Langsung ke konten utama

Menggenapkan Postingan Ke-1.000



"Blogku postingannya sudah 999 lo. Satu lagi genap seribu," kataku pada Zenja dengan hati mekar.
"Mantap."
"Sebagian besar isinya terinspirasi dari kamu."
"Good."
"Menemani perjalanan cinta kita."
"Hmmm..."

Lalu kami tertawa bersama. Membicarakan hal remeh-temeh dengan Zenja selalu menyenangkan. Termasuk berbagi kesenangan mengenai jumlah postingan di blogku. Buatku itu jadi pencapaian tersendiri. Sebagai tanda bahwa aku cukup konsisten menulis di blog.

Tak berlebihan juga bila aku memilih berbagi kebahagian kecil ini dengannya. Blog ini tumbuh sejalan dengan usia pertemanan kami. Dia yang selalu mendukung langkahku yang memilih berkarier di dunia kepenulisan. 

Aku masih ingat saat dulu masih kuliah, saat masih aktif di pers kampus. Melalui Zenja aku mendapatkan narasumber pertamaku. Zenja pula yang membuatku terhubung dengan salah satu pejabat humas di sebuah perusahaan terbesar di Aceh. Dan dari pejabat humas itu kami banyak berdiskusi mengenai ilmu-ilmu kehumasan. Namun aku sudah lupa semuanya ha ha ha. Love you forever, Zenja...

Sekadar flash back, aku mulai aktif mengelola blog ini sejak 2006, setelah sebelumnya sempat aktif di Multiply, Friendster, dan berbagai platform blog yang aku sudah tak ingat lagi namanya. Sebagai mantan operator warnet yang nyaris saban hari terkoneksi dengan internet, berselancar di dunia maya telah menjadi sesuatu yang dicandu sejak belasan tahun silam. Utak-atik blog selalu menjadi aktivitas yang menyenangkan dan bikin penasaran. 

Kondisi itu pula yang membuatku bertekad agar di kemudian hari bisa bekerja di "ladang" yang ada sangkut pautnya dengan internet. Semata-mata agar bisa internetan gratis hahaha. Kala itu tak terbayang bila perkembangan teknologi informasi bakal secepat ini. Murah pula. Sekarang, siapa sih yang tak tergantung pada internet? Bahkan yang belum paham apa itu email pun tak bisa lepas dari aktivitas berinternet.

Selama belasan tahun pula konten-konten di blog ini masih senada. Beraroma kembang sakura yang merah jambu. Sesuai dengan tagline blog yang kuusung: memotret kehidupan dalam perspektif perempuan, rasa, dan cinta.

Terlepas apakah aku seorang perempuan atau bukan, dunia perempuan selalu menarik untuk kuselami. Aku menemui banyak perempuan dengan kehidupan yang sangat kompleks. Menemukan keunikan-keunikan pada setiap individu. Aku berusaha belajar setiap kali berinteraksi dengan mereka. Bagaimana mereka membangun kekuatan diri, menahan perasaan yang terpendam, melawan ketakutan, menghadapi ketidakberdayaan, kepasrahan, pergolakan cinta, bangkit setelah terpuruk, ketidakadilan, menghadapi ketidakpastian, hingga kenyatan yang tak sesuai harapan.

Berbagai kenyataan itu, menginspirasiku untuk menghasilkan puluhan cerita pendek, puisi, dan prosa-prosa yang semata-mata kutulis untuk mengobati kegelisahanku. Dalam kondisi tertentu aku merasa menjadi perempuan tidaklah mudah. Perempuan ibarat seorang pelakon di atas panggung, dipapari lampu sorot, dipandangi berpasang-pasang mata, menjadi objek gumaman, objek bisik-bisik, objek kritikan, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, bahkan oleh perempuan itu sendiri. Mirisnya, bahkan untuk kesalahan yang tidak ia lakukan sendiri. 

Ada kebahagiaan tersendiri ketika ada perempuan-perempuan yang membaca cerita-cerita di blog ini kemudian mengatakan: terima kasih sudah menuliskannya untukku.

Ah, padahal cerita itu ditulis untuk perempuan yang lain. Begitulah, ada banyak kesamaan kisah, cerita, dan kejadian yang dialami oleh satu perempuan dengan perempuan lainnya.  Hanya saja banyak di antara mereka tidak berani berterus terang dengan apa yang dialaminya. Walaupun hanya menuliskannya di atas kertas atau di halaman-halaman blog. 

Lihatlah, betapa kuatnya mereka menyimpan kisah hidupnya di dalam hati mereka yang sangat rapat. Tak mereka biarkan seorang pun untuk tahu. Bahkan diri mereka sendiri. Adakah penjara perasaan yang lebih kejam dari itu?

Beruntunglah para perempuan yang bisa menentukan pilihan dan arah hidupnya sendiri, bisa memilih untuk mencintai dan dicintai oleh siapa, memilih merindui dan ingin dirindui oleh siapa, memilih ingin memimpikan apa dan siapa. Beruntunglah. Beruntunglah para perempuan yang seperti itu. 

Aku berharap kehadiran blog ini bisa melengkapi itu semua.[]

Komentar

  1. Wah... banyaknya postingannya. Jelas-jelas pemain lama.

    BalasHapus
  2. Incredible points. Great arguments. Keep up the amazing work.

    BalasHapus
  3. I really appreciate this post. I've been looking all over
    for this! Thank goodness I found it on Bing. You have made my day!
    Thanks again!

    BalasHapus
  4. My spouse and i still cannot quite think I could always
    be one of those reading the important guidelines found on your website.
    My family and I are truly thankful for your generosity and
    for providing me the chance to pursue my personal
    chosen career path. Appreciate your sharing the important information I got from your web-site.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…