Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Di Pintu Terakhir

AKU melongok ke luar jendela. Mataku liar menatap langit yang kelabu. Agaknya langit masih mengandung, mungkin sebentar lagi anak-anak hujan akan lahir dengan bobot berlebih. Aku masih menatap langit. Daun-daun bergoyang digoda kesiur angin. Lengang. Di cerobong masjid kudengar lantunan ayat suci dikumandangkan dengan merdu.

Jika bisa kujadikan sebagai ibarat, bolehlah kukatakan bahwa hari ini aku sedang berdiri di pintu terakhir. 364 pintu berkelir dua belas bulan telah kulalui dengan segala macam warna. Berawal di Januari dan berakhir di Desember yang saban hari basah dan lembab.

(Membunuh) Anak di Depan TV

DI hari Sabtu -karena tidak bekerja- saya sering memanfaatkan waktu untuk memasak, membaca buku/novel, menonton, dan tidur. Itu saya lakukan jika tidak ada kegiatan lain di luar rumah. Aktivitas pagi hari saya awali seperti biasa dengan bersih-bersih rumah. Setelah itu sembari menunggu jadwal masak saya manfaatkan untuk tidur-tiduran sambil menonton TV. Program favorit saya adalah saluran TVRI yang mengusung selogan Saluran Pemersatu Bangsa.
Sebelum mengenal saluran lain saya sudah mengenal TVRI sejak seperempat abad silam. Siarannya yang pernah menjadi favorit saya adalah Keluarga Cemara, Haryati, Combat dan telenovela Hati Yang Mendua. Nah, menonton TVRI di hari Sabtu adalah upaya saya untuk menghadirkan kenangan di masa lalu.

Pagi Itu, Sembilan Tahun Silam

PAGI itu, aku sedang mengaduk adonan agar-agar di tungku kayu. Asap dari kayu bakar tak hanya membuat mataku perih dan berair, tapi juga hidung jadi beleran. Abu bekas kayu bakar sebelumnya di sekitar tungku beterbangan. Percikannya menempel di bajuku.

Tak lama kemudian, kukira adonan di panci belum sempurna mendidih. Atap rumah yang terbuat dari daun rumbia tiba-tiba bergoyang. Tiang-tiang dapur yang berupa kayu (beroti) kecil berderik-derik. Goyangan yang semula hanya berupa hentakan berubah menjadi goncangan yang begitu hebat. Aku menancapkan kaki di lantai dapur yang sepenuhnya berupa tanah. Ujung-ujung kaki menancap kuat. Di atas tungku adonan bermuncratan dari dalam panci.

Setelah beberapa saat aku mendengar suara nenek dari luar rumah. Ia berteriak-teriak menyuruhku keluar. Ia khawatir rumah akan roboh karena guncangan yang demikian hebatnya. Aku menurut karena goncangannya memang sangat kuat. Hampir saja membuatku limbung.

Di luar kulihat nenek berdiri di halaman samping. Ia …

di Bulan (purnama?)

tak sengaja aku melihat bulan, belum sempurna penuh memang
(atau sudah?) tak begitu jelas
pandanganku terhalang bayang-bayang pohon
aku mencari-cari bayangmu di sana
tak ketemu memang
yang muncul justru kenangan
beribu-ribu kenangan
senyum, tawa, dan air mata
rindu, sesak dan melesak
aku mencari-cari sungai tempat biasa aku menepi
di hatimu, di rindu yang menggebu-gebu
di cinta, di yang tak terdefinisi
di kasih, di sayang, di yang tak terjemahkan

16 Dec 2013

Cinta adalah Omong Kosong

Kadang-kadang kita hanya perlu berbicara kepada angin, di pinggir pantai, di antara riuh gemuruh ombak. Berteriak, tersedu, mungkin juga tertawa. Angin seumpama rasa yang tak terbentuk, hanya dapat dirasakan. Gerakannya, kadang begitu anggun, kadang begitu liar. Membuat hati berdebar-debar. Merobek dan menyakiti.
Rasakah yang menyemai benih rindu kemudian tumbuh besar menjadi cinta?
Jika rasa itu angin, maka sah-sah saja menganggapnya semacam kamuflase, atau fatamorgana. Tak ada yang bisa diharapkan selain harapan itu sendiri, bahwa angin itu ada, bahwa rasa itu bukan utopia. Maka dengan itu kita bisa berdamai dengan diri sendiri. Meredakan amuk amarah, meluluhkan emosi. Membuat sadar bahwa rasa bukanlah sekotak surat yang dikirim tanpa alamat. Yang bisa diterima oleh siapa saja.

Di sini

di tempat ini harapan masih memiliki tempat walau pagi seringkali hanya disambut percikan air dan ikanikan yang berenang di kolam berlumut juga rumputrumput yang semakin tumbuh subur di perdu pohon mangga di perdu pohon kelengkeng di sekeliling pohon semangka yang tumbuh tanpa sengaja
di secangkir kopi kita kerap memandangi citacita di koran-koran lusuh yang diterbangkan angin di obrolan yang lebih banyak diwarnai diam lalu kita beranjak masuk ke ruangan masing-masing

Menunggu (mu)

Di ujung senja yang menjuntai aku masih menunggu. Bahwa sebentar lagi langit akan gelap, memang! Tapi gelap itu tidak akan mematikan harapanku untuk menunggu (mu). Justru gelap akan menuntunku pada pagi. Waktu di mana sinar mentari terburai dan aku bebas menyirami tubuhku dengan cahayanya. Waktu di mana burung-burung terbangun untuk berkicau. Lalu satu dua suaranya paling merdu tertangkap telingaku. Meski setelahnya aku masih belum menangkap merdu suaramu, tak apa. Selalu ada kisah manis di balik prosesi menunggu (mu) bukan? Menunggu (mu) adalah jeda bagi puisi untuk melahirkan narasi. Hingga akhirnya kau datang bersama kesiur angin dan setitik embun.

Yuk, (menolak) seks bebas!

Kemarin pagi saat sarapan saya sempat-sempatkan duduk di depan TV, padahal udah nyadar bakal telat sampai di tempat kerja. Kebetulan sepupu saya lagi nonton chanel RCTI, pagi-pagi begitu apa lagi kalau bukan DahSyat yang jadi pilihannya. Tapi ada yang menarik perhatian saya pagi kemarin, selain hostnya yang lebih banyak dari biasa, juga pita merah yang dipakai oleh masing-masing host tersebut. Juga para penonton yang memenuhi studio DahSyat.

Saya tanya ke sepupu kenapa sih mereka itu pada pakai pita warna merah begitu? Sayangnya adik sepupu saya juga ngga tahu. Nonton ya nonton aja dia. Baru ngeh ada pita-pitaan setelah saya nanya. Beberapa saat kemudian barulah saya tahu kalau mereka sedang memperingati Hari HIV/AIDS sedunia yang jatuh pada Minggu, 1 Desember 2013 kemarin.

Selesai sarapan saya pun langsung cabut berangkat kerja. Di tempat kerja, setelah cek email dan menyiapkan beberapa bahan pekerjaan saya cek timeline di facebook. Beberapa jam kemudian muncul notifikasi dari salah…

Perih karena cinta

Dan benar,
Perih itu rasanya sangat tipis sekali
Bagai silet yang menyayat dan breetttttt
Tiba-tiba sudah putus nadinya

Tapi perih oleh cinta ini rasanya lebih tersayat dari sayatan silet
Bukan, ini bukan soal cintaku yang tak terperi
Ini oleh cinta mereka yang tidak kukenal
Yang kubaca hanya lewat tulisan demi tulisan
Tapi perihnya sampai ke hatiku

Puisi Persada

Senja sudah menggantung di pucuk waktu
Aku di sini masih sibuk mengumpulkan suara-suara angin
Jika jumlahnya cukup akan segera kurangkai menjadi simfoni untukmu Liana
Dengannya kau bisa menyetel harmoni
Mengiramakan detak jantung
Mengatur ritme denyut nadi
Bahkan adrenalin


Senja masih menggantung di pucuk waktu
Matahari kian memerah, sebentar lagi sempurna ia mengatup
Aku masih di sini, masih memilin suara-suara
Sebentar lagi akan menjadi irama lagu happy birthday untukmu


Aku juga akan mengumpulkan bunga-bunga rumput
Kutiup rasa paling dalam dari diriku agar bunga-bunga itu semerbak
Kupercikkan rindu paling dalam agar bunga-bunga itu beraneka warna
Kupercikkan harapan paling harap agar bunga-bunga itu terus hidup
Di hatimu
Di ingatanmu
Di kalbumu
Di hidupmu


Ah, Liana, senja telah tiba
Tajamkan telingamu, dengarlah denting paling harmoni ini
Buka tanganmu, genggam bunga ini
Buka hatimu, terimalah sebagai sebuah ketulusan


Lihat mataku, dan juga gerak bibirku
Aku sedang mengatakan selamat ulang tahun kepadamu
*…

Iklan Gita dan Caleg Facebook

Pemilu 2014 masih lama. Kita juga masih hidup di tahun 2013. Tapi, maaf, bau 'amis' politik mulai tercium. Ada yang samar-samar, hanya tercium jika ada 'angin' yang membawanya. Ada pula yang terang benderang, seterang lampu petromak di malam gulita. Tak heran jika semua mata tertuju ke lampu atau sumber bau 'amis' itu. 
Beberapa hari ini ada yang berbeda jika saya membuka halaman Kompasiana. Yaitu wajah pak Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan yang tiba-tiba ngablag begitu besarnya hingga bikin kaget. Untung saja cuma foto, kalau beneran orangnya pasti sudah pingsan karena terpesona :-D. 
Wajah besar pak menteri pelan-pelan akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa detik. Jika tak sabaran menunggu sampai hilang sendiri, jangan ragu untuk tekan tanda skipp di pojok kiri atas gambar.  
Rupanya bukan saya saja yang terganggu dengan iklan besar pak menteri, ada Kompasianer lainnya bahkan membuat sebuah artikel yang meminta agar Gita sebaiknya menulis saja di sana, …

Behind the scene resensi "Ibu Dalam Sekeping Cerita"

Kamis 14 November 2013 kemarin resensiku yang berjudul "Ibu Dalam Sekeping Cerita" dimuat di Koran Jakarta. Merasa cukup surprise juga karena resensi itu baru kukirim pada Selasa 12 November. Artinya resensi itu dimuat hanya berselang dua hari setelah pengiriman.

Yang bikin aku lebih surprise lagi karena itu resensi perdana yang kubuat dan kukirimkan ke media. Jadi saat tahu resensi itu sudah tayang, senangnya bukan main. Senyum-senyum terus :-) Apalagi salah seorang temanku bela-belain ngirim pemberitahuan di wall facebook-ku. Di grup facebook Forum Lingkar Pena, aku malah diberi selamat. Padahal aku sama sekali bukan anggota grup itu heheheee.... Tapi ini semacam berkah nepotisme karena aku mengenal beberapa dedengkot di forum tersebut. Thx untuk Ferhat.

Ngomong-ngomong soal bikin resensi, ini memang "dunia" baru buatku. Baru banget, karena seumur hidup baru dua kali aku membuat resensi. Meski sudah lama menulis, selama ini aku hanya tertarik bikin cerpen, puisi…

Ibu dalam sekeping cerita [Koran Jakarta]

Judul buku : Ibu dalam Diriku
Penulis : Mitsalina Maulida Hafidz dkk
Penerbit : Gigih Pustaka Mandiri bekerjasama dengan Linikreatif Publishing
Tebal : x 135 halaman
ISBN : 978-602-17414-4-3 
Tahun terbit : 2013

Kehidupan seorang anak tanpa sosok ibu tentu gelap, tak berpengharapan. Tanpa menafikan peran ayah, nyatanya ibu lebih besar dalam proses tumbuh kembang anak. Ikatan emosional antara ibu dan anak yang terjalin sejak dalam kandungan berdampak hingga dewasa.

Begitulah makna tersirat dalam 15 cerpen dalam antologi cerita Ibu dalam Diriku. Kelima belas penulis dari berbagai latar belakang mampu mengemas tema-tema sederhana menjadi menggugah dan sarat makna. Mereka memadukan diksi dan narasi yang mengagumkan.

Kumpulan cerpen yang ditulis Mitsalina Maulida Hafidz dan kawan-kawan ini menggunakan gaya bahasa sederhana, tapi lugas, sehingga tak membuat monoton meskipun tema yang diangkat sangat umum. Melalui tulisan ini, pembaca diajak merenung, tanpa berpegang pada seorang ibu, manusia akan m…

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa.
Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m.
Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, nilai-nilai ulangannya …

Sajak Hujan

Kau! Katakanlah kau hujan, yang lahir dari pergumulan semesta. Yang selalu hadir setelah wajah muram sang jagat. Aku suka tempiasmu, yang jatuh satu-satu di pucak imajinasiku. Yang membasahi syaraf-syarafku. Yang melunturkan rasa, dan juga gelora!

Katakanlah kau hujan, yang selalu hadir dalam bentuk embun yang menempel di pucuk dedaunan. Lalu mengering bersama kehangatan yang tercipta antara aku dan engkau. Kau tahu, bulir-bulir itu mereinkarnasi menjadi keringat yang hangat. Yang muncul dari ruang pori percintaan semu.

Jika kau memang hujan, maka kau bisa ada dan tiada. Kau bisa muncul dan senyap, atau diam-diam hanya mengintip sebagai mendung. Aku? Apa bisa aku protes, meminta semesta terus menerus mengedan demi melahirkanmu. Ah, mana peduli dia tentang suasana romantis karena bulir-bulirmu yang melekat di keningku, atau di bibirku, atau di manapun. Ah....


Pernah kena razia?

SEJAK jejaring sosial booming beberapa tahun belakangan ini, mudah sekali mendapatkan informasi. Walau hanya sepotong-potong, paling tidak itu bisa menjadi "bekal" dalam berkomunikasi. Paling tidak, tidak sampai sama sekali ketinggalan informasi lah!

Sepekan ini kuperhatikan pembicaraan hangat di Facebook seputar razia kendaraan yang katanya bertebaran di mana-mana. Misalnya saja di Jalan Panglima Nyak Makam Pango, di Jalan Teungku Chik Ditiro Peuniti dan di Jalan Teuku Umar Seutui. Di Banda Aceh, tiga ruas jalan yang kusebutkan tadi bolehlah dibilang "titik rawan" yang sering sekali digelar razia kendaraan. Selain di kawasan itu, razia juga sering dibuat di Jalan Teungku Daud Beureueh dan di perbatasan Banda Aceh dengan Aceh Besar di kawasan Meunasah Manyang.

Ngomong-ngomong soal razia kendaraan, aku sudah lupa kapan terakhir kali kena tilang dari pak polisi. Selama di Banda Aceh aku pernah beberapa kali kena tilang sampai harus mengeluarkan uang ratusan ribu unt…

Idul Adha di kampung tak berpenghuni

Soal jika aku ditanyai orang, apa yang paling kuinginkan dari sebuah momen hari raya? Jawab bahwa, aku hanya ingin berkumpul bersama keluarga; ibu, adik-adikku, ipar dan juga keponakanku. Ayah? Beliau sudah lama berada di surga. Itulah mengapa setiap kali lebaran aku selalu mengusahakan mudik meskipun jatah libur mepet.

Siapa sih yang ngga ingin berkumpul bareng-bareng keluarga? Terutama aku yang sejak SMP sudah merantau. Jadi momen pulang ke rumah memang selalu ditunggu-tunggu. Libur Idul Adha kali ini, sama seperti libur hari raya sebelumnya, aku selalu pulang sehari sebelum makmeugang/punggahan. Biasanya aku sampai di rumah sekitar jam empat atau lima subuh.

Apa yang kulakukan begitu sampai di rumah? Tidur, menunggu sampai matahari terbit. Setelah itu aku langsung bersih-bersih rumah setelah sarapan dan membersihkan diri. Meski bukan hobi, membersihkan rumah menjadi kebiasaanku setiap kali berada di rumah. Salah satu nilai kebaikan yang diajarkan ibu saat aku masih kecil dan terus…

Dear Zorro

Dear Zorro...

Tiba-tiba aku merasa rindu, sangat! Tapi bukan kepadamu, melainkan pada lorong-lorong sembunyi yang pernah kulalui saat hendak melihat senyummu. Atau pada malam-malam bertabur bintang saat aku bergerak perlahan melewati jengkal demi jengkal tanah Tuhan, untuk sampai kepadamu.

Kau tahu, berkelebat cerita di benakku kala itu. Tak sabar rasanya ingin kutumpahkan di hadapanmu. Agar kau bisa melihat seluruh warna dari "rasa" yang membulir itu. Warna dari luapa emosi karena rindu yang bertubi-tubi menghujam diri ini.

Kau lihat, bulir-bulir itu sebagiannya mengkristal, menjadi kisah dalam baitk-bait berupa puisi, prosa atau cerita-cerita. Hingga pada akhirnya kita selalu percaya bahwa rindu tak pernah jauh dari inspirasi. Kita selalu percaya bahwa inspirasi, sekalipun terlahir dari rahim ketakutan selalu memberi kekuatan. Yang mengalir dalam diri kita untuk tetap bertahan.

Tiba-tiba saja aku ingin menerobos belantara gelap, melewati remang-remang cahaya untuk sampai …

5 Cara sederhana membuat rilis

Siapa yang sering bikin event atau kegiatan? Jawabannya sudah tentu lembaga/komunitas, kalau individu paling banter ya birthday party atau wedding party, yang lain silakan tambah sendiri.

Pertanyaan berikutnya, apakah event itu mau dihadiri/diketahui banyak orang atau biasa-biasa saja? Kalau mau berarti kita harus melakukan publikasi yang maksimal. Untuk individu misalnya, kita bisa promosi lewat jejaring sosial, undangan, atau pesan singkat melalui SMS/BBM, dst.

Nah, kalau untuk organisasi kita bisa pilih cara lain yaitu publikasi di media mainstream seperti koran cetak atau koran online, dll. Kalau mau yang berbayar kita bisa pasang iklan, tapi kalau keuangan terbatas kita bisa kirimkan surat permohonan untuk meliput acara kita, nah, setelah itu berdoa agar media tersebut mau meliput acara kita heheheh. Kalaupun mereka ngga meliput jangan sedih, harap maklum saja, kita bisa kirimkan rilis kok.

Andai aku punya 50 miliar

Wah... hari ini Rabu yaaa, baru ingat ada tantangan menulis "Andai Aku Punya 50 Miliar" yang jatuh tempo hari ini. Jatuh tempo? Kayak pajak aja yaaa, ini gara-gara tulisan Ari Murdiyanto untuk tema yang sama yang sudah diposting pertengahan pekan lalu. Selain Ari, yang sudah memposting tulisan itu adalah Azhar Iyas dan Alvawan.

Kalau bukan aku yang usulin, mungkin aku ngga bakal buat tulisan ini. Bukan karena tak ingin membuatnya, tapi sepekan ini memang aktivitas lumayan padat. Tapi apa kata, demi "menunaikan" usulan tersebut, dengan tertatih-tatih tulisan ini kutuliskan juga. Dengan perut yang lapar karena belum makan siang. Semoga saja setelah tulisan ini selesai laparnya langsung hilang, bukankah topik uang selalu asyik untuk dibahas?

Siapa yang pernah berandai-andai? Dalam agama yang kuanut berandai-andai memiliki hukumnya sendiri yaitu haram dan dibolehkan. Dalam konteks ini aku mau bicarakan andai-andai yang dibolehkan saja seperti pengandaian karena keingi…

Overdosis kopi!

HARI ini, setelah beberapa bulan pantang kopi akhirnya aku kembali meneguk minuman berkafein itu. Ini bukan suatu kesalahan, mengingat saat memutuskan berpantang dulu aku tidak bernazar atau bersumpah untuk tidak meminumnya lagi. Saat itu, aku hanya berniat akan berhenti untuk sementara. Berikutnya untuk memenuhi anjuran dokter. Selanjutnya untuk membuat hati ibuku lega!

Seperti bertemu pacar rasanya, secangkir kopi yang kuambil di bar kusesap pelan. Kunikmati benar-benar, pahitnya, manisnya, terasa lengket di bibirku, setelahnya aku tersenyum senang. Ah, akhirnya kerinduanku selama ini terbayar sudah. Seperti habis berciuman, berkali-kali kujilat bibirku agar bekasnya benar-benar hilang.

Rindu? Ya, mungkin agak berlebihan tapi memang begitu adanya. Entah sejak kapan aku mulai menyukai kopi. Tapi yang pasti saat masih SD tiap kali pulang ke rumah nenek di Teupien Raya Pidie, aku selalu minta dibelikan racikan kopi di warung. Alasannya? Racikan kopi tersebut lebih kental, lebih pahit …

Hujan yang memusnahkan getar

Sungguh! Rasanya tak bisa kujelaskan, malam tadi aku baru saja "melumatmu" dari cerita demi cerita dalam buku yang kubaca, di akhir halaman kutemukan kenyataan yang membuatku tercengang, seolah-olah Tuhan memang sedang menyiapkan kejutan besar untukku, kejutan dan ketakjuban yang akan kusampaikan padamu hari ini, mungkin pagi, siang, sore atau malam nanti. 

Rasanya memang tak bisa kujelaskan, sebab pagi ini kudapati engkau telah "pergi". Jejakmu hanya berupa "pusara" yang tak bisa kugali, bahkan untuk sekedar menyelipkan pesan kepadamu.

Entahlah, tapi sepertinya hujan pagi tadi memang untuk menyapu habis kenangan tentangmu. Bahkan tak sedikitpun geletar yang tersisa. Dan sore ini semua puing-puing kenangan tentangmu ikut tenggelam bersama terbenamnya matahari.

Mungkinkah kau akan bereinkarnasi? Mungkin jadi semacam rumput liar, angin, badai, atau apapun? Agar aku bisa menyampaikan angka yang tertera di halaman terakhir buku yang kubaca semalam.

Senja yang red…

25 September setahun yang lalu

Kurasakan wangi tubuhmu kembali menempel di hidungku. Mengingatkanku pada tatapan lekat ke manik matamu yang bercahaya. Membuatku berdebar, bergelora.

Menyadari hari ini 25 September sungguh sangat menyenangkan. Membuatku begitu gembira, berbunga-bunga, tapi juga rasa yang entah yang hinggap bertubi-tubih.

Pagi tadi aku baru saja mengecupmu mesra, berbisik di telingamu, mengucapkan sepotong kalimat yang kuyakin sangat kau sukai. Selamat ulang tahun Cinta.

Baru pagi tadi kurasakan nafasmu begitu dekat, hangat. Pagi tadi itu setahun yang lalu, saat Tuhan memberi kita kesempatan untuk bersama. Setahun rasanya seperti baru kemarin, teramat sangat singkat. Tapi menjadi sangat lama karena rindu yang terus menerus mendera. Ah, rindu... andai saja kita tahu bentuknya seperti apa. Pasti akan mudah sekali menaklukkannya. Sayangnya hingga akhir waktu ia hanya akan hadir sebagai abstraksi yang rumit. Tak berpenjelasan.

25 September adalah hari di mana aku mencuri start untuk memberimu ucapan sel…

Pemuda imajinatif itu namanya Hijrah "Piyoh" Saputra

SEBENARNYA aku sudah lama ingin menuliskan profil pemilik Piyoh Design, Hijrah Saputra, dalam sudut pandang kacamataku sendiri. Selama ini aku memang sering menuliskan kiprahnya sebagai salah satu pengusaha muda Aceh, tapi itu untuk kebutuhan lain. Tentu saja citarasanya juga berbeda.

Rencana menuliskan tentang Hijrah sudah bercokol di benakku sejak usai Idul Fitri pada bulan Agustus lalu. Tapi terulur-ulur terus sampai sekarang sudah mau lebaran Idul Adha. Hari ini kurasa momen yang tepat untuk menulisnya karena pria muda itu sedang merayakan hari ulang tahunnya yang ke twenty nine my age alias ke 29.

Nama Hijrah sebenarnya sudah kudengar sejak tahun 2007 atau 2008 lalu. Waktu itu Hijrah yang ada dalam benakku adalah Hijrah Saputra yang sealmamater denganku. Rupanya aku salah. Itu kusadari setelah suatu hari aku nyasar di blognya di piyoh.blogspot.com. Pertemuan pertama kali dengan pria hitam manis ini pada akhir 2011 lalu, tepatnya di event Festival Kopi yang dibuat oleh Dinas Kebu…

Presiden, PKA dan Bupati yang gagal datang ke kampungku

NGGAK terasa Pekan Kebudayaan Aceh udah masuk hari keempat. Itu artinya masih tersisa sepekan lagi dari waktu yang ditetapkan sejak 20-29 September 2013. Meski belum setengahnya berlangsung namun event yang dihelat lima tahun sekali ini mulai menorehkan sejumlah persoalan. Tapi soal itu aku ngga mau cerita di sini.

Aku justru mau cerita soal prosesi pembukaan seremonial tersebut yang kabarnya agak berlebihan. Aku memang ngga datang langsung waktu hari H pembukaannya Jumat, 20 September lalu. Tapi berita tentang itu  (harus) terus kupantau sejak beberapa hari sebelumnya. Baik dari media mainstream maupun dari jejaring sosial, terutama Facebook.

Dari Facebook aku tahu sehari sebelum Presiden SBY tiba di Banda Aceh, daerah Kopelma Darussalam sudah "hijau". Ini bukan karena reboisasi daerah kampus oleh anak mapala, tetapi oleh seliweran tentara Angkatan Darat yang bertugas untuk mengamankan Presiden. Oh ya, ngomong-ngomong sebelum membuka PKA pada pagi Jumat, pada Kamis malam P…

Menemukan Kopi Sulthan di Festival Kopi

TADI sore sembari menunggu magrib aku sempatkan membaca kumpulan cerpen pilihan Kompas. Dari beberapa belas judul, setelah kubolak-balik aku berhenti pada satu judul yang menurutku cukup menarik, Bunga Kopi. Namun setelah membaca keseluruhan isinya, cerpen itu  tidak seperti yang kubayangkan. Tapi tetap ada yang menarik, beberapa kalimat menceritakan tentang harumnya bunga kopi yang menyemerbak.
Aku jadi ingat obrolan beberapa bulan lalu dengan bang Joe dan bang Sada, bang Joe ini budayawan kelahiran Samalanga namun besar di Gayo. Ia sendiri lebih suka disebut sebagai orang Gayo, dan sangat aktiv mengangkat isu-isu Gayo, terutama di bidang budaya. Sedangkan bang Sada waktu itu masih bekerja di sebuah kafe sebagai peracik kopi. Pemahamannya tentang kopi tentu saja patut diacungi jempol. Itung-itung sebagai riset, mengobrol dengan bang Joe dan bang Sada sangat menyenangkan.
Bicarain kopi dengan mereka seperti ngga ada habis-habisnya. Ceritanya detil dan bikin aku berkali-kali oo... gitu y…

Rumput Liar

Akhirnya hujan yang turun sejak siang tadi reda juga. Bau tanah basah menyeruak. Segar. Di pegunungan yang tak jauh dari tempatku tinggal, kabut mulai muncul. Putih. Bagai bunga-bunga es di lemari pendingin. Aku bergegas ke kamar. Mengambil syal berbahan wol motif garis putih biru dan langsung kucantolkan ke leher. Hawa dingin menusuk-nusuk. Masuk hingga ke sum-sum tulang. Setelahnya aku segera pergi.
Sudah beberapa belas menit aku menunggu taksi. Tapi belum ada satupun yang nongol. Aku khawatir sementara aku masih di pinggir jalan seperti ini, hujan kembali turun. Butir-butir air yang jatuh dari pucuk pohon angsana menetes di tubuhku. Menambah gigil kala angin bertiup agak kencang. Aku merapatkan jaket sambil mataku tertumbuk pada sebatang rumput liar yang tengah meliuk-liuk. Bunganya kuning pucat dengan beberapa kelopak yang masih utuh.
Segaris senyum melengkung di bibirku. Bersamaan dengan butir air yang tepat jatuh di di hidungku. Rumput liar itu. Kamu! Seolah telah mengirimkan ener…

Beulidi!

INI bermula ketika seorang teman bertanya, apa artinya "Glap". Lalu dengan yakin kujawab "Glap" adalah "Seupot", alias "Gelap" yang berasal dari bahasa Indonesia kemudian "diserap" ke dalam bahasa Aceh. Jawabanku ini bukan asal jawab saja, dulu waktu masih kecil sering kudengar nenekku mengatakan "Glap" sebagai pengganti kata "Gelap". Ternyata jawabanku salah. "Glap" adalah "Penjara" kata temanku. Hah? Aku salah dong!

Semua kukira sudah tahu kalau Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia ini memiliki berbagai suku yang majemuk. Di Aceh saja, tempat lahir beta, bahasanya macam-macam. Katakanlah yang umum-umum saja ada bahasa "Aceh" yang umumnya dipakai oleh masyarakat pesisir, bahasa "Gayo" yang umumnya dipakai oleh masyarakat di dataran tinggi Aceh, bahasa "Jamee" yang umumnya terdapat di wilayah barat selatan Aceh. Ada juga bahasa Alas, Tamiang, Simeulu…

Penantian

INI kali ketiga aku melihatmu. Engkau datang dengan sepotong senyum tertahan. Juga langkah yang sedikit tergopoh-gopoh. Tak jauh dari tempatku duduk engkau menarik sebuah kursi, melepas ransel yang menggantung di pundakmu lalu mengempaskan pantatmu di kursi berlapis busa.
Sebelum membelakangiku kau sempat melempar senyum yang datar. Tapi aku sempat menangkap ribuan kata yang tersembunyi di balik retina matamu. Ada kegembiraan yang kau tahan di sana, juga semedi ketakutan yang coba kau sembunyikan. Dugaanku bisa jadi benar, tak lama setelah kau duduk seorang pria datang mengampirimu.
Pria itu, tentu saja aku kenal. Tapi bukan itu yang membuatku tertegun, melainkan caramu merengkuh dan mencium tangannya dengan takzim. Sekali lagi, meski engkau membelakangiku seolah aku bisa membaca geliat bahasa badanmu. Bahwa engkau menaruh rindu yang teramat pada pria yang kau cium tangannya itu. Dan wajah pria itu, tentu aku bisa melihatnya dengan jelas karena ia menghadap ke arahku. Bahagia!
Aku masih …

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Doa kecil untuk sahabatku

KEMARIN seorang sahabatku ulang tahun, 4 September. Aku tak berniat menyebutkan berapa usianya sekarang, karena nanti usiaku jadi ketahuan juga berapa hahahah. Khusus untukku pribadi, aku merasa perlu berterimakasih pada Facebook yang diciptakan oleh Mark Zuckerberg. Kalau tidak, aku pasti bakalan lupa tanggal berapa sahabatku itu ulang tahu. Soalnya aku selalu kebalik-balik antara 4 September atau 14 September. Yang pasti bukan 44 September hehehe.

Sejak pagi aku sudah lihat peringatan yang termpampang di wall facebookku. Antara ingin menuliskan ucapan selamat dengan tidak. Kalau kutulis di situ, terlalu biasa, orang-orang (mungkin) akan melihat ucapanku untuknya. Kemungkinan lainnya adalah temanku itu tidak akan melihatnya, asumsinya pasti banyak yang menulis selamat ultah di wallnya, dan ia pasti akan meleatkan "kiriman"ku tanpa menyadarinya.

Akhirnya kuputuskan untuk tidak mengucapkan selamat di wallnya. Aku berniat membuatkan sepotong dua potong puisi dan kukirim ke in…

Sekeping kenangan tentang sekolah Kampung Pelita

PERNAHKAH kau merasa rindu? Bukan rindu pada seseorang, tapi rindu kepada tempat asalmu. Di tanah tempat kau dilahirkan, tempat kau dibesarkan dan tempat kau belajar a be ce dan de, juga huruf hijaiyah alif ba ta dan tsa...Di tanahitu kau belajar artinya memiliki tanah air, tempat lahir beta.

Rindu serupa itulah yang terus kurasakan. Sejak siang tadi, kemarin, dan kemarinnya lagi. Aku terkenang pada sebuah desa yang sering kusebut sebagai Kampung Surga. Di desa itu berdiri sebuah bangunan yang amat sangat "istimewa". Bangunan tempat aku belajar membaca dan menulis. Ya, rumah sekolah kami.

Bangunan sederhana yang berdiri di kaki bukit, berada di tengah-tengah kebun warga, berdampingan dengan jalan utama di kampung itu. Kau mau tahu apa nama perkampungan itu? Namanya Lorong Pelita, berada di pedalaman Aceh Timur (Pelita yang Tak Padam Dihempas Konflik). Ah, sungguh indah bukan? Tapi kegelapan adalah hal pertama yang kulihat di kampung itu. Dulu, sekitar seperempat abad lalu, …

Nostalgia cinta di Yahoo! Messenger

WAKTU setahun terasa sangat singkat yaa, ngga berasa udah mau September aja. Tapi bagi yang sedang terbelit rindu setahun itu jadinya sangat lama sekali. Sesekali aku mau bicara soal rindu, yang sampai sekarang ngga pernah bisa kumengerti. Rindu kadang bikin aku senyum-senyum sendiri, kadang juga diam terbengong-bengong, kadang manyun. Biar pun begitu, si rindu telah mengajarkan aku arti cinta, rasa sayang dan juga konsistensi, Ugh... :-D

Seperti biasa, hari-hariku selalu dilaburi rindu yang berat. Rindu pada sesosok makhluk Tuhan yang menurutku sangat luar biasa. Luar biasa karena meski banyak bikin aku manyun tapi dia tahu sekali bagaimana menerbitkan rindu di hatiku hehehehe. Sosok itu terakhir kali kulihat matanya 25 September tahun lalu, sebelas bulan lalu. Waktu itu sempat kubisikkan sepotong kalimat pendek; happy birthday dan i love you hihihihih....walaupun kecepetan sehari karena mestinya dia ulang tahun tanggal 26 September.

Tentu saja aku sangat mengingat hari itu, karena …

Belajar dari cara ibu dan nenekku mencintai

BAGI aku yang masih single, pernikahan selalu menjadi tanda tanya sekaligus membuat penasaran. Seperti apa sih pernikahan itu? Bagaimana kehidupanku nanti setelah menikah? Apakah pernikahan itu seindah dan sewangi layaknya bunga yang sedang bermekaran. Seperti yang banyak diilustrasikan dalam novel-novel roman yang indah dan puitis.

Atau... apakah pernikahan itu seram dan menyeramkan? Sehingga banyak terjadi hal-hal yang menurutku bukan termasuk cita-cita pernikahan itu sendiri. Misalnya kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan sampai perceraian. Jawabannya tentu saja menikah dan mengalaminya sendiri, lalu temukan jawabannya sendiri.

Beberapa tahun silam aku pernah mencemburui kehidupan seseorang, ia mengilustrasikan kehidupan rumah tangganya dengan sangat sempurna. "Pasangan hidup yang rupawan, anak-anak yang cerdas dan cakep, serta harta yang berkecukupan," tiga hal itu yang terus mengiang dalam benakku. Betapa beruntungnya makhluk Tuhan yang satu ini. Dan tentunya ba…