Langsung ke konten utama

Menangislah, Di sini

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari air mata yang tumpah. Kau lihat air terjun itu? Jatuhnya seperti air matamu, dan tebingnya adalah kelopak mata. Tempat air berkumpul. Bukankah menyenangkan bagi orang-orang yang merasakan sejuknya? Membuat damai telinga yang mendengar gemericiknya. Menenangkan bagi yang menikmati tetesnya. Kabutnya melenakan pandangan. Juga jiwa.

Jangan khwatir, sebab hidup diawali dengan air mata dan diakhiri dengan air mata pula. Kau ingat cerita bayi yang baru lahir dan seorang tua yang melepaskan nafas terakhirnya? Semuanya mengundang tangis. Melelehkan air mata. Seperti yang pernah kuceritakan kepadamu. Tapi, kehidupan tak pernah berhenti sampai di situ.

Air mata bukanlah simbol kelemahan. Bukan pula pertanda atas ketidak berartian. Apalagi perlambang kesialan seperti yang banyak diartikan orang-orang. Mereka-mereka itu tidak pandai bersyukur. Sedang kau, aku tahu kau bukan seperti mereka. Menangislah, sebab air matamu adalah terjun yang damaikan semua orang. Terutama aku. Tangismu adalah keikhlasan. Sendumu adalah sumber kekuatan. Maka menangislah. Karena di sana aku dapatkan kehidupan yang sempurna.

Seperti sungai-sungai yang bermuara ke laut. Semuanya berasal dari air yang di keluarkan kelopak gunung bertebing. Bumi-bumi yang selalu lembab akan kasih sayang. Maka akulah yang paling merindukan semua itu. Air matamu. Maka menangislah, di sini, di pangkuanku. Dan aku akan menjadi orang yang paling beruntung. Sebab kamu hanya akan menangisi orang-orang yang paling kau cintai. Selain ayahmu, tentu saja aku lelaki itu. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id  Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone , tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini. Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop. Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini? Berprofesi sebagai jurnalis