Langsung ke konten utama

Ibu dalam sekeping cerita [Koran Jakarta]

Judul buku : Ibu dalam Diriku
Penulis : Mitsalina Maulida Hafidz dkk
Penerbit : Gigih Pustaka Mandiri bekerjasama dengan Linikreatif Publishing
Tebal : x 135 halaman
ISBN : 978-602-17414-4-3 
Tahun terbit : 2013

Kehidupan seorang anak tanpa sosok ibu tentu gelap, tak berpengharapan. Tanpa menafikan peran ayah, nyatanya ibu lebih besar dalam proses tumbuh kembang anak. Ikatan emosional antara ibu dan anak yang terjalin sejak dalam kandungan berdampak hingga dewasa.

Begitulah makna tersirat dalam 15 cerpen dalam antologi cerita Ibu dalam Diriku. Kelima belas penulis dari berbagai latar belakang mampu mengemas tema-tema sederhana menjadi menggugah dan sarat makna. Mereka memadukan diksi dan narasi yang mengagumkan.

Kumpulan cerpen yang ditulis Mitsalina Maulida Hafidz dan kawan-kawan ini menggunakan gaya bahasa sederhana, tapi lugas, sehingga tak membuat monoton meskipun tema yang diangkat sangat umum. Melalui tulisan ini, pembaca diajak merenung, tanpa berpegang pada seorang ibu, manusia akan meraba-raba dalam menjalani kehidupan.

Mitsalina, dalam tulisan "Menunggu Jingga", menggambarkan narasi yang memesona, mewakili cerpen-cerpen lainnya. "Aku ingin seperti ibu. Selalu tegar berdiri meski hati sering tersakiti. Aku ingin seperti ibu. Selalu mantap melangkah meski dirundung banyak masalah. Aku ingin seperti ibu. Sungguh, aku ingin, Bu" (halaman 52).


Ada juga D Nugraheni. Lewat cerpen fabelnya "(C) over", dia mencoba mengingatkan untuk tidak sekali-kali membantah nasihat-nasihat ibu. Cerpen ini mengingatkan pembaca bahwa doa dan restu ibu akan membawa kebaikan pada anak-anaknya. Sebaliknya, jika dilanggar, bukan tak mungkin berakhir fatal (halaman 76).

Cerita paling menggugah ditulis Farida D Emmy lewat cerpen "Hantu Ibu". Meski sudah berbeda dunia, bukan berarti seorang ibu tidak bisa "membimbing" anak-anaknya. Tokoh utama merasakan betul cara "hadirnya" ibu dari dunia lain untuk memberi kekuatan, terutama di saat sedih atau kalut, termasuk ketika menerima pinangan. "Cukup dua alasan bagi Jannah menerima lamaran Lukito. Satu, ia melihat bayangan ibu di seberang jalan mengangguk setuju…" (halaman 73).

Namun, tidak semua cerita dalam cerpen ini menggambarkan sosok ibu yang nyaris tanpa cela atau bermuatan positif. Ama Ristiana, dalam cerpen "Rasa Gendhis", mencoba menghadirkan suasana berbeda, yakni seorang perempuan bergelar ibu juga bisa melakukan kesalahan-kesalahan, di antaranya meninggalkan keluarga dengan alasan yang tak bisa dipahami, terutama anak-anak. 

Nadia Agnes Rasheesa, lewat "Hari Impian", membuat kita terhenyak. Cerit itu mengingatkan kita pada wanita-wanita karier yang hanya mengenal kerja dan kerja. Mereka seolah-olah lupa ada anak-anak yang membutuhkan ibu secara fisik, yang selalu mencium dan memeluk atau membantu menyelesaikan pekerjaan rumah. 

Lewat cerpen ini pula pembaca diajak menyelami perasaan, bahwa apa pun yang dilakukan, pada dasarnya demi kepentingan anak-anak. Ada selipan pesan, komunikasi merupakan faktor penting dalam sebuah hubungan, begitu juga antara ibu dan anak.

Karakter ibu dalam antologi ini digambarkan sebagai sosok yang lemah dan tak berdaya. Sayang, banyak dialog dalam bahasa daerah yang tiak disertai artinya. Tetapi, ini bisa dimaklumi mengingat antologi dibuat banyak orang.

Ada penulis yang baru pertama kali karyanya dimuat dalam antologi ini. Namun, proses editing yang baik membuat tulisan begitu bagus.[] 

Resensi ini telah dimuat di Koran Jakarta

Komentar

  1. bagus pesan dr buku ini, memang komunikasi merupakan faktor penting dalam sebuah hubungan bukan saja antara ibu dan anak namun dengan semua, komunikasi membuat kita bisa mengerti dan memahami satu sama lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kak Lisa, meski sederhana cerita tentang ibu takkan pernah basi

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.