Langsung ke konten utama

Tahun Baru

foto by republika
APA yang berbeda pada hari terakhir di bulan Desember setiap tahunnya? Jika saya boleh berasumsi, tentulah kesibukan orang ramai dalam menyambut suka cita datangnya 1 Januari sebagai awal tahun baru Masehi. Bagi saya pribadi kesibukan ini terasa sangat menggema lebih kurang satu dekade terakhir. Sejak saya pergi meninggalkan kampung halaman untuk mencari ilmu ke ibu kota provinsi; Banda Aceh.

Agaknya telat saya menulis tentang catatan tahun baru. Tapi ini memang sengaja saya lakukan, karena bagi saya semua hari, bulan dan tahun sama saja.

Dua hari menjelang pergantian tahun bibi -istri adik ibu saya- masuk ke kamar saya. Waktu itu saya baru pulang kerja. Badan masih terasa lelah, tungkai minta diistirahatkan, tapi demi melihat bibirnya tersungging saya dudukkan tubuh saya di ranjang. Inti dari pembicaraan singkat itu adalah bibi meminta uang untuk tambahan biaya membeli ayam dan jagung. Keduanya akan menjadi santapan untuk hidangan di malam pergantian tahun. Saya berjanji akan memberinya besok malam.

Hari terakhir Desember. Di kalender tertera angka 31. Saya tiba di rumah selepas Isya. Saat saya pulang tadi rintik-rintik hujan masih jatuh dari langit. Genangan air masih bertebaran di mana-mana. Udara dingin, langit tak berbintang, angin berhembus tenang. Saat pulang -selama perjalanan- saya hanya melihat ada seorang penjual terompet di dekat Taman Putroe Phang.

Sampai di rumah, bibi dan sepupu serta beberapa anak tetangga sedang menonton tv. "Tidak jadi bakar-bakarnya..." ia berceloteh riang. Bakar yang dimaksud tentu saja bakar ayam dan jagung. Saya hanya tersenyum. Saya tahu bibi sedang bercanda. "Iya, hujan sih..." jawab saya datar. "Kakak ngga ada ekspresi jawabnya," celetuk sepupu yang baru kelas dua SMP. "Kakak memang selalu begitu kan?" jawab bibi saya lagi. Singkatnya malam itu kami 'berpesta' ayam dan jagung bakar. Suasana menjadi lebih ramai karena tetangga depan rumah ikut bakar-bakar bersama.

+++
Terlepas apakah itu untuk menyambut tahun baru atau apapun, saya bukanlah penyuka pesta. Jangankan yang besar, pesta kecil pun saya tidak suka. Seolah punya dunia sendiri saya sering tidak nyaman jika harus berkumpul dengan orang-orang (terutama yang tidak saya kenal) dengan durasi waktu yang lama. Sering saya merasa hanya sebagai pelengkap saja jika berkumpul di tengah keluarga besar. Mungkin karena saya kekurangan bahan jika bersama mereka, tapi apa yang mereka obrolin seringkali masuk di luar daftar minat saya. Misalnya tentang fashion, gosip selebritis, gosip tetangga, perkakas rumah tangga, dll. Jika bersama mereka, saya memilih untuk banyak diam.

Kembali ke cerita tahun baru. Sebenarnya bukan hanya menyambut 2014 saja sikap saya 'dingin'. Bertahun-tahun sebelumnya, saya merasa tak perlu merayakan malam pergantian tahun. Apalagi harus menunggu pukul 00:00 teng untuk kemudian berteriak-teriak histeris. Sambil meniupkan terompet, menyalakan kembang api, dan berkerumun di tengah kota. Saya lebih memilih tidur, mengistirahatkan badan saya selama 'setahun'. Agar besok pagi kembali segar saat beraktivitas. Hidup di tahun-tahun mendatang tidak dibangun dari eforia sesaat. Namun semua itu berpulang ke pribadi masing-masing.

Soal sikap yang dingin-dingin ini, juga tidak merujuk pada pandangan agama atau karena imbauan ini itu. Sebagai makhluk yang dibekali otak dan akal, saya tentu saja punya pemikiran sendiri.[]

Komentar

  1. Saya sendiri suka melihat pesta kembang api :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku ngga kuat sama berisik dan desak-desakannya Ky

      Hapus
  2. Aku jarang-jarang merayakan tahun baru. Tapi seneng aja ngeliat kembang api warna-warni di langit :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. di Aceh ngga ada yang keren deh kayaknya heheh

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.