Langsung ke konten utama

Bangkai

Bangkai

Oleh : Ihan Sunrise

Entah sejak kapan aku mulai tak lagi merasakan kenyamanan di rumah ini. Mungkin sejak aroma-aroma aneh itu muncul di rumah kami. Aku tak ingat kapan persisnya. Tapi seingatku, sejak setahun lalu pohon Seulanga yang kutanam di depan rumah kami tak lagi mengeluarkan bau harum. Biasanya wanginya yang khas pelan-pelan akan masuk ke kamar tidur kami. Melalui jendela kecil yang sering kami biarkan terbuka.

Lalu melati-melati kecil yang kutanam di halaman belakang, entah sejak kapan pula tak lagi mau berbunga. Padahal dulu bunganya tak pernah putus. Bila angin berhembus maka wanginya yang menenangkan akan masuk ke dalam rumah kami. Memberikan ketenangan dan kedamaian bagi seisi rumah. Terutama aku, karena akulah yang paling sering menghabiskan waktu di rumah. Aku bahkan tak memerlukan pengharum ruangan untuk membuat rumah kami menjadi wangi.

Seiring dengan itu sering hadir bau-bau aneh yang kadang begitu menyengat. Mengaduk-ngaduk perut hingga membuatku hampir muntah. Rasa mual yang tak terkalahkan kadang-kadang membuatku nyaris seperti orang kesurupan. Menjelajahi setiap jengkal rumah ini, barangkali ada bangkai tikus ataupun kucing yang mati.

Kolong-kolong tempat tidur, di bawah sofa, di bawah lemari, bahkan ke loteng aku memanjat. Tetapi kemudian aku menyerah. Sebab bangkai yang kumaksud tak kutemukan. Dan lagi, kami tidak pernah memelihara kucing, dan rumah ini tidak pernah ada tikusnya.

Tapi dari mana munculnya aroma-aroma aneh itu? Kadang-kadang seperti bau bangkai yang bisa memutuskan bulu hidung. Kadang-kadang seperti bau amis seperti di pasar ikan. Kadang-kadang seperti bau sampah busuk.

Hidungku menjadi lebih peka sekarang. Begitu aroma-aroma tak sedap itu muncul aku langsung mengetahuinya. Anehnya, yang lain seperti tak menyadari perubahan ini. Suami dan anak-anakku tidak pernah mengeluhkan masalah ini. Pembantu di rumah kami juga tidak. Makanya mereka selalu mentertawakanku bila aku mulai membicarakan tentang bau bangkai yang kerap muncul begitu saja.

“Mungkin di rumah kita tumbuh bunga Bangkai, Ma” kata suamiku suatu hari saat aku menyampaikan keluhanku. Aku tahu dia meledekku, sebab bunga Bangkai itu memang tidak pernah tumbuh di rumah kami.

“Mungkin. Tapi kalau memang di rumah kita tumbuh bunga Bangkai, mengapa bau tak sedap itu cuma ada di dalam rumah? Begitu ke luar baunya sudah tidaka ada lagi.” Jawabku dingin.

Suamiku hanya tertawa, begitu juga anak-anakku. Aneh. Mereka seperti tidak mencium bau apapun, padahal saat ini bau bangkai itu begitu menyengat. Mengaduk-ngaduk perutku. Mengusik indra penciumanku. Dan aku hampir muntah. Selera makanku hilang.

Dan entah mengapa, malam ini aku tidak bisa tidur. Padahal rasa kantuk sudah begitu kuat menyerang ke dua mataku. Tetapi setiap kali aku berusaha memejamkan mata yang terjadi malah sebaliknya. Mata ini kian terbelalak.

Sementara itu bau bangkai yang tadinya hanya muncul sesekali sekarang menjadi begitu sangat kuat. Rasa-rasanya seperti ada kucing mati di bawah tempat tidur kami. Tahulah aku sekarang mengapa aku tak bisa tidur. Bau bangkai itu.

Aku mengendus-ngendus seperti kucing yang hendak memangsa tikus. Aku turun dan mengambil senter. Lalu kuarahkan ke kolong tempat tidur. Semuanya bersih. Tidak ada satu bendapun di sana. Aku menjadi kesal. Sebab aroma itu semakin kuat menusuk-nusuk saraf hidungku.

Aku kembali mengendus. Dengan mata tertutup kuarahkan moncongku untuk mencari sumber muasal bau bangkai itu. Dan betapa kagetnya aku begitu hidungku hampir menyentuh dahi suamiku yang sedang tertidur pulas. Sumber bau bangkai itu ada di sana. Aku menciumi seluruh tubuhnya. Mulai dari kepala hingga ujung kaki. Masya Allah! Baunya begitu dahsyat. Bahkan nafasnyapun mengeluarkan bau busuk.

Di kamar mandi aku mengeluarkan semua isi perut. Dengan kepala pening terhuyung-huyung seperti perempuan hamil muda. Aku menuju ke tempat tidur untuk kembali beristirahat. Dan lagi-lagi aku gagal. Tubuh suamiku bau bangkai.

Dan entah sejak kapan aku mulai tak lagi merasakan ketentraman di rumah ini. Pertengkaran makin sering terjadi. Semuanya dipicu oleh bau bangkai yang makin kerap muncul di rumah kami. Anehnya, hanya aku yang merasakannya.

Orang-orang di rumah mulai menganggapku aneh. Suamiku lebih sering menjauhiku, anak-anakku mulai jarang berbicara denganku. Pembantuku juga, ia lebih memilih untuk tak banyak berurusan denganku. Mungkin mereka pikir aku sudah gila. Tapi bau bangkai itu memang benar adanya.

Aku memandangi tanaman melatiku yang subur tanpa bunga, beribu tanda tanya menggalau dalam hati. Melati-melati ini tidak lagi berbunga sejak bau bangkai itu hadir di rumah kami. Dan itu berarti sekitar dua tahun lalu. Dan itu berarti sejak suamiku menjadi anggota parlemen di ibu kota Provinsi.

Aku mulai merunut. Sejak saat itu suamiku menjadi orang paling sibuk di rumah ini. Setiap hari waktunya hanya habis untuk rapat demi rapat. Bahkan malam haripun ia lebih sering menghabiskan waktunya di luar rumah, bersama teman-teman se parlemennya. Untuk rakyat, begitu selalu kilahnya ketika aku tanya ke mana.

“Pergilah usai magrib Bang, kita sholat berjamaah dulu.” Kataku suatu hari ketika kulihat suamiku sudah berkemas. Bajunya sudah rapi. Rambutnya disisir klimis. Badannya sudah wangi.

“Tidak bisa, sudah telat. Rapatnya dimulai jam tujuh.” Kilahnya cepat sambil meraih handphonenya di meja.

“Abang tidak sholat?”

“Kan bisa di qadha nanti.” Jawabnya santai.

“Apa? Mana bisa. Memangnya abang musafir.” Jawabku tak senang. Ah, sejak kapan suamiku mulai alpa pada jadwal sholatnya? Kemarin saat aku tanya mengapa ia tidak sholat asar dia bilang sudah dijamak ketika zuhur. Sejak kapan ia mulai menggampang-gampangkan kewajiban.

“Pergi dulu ya. Sudah telat.” Katanya terburu-buru.

“Bang !”

Percuma. Suamiku sudah menghilang di balik pintu. Beberapa menit kemudian kudengar suara mobilnya melesat pergi. Ada nyeri di ulu hatiku. Nyeri yang tidak bisa aku katakan.

“Untuk apa abang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Bukannya aku tidak setuju, aku tahu abang punya potensi, tapi kalau sekedar untuk gaya-gayaan ya buat apa.” Kataku beberapa tahun yang lalu saat suamiku mengutarakan niatnya ingin menjadi anggota legislatif.

“Gaya-gayaan bagaimana?” Dia agak tersinggung rupanya. Aku diam saja.

“Kalau alasannya ingin membantu orang banyak kan tidak mesti dengan menjadi anggota dewan Bang. Dengan kehidupan kita sekarang juga bisa kok. Apalagi yang mau kita cari? Ketenaran? Materi? Untuk apa?”

“Bukan itu Ma, lembaga itu butuh orang-orang muda seperti kita, yang energik, punya ide-ide kreatif, visi dan misi yang jelas. Dengan begitu keinginan kita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat menjadi lebih baik akan mudah diwujudkan.”

Aku tak banyak berdebat. Yang kutahu selanjutnya suamiku tetap melanjutkan niatnya. Bagaimana prosesnya akupun tidak tahu persis.

“Aku cuma khawatir abang berubah setelah menjadi anggota legislatif nanti.” Akhirnya aku menyampaikan isi hatiku yang sebenarnya. Dia hanya tertawa..

Ya, setelah itu. Setelah dia terpilih menjadi anggota legislatif aku mulai merasakan kelainan di rumah ini. Kebekuan mulai menjalar pada setiap penghuninya. Tak ada lagi keriuhan apalagi canda tawa di pagi Minggu. Kehangatan yang dulu terjalin menjadi cair dan mungkin sebentar lagi akan menghilang. Tidak ada lagi sholat berjamaah, tidak ada lagi acara makan malam bersama.

Suamiku menjadi orang paling sibuk di dunia ini. Rapat demi rapat. Agenda demi agenda. Proyek demi proyek. Ah, proyeknya semakin banyak saja.

Dan pagi ini, aku mendapati bangkai babi di bawah tempat tidur kami. Sementara suamiku meringkuk di atasnya. Persis di atas bangkai babi itu.

02:50 am

08 Nov 2009, on Sunday

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…