Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2010

Di ambang pintu

Melihatmu berdiri di ambang pintu, menjelang malam, sekilas kau melempar senyum ketika mata kita saling bertemu. Memakai baju motif kotak-kotak, dipadu celana jeans, kau terlihat muda dan energik sekalipun usiamu tak lagi cukup muda. Apalagi dengan potongan rambutmu yang pendek sehingga telingamu kentara terlihat.

Aku masih tersenyum, ketika kulihat seseorang turun dari mobil lalu menuju ke arahmu, mataku mencari-cari manik matamu untuk menanyakan sesuatu. "Diakah?" tanyaku dengan pandangan mata memberi isyarat. Kau tersenyum pertanda iya. "Benar", aku yakin itulah jawaban yang kau beri ketika itu sekiranya kita dekat. Sayang, aku hanya dapat melihatnya sebentar saja, sebab senja semakin gelap dan aku harus segera pulang.

Aku kembali tersenyum ketika hampir satu jam kemudian melewati rumahmu. Tapi kali ini sedikit rasa satir dan getir. Pintu rumahmu kulihat terbuka, menganga, tapi kalian sama sekali tak mampu kutangkap bayangnya. Ah...mungkin saja kalian sedang asyi…

Laut*

Laut!

Oleh: Ihan Sunrise

Angin selalu bertiup seperti ini. Dingin. Beku. Sepoi yang kirimkan sendu dan kemirisan. Leguhan kesakitan yang tak pernah usai.

Tatkala mataku tertahan pada kerlip lampu nelayan di tengah lautan, akumulasi kesedihan dan kemarahan mengorgasme dalam jiwa. Pemberontakan yang tak pernah menemukan jalan keluar. Sebab bunda selalu bisu. Bungkam atas setiap tanya yang kulontarkan. Mulutnya terkunci. Mungkin juga pikirannya.

Maka aku merasa tak lebih hidup sebagai pecundang yang sarat keraguan. Imajinasi yang terus menerus tersekat perasaan. Aku tak bisa berkhayal dengan sempurna. Hidupku tak bergradasi.

Tiap kali kudapati bundaku mematung di ambang pintu, maka setiap kali pula resah menggelantung dalam benakku. Tanda Tanya besar menggelinjang-gelinjang dalam pikiran. Apakah yang disaksikan bunda saban hari dari ambang pintu itu? Tak pernah kutemukan jawabannya selain diam-diam kulihat ia menyeka air matanya.

Lain waktu, aku berdiri di tempat yang sama. Membuang jauh…

Pertemuan dalam ruang Imaji

Aku takjub! Tidak. Bukan. Tepatnya heran. Sebab baru kemarin aku berfikir tentang kalian. Menempuh perjalanan sejauh lima puluh kilometer aku sengaja mengatup mata agar kalian bisa hadir bersamaan dalam ruang imajiku. Dan benar saja, kalian hadir begitu memikat, nyaris sempurna. Dan aku merasa senang, juga rasa puas yang begitu besar. Sebab aku bisa pertemukan kalian, walau hanya di ruang imaji yang terbatas.
Takdir berperan besar terhadap perkenalan kita, tentu juga perkenalan antara kau dan dia. Dan kedekatan yang tercipta di antara kita seratus persen aku yakin karena ruang gelisah yang kita punyai mempunyai panjang dan diameter yang sama. Pendeknya, kita bisa bertukar kenyamanan sehingga kita merasa cocok dan bisa bersahabat. Tentu itu tidak mudah bukan mengingat masing-masing kita adalah pribadi yang tertutup.

Tetapi kedekatanmu dengannya, aku yakin karena ikatan kimia yang lain, bukan untuk bertukar kegelisahan, bukan untuk bertukar kekhawatiran, tapi hanya tempat untuk mengekspl…