap yang terlalu kuat.


lalu, bila itu lara, apa penawarnya?

seperti apa rupanya? katakan di mana letak jejaknya, mungkin suatu hari, aku akan mendiamkannya dalam hati, menyemayamkannya menjadi jasat yang tak bergerak. biarlah membatu, lalu pelan-pelan menjadi prasasti yang akan selalu terkenang.


bahwa, pada suatu hari, …

Training Menulis Kreatif

Jean

Mengapa Jean?
Karena dia adalah angin
Yang selalu hadir dengan wujud yang entah

Karena dia bisa menjelma sebagai oase
Yang hadir bukan hanya pada saat terik
Dia angin yang sepoi
Hujan yang basah

Dia Jean
Yang sepi penyesalan
dan seasin dirinya sendiri

Karena Jean adalah Jean
Yang hidup dalam suara yang patah-patah
berbalut hasrat yang tak pernah putus

Itulah mengapa harus Jean

Mahaguru*

Matahari hampir terbenam, ketika perempuan itu tergopoh-gopoh mendekati kiosku. Dari jauh ia mengirimkan isyarat melalui tatapan matanya agar aku menunggunya sejenak. Karena aku mengenalnya maka kuterima isyarat itu dengan senyuman. Aku mengenalnya. Tapi tak tahu siapa namanya. Apa pekerjaannya, di mana ia tinggal. Aku hanya sebatas mengenal wajahnya. Karena ia sering datang tergopoh-gopoh menjelang senja ke kiosku.“Satu atau dua?” tanyaku begitu ia menghampiri.“Dua.” Jawabnya sambil membuka tasnya. Lalu mengeluarkan dompet dan menyerahkan empat lembar ribuan kepadaku. Dan dua Koran lokal kini berpindah tagan. Setelah itu ia pergi setelah mengucapkan terimakasih.Awalnya, - aku tak ingat lagi kapan pertama kali ia membeli Koran di kiosku- ia hanya membeli satu Koran lokal. Itupun yang baru terbit. Namanya belum popular ketika itu. Tapi selalu Koran itu yang ia beli sampai-sampai aku meneliti setiap halamannya apa yang menjadi kelebihan Koran itu. Rasanya tak ada, usianya…