Langsung ke konten utama

Laut*

Laut!

Oleh: Ihan Sunrise

Angin selalu bertiup seperti ini. Dingin. Beku. Sepoi yang kirimkan sendu dan kemirisan. Leguhan kesakitan yang tak pernah usai.

Tatkala mataku tertahan pada kerlip lampu nelayan di tengah lautan, akumulasi kesedihan dan kemarahan mengorgasme dalam jiwa. Pemberontakan yang tak pernah menemukan jalan keluar. Sebab bunda selalu bisu. Bungkam atas setiap tanya yang kulontarkan. Mulutnya terkunci. Mungkin juga pikirannya.

Maka aku merasa tak lebih hidup sebagai pecundang yang sarat keraguan. Imajinasi yang terus menerus tersekat perasaan. Aku tak bisa berkhayal dengan sempurna. Hidupku tak bergradasi.

Tiap kali kudapati bundaku mematung di ambang pintu, maka setiap kali pula resah menggelantung dalam benakku. Tanda Tanya besar menggelinjang-gelinjang dalam pikiran. Apakah yang disaksikan bunda saban hari dari ambang pintu itu? Tak pernah kutemukan jawabannya selain diam-diam kulihat ia menyeka air matanya.

Lain waktu, aku berdiri di tempat yang sama. Membuang jauh pandanganku ke tengah laut. Tidak ada apa-apa. Sejak belasan tahun yang lalu hanya itu-itu saja yang kudapati. Gundukan pulau-pulau di seberang sana. Apakah itu yang selalu menarik perhatian bunda?

Bila pada akhirnya aku harus menitikkan air mata bukanlah karena rasa sedih dan kecewa, tetapi karena kemuncak kekesalan yang terjadi atas semua ini.

Dan kegalauan itu begitu memuncak ketika kudapati wajah bunda dibalut kemendungan yang muram. Matanya sembab dan tatapannya begitu pias. Mukanya pucat seperti mayat. Tangannya sedikit bergetar, mungkin campuran rasa takut entah dengan apa. Ia bahkan tak berani memandangku yang tak bergerak di hadapannya.

“Laut.” Katanya sepatah.

Lalu ia kembali diam. Aku menunggu. Apalagi yang akan diceritakan bunda tentang laut.

Laut. Sesuatu yang tak asing lagi bagiku. Ketika lahir, bahkan sebelum mendengar suara azan aku sudah mendengar deburannya. Sebelum bunda memberiku makanan nasi bercampur pisang aku sudah lebih dulu mengecap asinnya air laut. Laut adalah hidupku. Jiwaku. Rasanya tak ada yang tidak kuketahui tentang lautan.

“Laut adalah…” lanjut bunda terbata.

“Laut adalah apa bunda?” sergahku tak sabar.

Kali ini kudapati air mata mulai menggenang di matanya yang bulat. Aku tak sampai hati karena telah memaksanya berbicara. Harusnya kubiarkan saja bunda dengan diamnya tadi.

“Laut adalah ayahmu.”

“Ayah?” mataku membulat.

***

Ayah. Adalah kata yang selalu membuatku tersekat. Yang mendindingi alam hayalku. Yang menggunting imajinasiku. Yang selalu membuatku berhenti setiap kali berfikir tentang kelengkapan sebuah keluarga. Yang selalu membuatku menangis diam-diam ketika memikirkannya. Yang sering membuatku berbeda dengan teman-teman sepermainan.

Seperti apa ayah? Lelakikah atau perempuan? Pertanyaan bodoh yang kerap menghinggapi pikiran masa kanakku. Dan juga tatapan kosong ibu yang selalu kuingat setiap kali aku merengek-rengek minta diceritakan tentang ayah.

Ah…ternyata begini rasanya mempunyai ayah. Senang. Bahagia. Takjub. Lega.

“Laut adalah jelmaan ayahmu, Mala.” Kata bunda kemarin pagi.

Maka kubiarkan tubuhku dipeluk ayah. Basahnya yang hangat masuk hingga ke pori terdalamku. Rambutku dipenuhi sisik-sisik pasir yang mistis. Maka kubiarkan saja semuanya. Aku pasrah dalam kerinduan yang panjang dan melelahkan selama ini. Kubiarkan jilatan ombak bergantian menerpa tubuhku. “Karena ayah sedang memelukku dengan kasihnya.”

“Apakah ayah berasal dari pulau yang selalu bunda pandang dari ambang pintu rumah kita?” tanyaku menyelidik melawan kegusaran. Bunda mengangguk. Pelan.

Seperti inikah senangnya ketika dulu bunda bertemu dengan ayah? Mereka yang bertemu dan berpisah di lautan. Ayah yang begitu mencintai laut, setengah hidupnya adalah gemuruh lautan, setengah jiwanya adalah debur ombak. Laut adalah pengasuh sejatinya. Maka ia relakan laut menjadi saksi bagi pernikahan jiwa mereka yang tak pernah terputuskan. Ayah dan bundaku. Pun ketika laut menenggelamkan jasadnya. Bunda tak marah. “Laut adalah reinkarnasi setelah kematianku. Datanglah kapan saja kau mau untuk melepas kerinduanmu.” Begitu dulu ayah pernah berpesan kepada bunda.

Mengertilah aku sekarang, mengapa bunda rutin mengunjungi lautan. Karena ayah selalu menantinya di sana dengan penuh cinta. Mereka begitu mesra, berdialog, mereka basah bersama deburan ombak, mereka larut dan kilauan pasir putih yang suci. Mereka bercinta dengan cara yang hanya mereka sendiri yang bisa memaknainya.

Barulah aku mengerti ternyata prosesi itu adalah pengulangan kesakralan cinta mereka. Hingga lahirlah aku. Jilatan buih-buihnya yang pecah kini kupahami bukan sekedar buih pantai yang tak berarti. Tapi buih yang lain. Buih cinta yang ke luar dalam jasad mereka.

“Maka temuilah ayahmu Mala. Perkenalkan dirimu.”

Kuturuti kata bunda tanpa sepotongpun bantahan. Pertemuan ini adalah penantian panjang belasan tahun. Maka aku tak ingin menundanya barang sedetikpun.

Mengertilah aku kini mengapa bunda kerap marah acap kali aku memaki lautan. Atau ketika wajahku murung ketika menghadapi lelautan. Atau ketika aku membuang sesuatu yang tak berharga di atasnya. Mengertilah aku kini. Semuanya.

“Ayah, perkenalkan aku Mala. Anakmu yang lahir tanpa kau ketahui hadirnya dalam rahim bunda.”

Aku melihat ayah mengangguk. Tangannya menggapai-gapai melalui ombak menyentuh kulitku. Bibirnya tersenyum, menyusuti butiran pasir yang terkikis. Matanya berbinar, adalah pantulan cahaya yang membentuk kilauan-kilauan maha dahsyat. Di lautan.(*)


Ihan Sunrise
Bilik hati, 5 april 2010


* Cerpen ini sudah pernah dimuat di koran Harian Aceh, edisi Ahad, 09 mei 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…