Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2018

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…

Dianggap Ada dan Penting

Di tengah obrolan santai kami melalui Whatsapp, tiba-tiba Zenja memintaku untuk membuatkan sebuah tulisan yang menurutnya cukup representatif untuk memperingati gempa dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam. Aku yang langsung ngeh dengan permintaannya segera merespons.

"Status di mana?"

"WA."

Berselang menit kukirimkan sebuah kalimat beraroma kontemplasi. 

"Thanks, Say," balasnya.

"Iya, Cinta."

"Kenapa kamu memintaku yang membuatnya. Padahal kamu bisa bikin sendiri, kan?"

"Kamu jagonya," jawabnya.

Seketika hatiku jadi mekar.

"He he he. Aku jadi tersanjung."

"Hmmm..."

"Makasih atas pujiannya. Aku senang kalau itu kamu yang bilang."

"Benar kok."

Lalu kami jadi sibuk bernostalgia. Membicarakan kembali percakapan-percakapan indah yang pernah kami bincangkan.

Memang bukan sekali ini saja Zenja memintaku membuatkan kalimat-kalimat yang ingin ia bagikan kepada publik. Barangkali karena ia tahu …

Menggenapkan Postingan Ke-1.000

"Blogku postingannya sudah 999 lo. Satu lagi genap seribu," kataku pada Zenja dengan hati mekar.
"Mantap."
"Sebagian besar isinya terinspirasi dari kamu."
"Good."
"Menemani perjalanan cinta kita."
"Hmmm..."

Lalu kami tertawa bersama. Membicarakan hal remeh-temeh dengan Zenja selalu menyenangkan. Termasuk berbagi kesenangan mengenai jumlah postingan di blogku. Buatku itu jadi pencapaian tersendiri. Sebagai tanda bahwa aku cukup konsisten menulis di blog.

Tak berlebihan juga bila aku memilih berbagi kebahagian kecil ini dengannya. Blog ini tumbuh sejalan dengan usia pertemanan kami. Dia yang selalu mendukung langkahku yang memilih berkarier di dunia kepenulisan. 

Aku masih ingat saat dulu masih kuliah, saat masih aktif di pers kampus. Melalui Zenja aku mendapatkan narasumber pertamaku. Zenja pula yang membuatku terhubung dengan salah satu pejabat humas di sebuah perusahaan terbesar di Aceh. Dan dari pejabat humas itu kami banyak berdis…