Langsung ke konten utama

Menikmati Kopi Meresapi Cinta

Ilustrasi foto dari majalah.ottencoffee.co.id


Barangkali aku termasuk salah satu orang yang terlanjur mensugesti diri dengan kopi. Bahwa kopi itu sumber inspirasi. Sumber semangat. Hari akan terasa lebih asyik dan hangat bila diawali dengan secangkir kopi.

Secangkir kopi yang pahit, dengan sedikit rasa manis yang menjadikannya legit. Ditambah krema yang kental. Hmm...adakah yang lebih nikmat dari mencecapi itu? Ada, tentu saja ada. Mencecapi kekasih...

Nyaris setiap pagi sebelum memulai aktivitas, aku selalu memulai hariku dengan secangkir kopi. Rasanya seperti ada yang tak lengkap bila belum menikmati kopi di pagi hari. Omong-omong, aku menjadi penikmat kopi sejak masih usia sekolah dasar. Sekarang usiaku sudah lebih seperempat abad.

Saat ini aku sedang tergila-gila dengan sanger. Racikan kopi yang sepertiganya dicampur dengan krimer kental manis. Ini bukan kopi susu. Cocok bagi mereka yang bukan pencandu kopi, tetapi tetap ingin menikmati aroma dan cita rasa kopi yang khas.

Belakangan, seiring dengan promosi yang sangat masif, sanger menjadi naik daun. Minuman ini memang terus dipromosikan sebagai minuman lokal khas Aceh yang pamornya diharapkan bisa seperti kopi nantinya. Menjadi minuman kelas dunia. Beberapa tahun terakhir bahkan sudah digelar secara rutin Festival Sanger.

Bisa kukatakan kalau sanger ini menjadi minuman terfavorit kedua di Aceh setelah kopi hitam.

"Kalau di Italia ada kapucino, di Aceh ada sanger," begitulah komentar Fahmi Yunus, yang digadang-gadangkan sebagai "Bapak Sanger" saat menikmati kopi bersama rombongan dari Kementerian Kehutanan dan Uni Eropa di salah satu kedai kopi di Blang Padang pada Rabu, 21 November 2018 lalu.

Sejarah di balik lahirnya sanger

Sanger mini espresso @ihansunrise


Banyak yang memplesetkan sanger menjadi 'sangar', tak sedikit pula yang mengatakan kalau sanger merupakan akronim dari istilah 'sama-sama ngerti'. Berdasarkan sejarahnya, nama sanger memang berasal dari istilah sama-sama ngerti yang disingkat sanger. Belakangan istilah ini menjadi populer dan dengan sendirinya menjadi nama sebuah racikan minuman.

Konon di akhir-akhir era Orde Baru, saat itu Indonesia sedang mengalami masa krisis yang membuat kantong-kantong masyarakat melilit. Tak terkecuali kalangan mahasiswa. Dengan kondisi seperti itu mau tak mau gaya hidup terpaksa harus disesuaikan dengan situasi kantong. Para mahasiswa yang biasanya hobi minum kopi susu (baca: kopi krimer kental manis) sebagai pembangkit energi dan semangat, terpaksa mencari alternatif lain yang harganya lebih bersahabat.

Namanya saja mahasiswa. Pastilah selalu muncul ide-ide brilian dari otak mereka. Dalam situasi kantong terjepit sekalipun mereka tak kehilangan sisi kreativitasnya. Mereka pun bersiasat. Melakukan tawar menawar dengan si pemilik warung. Ingin tetap menikmati kopi susu yang gurih, tetapi dengan harga yang miring. Solusinya, kopinya dibanyakin, susu (krimer)nya dikurangin. Inilah hasil dari kesepakatan tak tertulis dari "sama-sama ngerti". Dengan begini simbiosis mutualisme tetap terjaga.

Saya jadi teringat cerita Prof. Sarwidi, pakar Rekayasa Kegempaan dan Dinamika Struktur dari UUI Yogyakarta dalam ceramahnya di Banda Aceh pada 12 September 2018 lalu. Ia mengatakan, dalam situasi sulit tak jarang malah menciptakan kondisi sebaliknya. Memunculkan peluang baru. Hal ini biasanya terjadi di lokasi-lokasi bekas bencana alam yang lama kelamaan menjadi sebagai destinasi wisata baru. Aktivitas ekonomi pun terjadi.

Begitu juga dengan munculnya sanger sebagai varian baru dalam khazanah kuliner Indonesia khususnya di Aceh. Siapa sangka, di balik kesusahan mahasiswa zaman itu, sanger kini menjadi minuman yang digilai sejuta umat. Tak peduli dia berkantong tebal atau kempes. Bukan lagi monopoli mahasiswa berkantong kering.

Beda Penyajian Beda Cita Rasa

Bila Anda sering mendengar istilah kupi sareng, sanger juga bisa diracik seperti itu. Belakangan sejak kopi Arabika 'mewabah', sanger yang tadinya diracik dengan kopi Robusta dengan cara disaring secara manual, kini disajikan dengan cara yang berbeda.

Bubuk kopi dipres dengan mesin espresso untuk mendapatkan sari pati kopi yang lebih kuat. Kremanya, yaitu cairan kuning tua yang muncul saat sari pati kopi terekstraksi lebih pekat dan terasa. Belakangan aku sendiri lebih suka menikmati sanger espresso ketimbang sanger yang diracik secara manual. Sudah lupa kapan terakhir minum sanger Robusta. Ya, beda cara penyajian tentu saja menghasilkan cita rasa yang berbeda. Dan soal rasa, setiap orang pasti punya pilihan yang berbeda.

Ada kebiasaan kecil yang kulakukan sebelum mengaduk cairan kopi dengan krimer di dalam cangkir, menghirup aromanya kuat-kuat. Membiarkan aromanya meresap jauh memasuki ujung-ujung syaraf. Kurasa itulah efek sugesti tertinggi yang kudapat saat minum kopi.

Menikmati Kopi Meresapi Cinta

Cinta dan kopi, menurutku memiliki persamaan. Sama-sama pahit, tetapi sama-sama digilai. Justru di situlah terasa nikmatnya. Rasa pahit yang melekat di ujung lidah, sama seperti nyeri perasaan karena sesak oleh rindu. Dari rasa pahit itulah kejujuran sebuah rasa tercipta.[]

-->

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Nggak Janji

Gimana ya rasanya kalau orang yang paling kita harapkan bertemu tiba-tiba mengatakan 'nggak janji ya' saat kita mengusulkan waktu pertemuan, walaupun cuma bercanda. Pasti rasanya enggak enak banget, aku tahu gimana rasanya, karena baru saja mendapatkan jawaban seperti itu hahaha. Rasanya tuh, seperti kantong plastik yang tadinya menggelembung penuh oleh udara tiba-tiba kempes.

Kalau merujuk pada teori 'bahasa kasih' yang dibuat oleh Garry Chapmann, aku masuk dalam kategori manusia yang bahasa kasihnya adalah 'kata-kata pendukung' dan 'sentuhan fisik'. Dua hal ini akan membuat aku merasa sangat disayangi dan dicintai. Aku sangat sensitif dengan yang namanya 'kata-kata', setiap kata yang diucapkan/dituliskan oleh seseorang, tak bisa sekadar lewat begitu saja.

Makanya, ketika tadi ada seseorang yang aku sangat ingin bertemu dengannya dan dia menjawab 'nggak janji ya' saat aku menawarkan waktu temu dengannya, keinginan untuk bertemu dengann…