Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2010

Inisial Terakhir*)

oleh; Ihan Sunrise Hatiku diliputi kesenangan maha dahsyat. Untuk yang kedua kalinya. Pertama ketika aku mengenalmu sepuluh tahun silam. Saat umurku baru menjelang 20 tahun. Dan sekarang, ketika aku kembali menjumpaimu di tempat ini, di kotamu. Tadinya kupikir itu bukan kamu. Skemata-ku hampir tak berfungsi sempurna. Itu gara-gara tubuhmu yang menyusut. Tidak gemuk seperti dulu. Dan rambutmu yang mulai terlihat memutih di beberapa bagian. Tapi kau masih gagah seperti dulu. Dari jauh aku memandangmu yang sedang khusyuk membaca sesuatu. Lalu kuputuskan untuk mendekat dan menyapa. “Tidak menyangka kembali bertemu denganmu, di sini.” Ah, harusnya aku tidak menyebutmu dengan “kamu”. Tapi menggantinya dengan “Bapak” atau “Om”. Tapi setahuku kau tidak pernah keberatan sekalipun aku memanggilmu dengan nama saja, Zal! Kau menoleh. Dan aku menikmati keterkejutanmu. Mungkin kau tidak menduga Tuhan mempertemukan kita kembali di sini, di kotamu. Atau kau pura-p

Matahari yang terbit di Sabang

Oleh : Ihan Sunrise “Sebentar lagi aku datang. Sekarang masih di Salon. Creambath .” Balasnya melalui layanan short massage service ketika aku memberi tahu bahwa aku telah berada di sebuah kafe tempat kami janji bertemu siang ini. “Ok.” Balasku singkat. “Sebentar lagi ia datang.” Kataku pada Nita. Seseorang yang hampir sepuluh tahun lamanya bersamaku. Si phlegmatis yang damai tanpa ekspresi. Si pendengar setia dan jarang menyukai perdebatan. Mungkin itu pula yang membuat kami menjadi nyaman satu sama lainnya dan bertahan selama ini. Namun kadang-kadang membuatku ingin menggigit kepalaku sendiri saking damainya dia. “Siapa?” tanyanya. “Seseorang yang pernah kuceritakan kepadamu.” Kataku antusias. “Oh, yang dari Sabang?” “Iya.” “Sekarang masih di mana?” “Di salon Lincha. Di dekat Mie Razali. Di mana itu? Di Seutui ya?” Tanyaku pada Nita yang sedang menekan-nekan tombol keyboar d laptopnya. “Bukan. Di Peunayong.” Jawab Nita sambil tertawa. “Oh...” Aku ny

Pasang dan Surut

ombak @detik.com Dan yang paling kuingat malam itu adalah ketika kau memintaku untuk menunggumu di kota ini. Saat itu aku tengah menikmati gurihnya jagung bakar yang dijajakan di setiap pinggir jalan menuju pelabuhan di sudut kota ini. Bersama seorang teman. Dengan angin yang menampar-nampar pipi dan mempermainkan anak rambut. Dan entah mengapa, pembicaraan selanjutnya adalah tentangmu menjadi begitu menyenangkan dan riang.  Tapi aku tahu diriku sedang tidak di situ. Terbang bermil-mil jauhnya membelah jarak. Aku berada dalam palung jiwamu yang paling dalam. Bahkan detak jantungmu ketika itu dapat kurasakan begitu kencangnya. Ketika kau mengatakan “tunggu hingga aku datang”.

Puisi Bulan November

Ijinkan Ijinkan aku menyudahi dengan caraku Cara paling sederhana yang tidak melukakan hati Cara paling manjur tanpa menumpahkan air mata Ijinkan aku menyudahi dengan caraku Cara paling murah yang tidak lahirkan kebencian Apalagi dendam kesumat dan sumpah serapah karena sakit hati Caraku cara jitu Menyudahi dengan terus mencintai Yang aku yakin, Kaupun tidak bisa melakukannya Maaf Sepertinya bulan akan sabit dalam waktu yang lama Selama itu pula sebagian bintang akan kehilangan cahaya Dan kita, mungkin akan bersembunyi di separuhnya yang lain Sambil terus mencari-cari Di mana saklar yang akan mengembalikan cahaya-cahaya itu Lalu entah siapa berteriak di sana Saklar itu di hati kalian! Dan kita tetap mencari-cari 23:53 pm 01-11-09

Anda dan Buku

Bagi saya buku bukanlah sesuatu yang menakutkan. Sebagai seseorang yang menyukai dunia tulis menulis membaca buku merupakan sebuah keharusan. Atau paling tidak jangan menaruh kebencian berlebih terhadap jendela dunia tersebut. Pusat informasi termurah yang paling efektif. Mudah di dapat dan efisien. Segala hal yang sulit terjangkau secara kasat mata akan dengan mudah kita dapatkan dari sebuah buku. Lalu hasil dari apa yang kita baca tersebut akan masuk ke otak kita dan memacu otak untuk berfikir. Nah, proses berkepanjangan itulah yang nantinya baik secara sadar maupun tidak akan mempengaruhi sikap dan prilaku seseorang. Karena apa yang kita lihat, kita dengar dan kita ikuti secara perlahan-lahan akan masuk ke alam bawah sadar kita. Itulah yang menyebabkan pola hidup dan kebiasaan seseorang menjadi berbeda satu sama lainnya. Dan uniknya, hanya pola kebiasaan inilah yang akan mempengaruhi kehidupan seseorang secara signifikan. Maka menarik sekali ketika ada seorang mitra b

Di Kotamu*

Di kotamu Menjejakkan kaki di kotamu, Cinta Adalah proses menggali dan mengubur sejarah Pentasbihan diri atas harapan dan keinginan Menjejakkan kaki di tanahmu, Cinta Adalah mengikrarkan kembali kesaksian Untuk terus menyetiai waktu dan keabadian Menjejakkan hasrat di tubuhmu, Cinta Adalah pergumulah rasa Pertengkaran imajinasi Perseteruan kerinduan Menjejakkan hidup di Nafasmu, Cinta Adalah untuk selamanya mencintai Medan, 12-12-09 Sapa Aku selalu menyapa Meski setelah itu diam adalah pilihan Bagi aku dan kamu; bagi kita Dan itu kulakukan saban hari Kapan saja aku melihatmu ada di ruang ini Ketika aku menyadari Ritual ini telah bertahun-tahun lalu terjadi Tetapi kau masih juga tanya Mengapa tak ada sapa untukmu? Harusnya aku yang bertanya Mengapa tak ada jawab setelah ada sapa? 23:53 pm 01-11-09 * Puisi ini telah dimu

Bahasa Kasih

Ilustrasi Saya sering mendengar kisah tentang perkawinan yang mengerikan, rumah tangga yang hampir rubuh, kehangatan dan kasih sayang yang menguap seperti embun begitu sinar mentari datang. Istri atau suami yang mulai mengabaikan hak dan kewajibannya. Anak yang tumbuh dan berkembang di luar kewajaran yang diharapkan oleh orang tua maupun lingkungannya. Kisah-kisah itu menjadi demikin menyeramkan tatkala segudang permasalahan itu ditambah dengan kekerasan fisik yang mulai timbul seiring dengan berkembangnya masalah yang terjadi. Memang kadang begitu sepele tetapi kadangkala kesepelean itu membawa pada kerumitan yang begitu kompleks. Saya merasa ngeri dengan kondisi itu, kadang sampai terfikirkan untuk tidak ingin melewati fase tersebut dalam kehidupan saya. Namun, akal sehat saya mengingatkan bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dipenuhi tanpa melalui fase tersebut seperti proses regenerasi umat manusia. Artinya, menikah dan membangun rumah tangga merupakan sesuatu yang meman