Langsung ke konten utama

Pasang dan Surut



ombak @detik.com

Dan yang paling kuingat malam itu adalah ketika kau memintaku untuk menunggumu di kota ini. Saat itu aku tengah menikmati gurihnya jagung bakar yang dijajakan di setiap pinggir jalan menuju pelabuhan di sudut kota ini. Bersama seorang teman. Dengan angin yang menampar-nampar pipi dan mempermainkan anak rambut. Dan entah mengapa, pembicaraan selanjutnya adalah tentangmu menjadi begitu menyenangkan dan riang. 

Tapi aku tahu diriku sedang tidak di situ. Terbang bermil-mil jauhnya membelah jarak. Aku berada dalam palung jiwamu yang paling dalam. Bahkan detak jantungmu ketika itu dapat kurasakan begitu kencangnya. Ketika kau mengatakan “tunggu hingga aku datang”.


Dan yang aku lupa adalah kapan kau mengucapkan kalimat itu. karena yang aku tahu sejak saat itu aku selalu menantimu di tepi pantai kota ini. Tempat ombak berdebur memecah kesenyapan. Tempat pasang dan surut bertemu untuk mengatakan selamat datang sekaligus selamat tinggal. Mungkin akulah pasang dan kaulah surut atau sebaliknya. Kaulah yang menjadi pasang dan aku yang harus surut.

Pasang dan surut yang dipertemukan takdir dalam keadaan yang sama. Sama-sama membutuhkan. Sama-sama saling merindui. Sama-sama saling menginginkan. Untuk memeluk. Untuk menghilangkan semua rasa. Untuk mendengar detak jantuk. Perjalanan nadi dan gelembung nafas di urat leher kita.

Tapi kita adalah pasang dan surut. Yang ditakdirkan Tuhan untuk terus bersama tetapi tak pernah hidup dalam kebersamaan. Kau mengerti maksudku bukan? Itulah kita, aku dan kamu

Aku yang mulai mencintai lautan. Sebab pasang dan surut bertemu di laut. Meski dalam rentang waktu yang berbeda. Di samudera. Di teluk. Di selat. Maka engkau adalah selat paling dalam untuk dicintai. Matamu adalah samudera paling luas yang ingin aku selami. Dan hatimu adalah teluk paling lebar yang ingin aku bentangkan rindu di atasnya. Untuk kujelajahi.

Maka di sini aku tetap menunggu. Untuk meresonansi semua perumpamaan itu. dan, bacalah dengan sangat pelan. Jangan tergesa-gesa. Sekali ini saja. Sebab aku ingin kembali merasakan nafasmu mengalir di tubuhku. Seperti aliran listrik yang membuatku mengejang. Ketika alirannya menyatu dengan darahku.
Maka hari-hari, adalah saat-saat mengumpulkan harapan. Memupuk keinginan untuk menjadi kenyataan. Suatu hari nanti. Dan jika itu terjadi, percayalah tak ada yang paling bahagia diantara kita. Tidak akan ada tawa yang berderai. Bahkan mungkin kita hanya akan tersenyum simpul. Untuk sekedar menjelingkan mata. Tapi ketika itu kita telah menyelesaikan semua apa yang perlu diselesaikan. Kita telah menunaikan apa yang harus ditunaikan.

Dan bila aku tak pernah berhenti menunggu yakinlah semua itu karena sebab-sebab bertahun-tahun ini. Kesetian yang terbangun hanya akibat dari rasa percaya yang terbentuk. Tapi kesetiaan itu letaknya di hati. sikap yang menterjemahkan semuanya. Ketika jiwa kita benar-benar menyatu. Sekalipun dengan tubuh yang bercerai berai. Tapi sekali lagi, kesetiaan itu dibangun dari hati, dikokohkan oleh jiwa, dengan cinta, dengan rindu dan sayang, dengan hasrat dan harapan.

Dan aku akan belajar untuk mencintai lautan. Dan aku akan belajar untuk mencintai kota itu. dan aku akan mengambil sesuatu dari kota itu. untuk kujadikan prasasti. Mungkin sesuatu yang pernah kujanjikan dahulu. Sesuatu yang akan menjadi nyata sesegera mungkin.

22:25 pm
27 Jan. 10

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.