Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2014

Gelombang Rasa

Bilakah cinta akan berakhir jika gelombang suara masih melahirkan getar geletar yang sama? Di pucuk siang yang terik ini, kita memang tak perlu mengaduh. Sebab rasa telah dulu mengambil perannya sebagai embun yang menggantung di pucuk-pucuk rumput. Di dalam diri kita yang gampang terbawa arus emosi.

Di hadapanmu rindu menjadi dirinya sendiri. Tak memedulikan harga diri, tak perlu menjadi dewasa. Sebab cinta adalah pengejawantahan. Cinta adalah sebaya katamu sekali waktu. Memudakan yang tua, mendewasakan yang muda. Cinta bukanlah kasta yang tersekat-sekat bagai anak tangga lalu susah payah kita mendakinya.

Lalu apa namanya ini? Oh, mungkin ini harmoni atau mungkin ini resonansi. Yang akan menggerakkan seluruh panca indera kita untuk memantulkan kasih, dan sayang, dan cinta. Lalu berubah menjadi keliman yang melekatkan hati. Itulah kenapa kelindan pertanyaan yang tak pernah terjawab ini membawa kita pada ujung tawa yang tak berkesudahan.

Cinta katamu, bukan soal seberapa rapat fisik ya…

Padamkan Lilinnya, Sayang!

Kau lihat lilin di dalam gelas warna-warni bertabur gliter itu kan, Sayang? Sungguh membuai mata, tak sedikitpun memberi kesempatan bagi kita untuk menjedakan pandangan dari menatapnya. Kutamsil lilin-lilin itu adalah tubuh kita, yang disempurnakan Tuhan dengan kelengkapan pancaindera dengan segala fungsinya.

Cahayanya yang meliuk adalah pancaran dari letupan emosi penuh cinta yang bersumber dari dalam jiwa. Cahaya yang memantul lewat sorot mata kala kita beradu tatap. Cahaya yang mampu menyedot kita dalam pusaran emosi terdalam dari diri kita. Cahaya yang mampu mengirimkan seribu luluh kala hati terbakar cemburu dan amarah.

Sayang, coba kau lihat lilin-lilin itu. Pesonanya kian memancar saat ia bertemankan keremangan. Bak suar di tengah laut lepas yang menjanjikan pertolongan, harapan, juga kehidupan. Kerak-kerak yang menempel di sekujur tubuhnya bak urat-urat akar yang menempel di batang pohon. Atau jalinan karang-karang yang bebal dari gempuran ombak berombak?

Perahu Kertas di Parit Waktu

Tuhan itu adil, saat aku dan engkau berjarak terlalu jauh, saat kata tak mungkin bertukar dengan mudah, Ia menghadirkanmu lewat mimpi-mimpiku yang panjang. Engkau tersenyum, teramat manis sampai-sampai aku lupa aku sedang bermimpi atau sedang di hadapanmu? Senyum yang melahirkan getaran hingga aku terbangun dari mimpi itu.

Kadang aku mengadu, mengirimkan pesan-pesan di dalam perahu kertas di parit waktu. Kuanggap saja pesan itu sampai kepadamu, kau membacanya, lalu kembali membalas pesan-pesan penuh romansa untukku. Sayangnya pucuk-pucuk daun tempat kau meletakkan pesan-pesan itu seringkali terhempas angin. Hingga tak pernah sampai kepadaku. Kuanggap saja begitu.

Kau dan aku bagai sumbu dan minyak yang bertemu dalam sebuah lampu teplok. Kita -barangkali- terlalu pandai memberi terang untuk dunia, berusaha mengalahkan mentari dengan cahaya kecil yang kita punya. Tapi kita sendiri terseok-seok dalam kubang cinta yang sempit lagi gelap. Bagai garputala yang tak berhenti berputar walau s…

[Tutorial] Satu CMS untuk Beberapa Blog

KITA beruntung punya media blog yang bisa dipakai gratis. Artinya isi kepala kita bisa kita publikasikan dan dibaca orang kapanpun kita mau. Tentunya dengan biaya yang terjangkau tapi lebih efektif dan daya sebar yang lintas benua. Asyik ya?

Ibarat rumah, blog adalah tempat kita menyimpan semua perkakas rumah tangga (tulisan). Orang miskin (baca: malas) biasanya punya satu rumah saja tidak terurus. Dibiarkan kosong melompong bak gudang tanpa isi. Alhasil tetangga (baca: pengunjung) malas main ke rumah kita. Dampaknya lama-lama rumah itu jadi gubuk kosong yang trafiknya di alexa segitu-gitu aja.

Sebaliknya ada orang-orang yang punya energi lebih untuk mempunyai dua rumah sekaligus. Dalam hal ini mengelola blog lebih dari satu akun. Akun-akun tersebut bisa disesuaikan dengan minat mereka misalnya tentang sastra, traveling, atau buku, atau hobi lainnya.

Hari ini saya membuat sebuah blog baru yaitu Kutub Boekoe. Dari titlenya sudah jelas itu blog isinya apaan. Blog ini satu CMS (Control …

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Pengarang: HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)
Bahasa: Bahasa Indonesia, Melayu
Genre: Novel
Penerbit: Bulan Bintang
Tanggal    : 1938
Halaman: 224 (cetakan ke-22)
ISBN: 978-979-418-055-6 (cetakan ke-22)

++++++

TENGGELAMNYA Kapal Van Der Wijck. Judul buku ini tidak asing lagi bagi saya. Sejak tahun 90-an saya sudah mendengar namanya. Saat itu roman itu terkesan sangat berat bagi saya sehingga terlewatkan begitu saja.

Jelang akhir 2013 buku ini kembali ramai dibicarakan. Tak lain setelah Ram Soraya mengangkat kisah haru birunya ke layar lebar. Setelah melihat trailernya, saya pun 'kelimpungan' dan sangat ingin membacanya. Beruntung, seorang teman mau meminjamkan buku pinjamannya kepada saya. Rasanya tak sabar untuk segera melahap dan menghabiskan halaman demi halaman novel mega bestseller itu.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck menceritakan kesatiran hidup tokoh utamanya Zainuddin. Pemuda itu berayahkan seorang Minang dan ibu seorang Bugis. Ia telah yatim piatu sejak kecil d…

Karena Kami Tak Punya Bioskop

SELAMA dua pekan ini 'demam' film Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk sepertinya sedang mewabah. Di time line Facebook sering muncul entah itu ulasan, resensi, status, capture foto, bahkan tiket nonton di bioskop.

Pelan-pelan rasa iri menyelinap di hati saya. Saya tahu ini tak baik, tapi kali ini rasa iri tersebut telah menjangkiti saya dan parahnya tak sanggup saya tangkal. Betapa tidak, Tenggelamnya Kapal VDW disebut-sebut sebagai film sastra terbaik penutup tahun 2013. Buncahan perasaan ingin menonton film itu membuat saya benar-benar iri pada mereka yang punya bioskop di kotanya.

Tahun Baru

APA yang berbeda pada hari terakhir di bulan Desember setiap tahunnya? Jika saya boleh berasumsi, tentulah kesibukan orang ramai dalam menyambut suka cita datangnya 1 Januari sebagai awal tahun baru Masehi. Bagi saya pribadi kesibukan ini terasa sangat menggema lebih kurang satu dekade terakhir. Sejak saya pergi meninggalkan kampung halaman untuk mencari ilmu ke ibu kota provinsi; Banda Aceh.

Agaknya telat saya menulis tentang catatan tahun baru. Tapi ini memang sengaja saya lakukan, karena bagi saya semua hari, bulan dan tahun sama saja.

Dua hari menjelang pergantian tahun bibi -istri adik ibu saya- masuk ke kamar saya. Waktu itu saya baru pulang kerja. Badan masih terasa lelah, tungkai minta diistirahatkan, tapi demi melihat bibirnya tersungging saya dudukkan tubuh saya di ranjang. Inti dari pembicaraan singkat itu adalah bibi meminta uang untuk tambahan biaya membeli ayam dan jagung. Keduanya akan menjadi santapan untuk hidangan di malam pergantian tahun. Saya berjanji akan member…