Langsung ke konten utama

Dia, dalam tulisanku

"Kesalahan terbesar yang paling sering dilakukan oleh banyak orang, adalah mereka tidak pernah mengatakan apa yang sebenarnya mereka rasa dan inginkan"


maka ia tidak ingin begitu. kepadaku ia bercerita, sambil duduk menghadap mata, hampir-hampir saja keluar salju dari mata beningnya, lalu ia menggigit bibir, berharap tidak ada yang basah. "Biar saja hatiku yang basah," tuturnya sendu, sendu yang berbalut tawa yang entah.

aku menatapnya, penuh tanya dan heran. benarkah ia baik-baik saja? tanyaku dalam hati. benarkah ia setegar karang, benarkah ia seperti yang terlihat? ceria, senyum dan penuh semangat?

"banyak hal yang bisa membuat manusia menangis, tetapi dengan menangis semuanya tidak akan menjadi lebih baik. maka, tidak menangis adalah pilihan yang paling baik". ia berdiri, matanya menatap lepas. mungkin ia memandangi jalan yang ramai, atau manusia yang hilir mudik, kadang ia tersenyum, kadang menghela napas. tapi aku tahu, ia menyimpan sesuatu.


aku tahu, tidurnya sering gelisah akhir-akhir ini. nafasnya sering tertahan. matanya sering merah, tetapi ia mengaku hanya karena debu. maka, begitu kejam debu itu, mungkinkah ia hadir di tengah malam buta, ketika ia terjaga dari tidurnya?


maka, ia kembali menunggu april, untuk kembali mengatakan betapa ia sangat mencintai, betapa ia sangat merindu. ia ingin bernostalgia, ketika sejak pertama kali ia mengatakan cinta "Betapa aku mencintaimu melebihi siapapun."

dan, tak ada yang lebih membuatnya bahagia, ketika ia menyentuh wajah, memeluk pinggang, dan mencium mesra pipi kekasihnya. dengan mata mesra penuh cinta ia berujar lirih "Kamu adalah lelaki yang pantas kusebut jiwa..."

aku hanya menyaksikan, betapa besar cintanya, betapa kuat perasaannya, betapa kata-katanya tak pernah berubah, sejak beberapa tahun yang lalu. sejak pertama kali ia mengatakan ia mencintainnya. "Karena aku tak ingin menjadi salah bagi jiwa dan batinku, aku tak ingin menjadi pembohong bagi hatiku." demikian selalu ia menegaskan.

aku mendengarkan, tuturnya begitu mempesona. ia begitu pandai menyimpan rasa, pandai memindai luka, ia begitu pintar meredam emosi. "Karena kemarahan tak pernah menyelesaikan apa-apa." lagi-lagi aku hanyut dalam tuturnya.


lalu, ketika pada suatu waktu, ia berkata bahwa ada cinta lain yang menggerogoti jiwanya, aku terhenyak, sibuk pada wajahnya yang satir dan pias. kuperhatikan, ingin kubertanya, tetapi sikapnya menjawab semua gundahku.

ia membalut murung dengan senyum, memintal kecewa dengan semangat, dan menambah ingat dengan pepatah-pepatah bijak yang tidak pernah kumengerti seperti apa maknanya. "Berilah obat kepada orang lain, bila kita ingin mengobati diri sendiri." mengertilah aku mengapa ia selalu tegar dan teguh. "Dan jangan pernah memandang sesuatu dari sisi yang sama..."

ia kembali duduk.
matanya kembali berbinar. aku heran. secepat inikah ia mengobati dirinya? padahal aku tahu baru saja ia sangat kesakitan.

kadang aku mengikutinya, menelisik apa saja yang ia lakukan, mengintip ke bilik hatinya. ada siapa saja di sana. sungguh...bertabur nama-nama yang panjang dan unik. ia memang pencinta yang bisa mencintai siapapun...

Komentar

  1. Perempuan memiliki banyak kelebihan daripada Laki-laki...
    Salah satunya adalah kemampaun untuk menyembuhkan diri lebih cepat...
    Dan terus lebih kuat...
    Meminjam kosa kata Akira Toriyama, mereka adalah Manusia Saiya Super...
    Maka jangan heran banyak lelaki mengagumi mereka...

    Sebaliknya laki2 ibaratkan dalam komik Dragon Ball bagai Manusia Iblis Piccoro, dingin, kejam, namun bisa juga lembut dan penuh kasih sayang...

    Diakhi cerita manusia saiya super selalu lebih lebat dibanding Piccolo...

    BalasHapus
  2. tetapi keadaan kadang-kadang membuat manusia lupa kalau mereka sebenarnya kuat. sehingga mereka sering larut dalam luka.

    karena perempuan pandai menyimpan rasa, sehingga sukar sekali ditebak seperti apa sebenarnya mereka. maka tidak sedikit dari mereka yang sering disakiti perasaannya.

    BalasHapus
  3. Ass, pue haba syedara long yang na disinan????
    Saleum meuturi.... :D

    BalasHapus
  4. MOHON MAAF sebelumnya..
    Cuman mau kasih info tentang cara baru isi ulang pulsa hp yang jauh LEBIH PRAKTIS (so qt ngga repot2 lagi datang ke counter pulsa)

    ..EN THEN..
    HARGA JAUH LEBIH MURAH (dibandingkan yang dijual di counter)

    ..PLUS..
    Bonus Pulsa Gratis Rp. 25.000/ setiap hari lho...

    info lebih lengkap dapat dilihat di :
    HTTP://WWW.PRIMAMITRA.BLOGSPOT.COM

    BalasHapus
  5. MOHON MAAF sebelumnya..
    Cuman mau kasih info tentang cara baru isi ulang pulsa hp yang jauh LEBIH PRAKTIS (so qt ngga repot2 lagi datang ke counter pulsa)

    ..EN THEN..
    HARGA JAUH LEBIH MURAH (dibandingkan yang dijual di counter)

    ..PLUS..
    Bonus Pulsa Gratis Rp. 25.000/ setiap hari lho...

    info lebih lengkap dapat dilihat di :
    HTTP://WWW.PRIMAMITRA.BLOGSPOT.COM

    BalasHapus
  6. @ fahrisal akbar, haba get sabe hinoe, saleum meuturi sit...mudah-mudahan na pertukaran info melalui blog to blog hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id  Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone , tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini. Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop. Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini? Berprofesi sebagai jurnalis