Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2010

Dialog Dua Hati

Dialog Dua HatiOleh: Ihan Sunrise
Aku menyebutnya malaikat kecil. Matanya selalu bercahaya seperti lilin. Memberi kedamaian dan menenangkan. Senyumnya lepas. Mempesona siapapun yang melihatnya. Malaikat kecilku, berdiri gagah berpenyangga kaki yang kokoh. Tangannya menjuntai mungil. Seolah ingin mentasbihkan bahwa ia adalah raja bagi pemilik hati. Pun kepadaku!Itu adalah beberapa tahun yang lalu. Aku melihatnya pada selembar gambar yang diperlihatkan oleh seseorang. Tetapi ia begitu nyata dalam ingatanku. Ingatan yang terus tumbuh. Dan berkembang. Lalu menjadi dewasa.Malaikat kecilku telah menjadi pangeran! Pangeran yang gagah. Bahu kekar serupa perisai yang siap melindungi siapapun. Dada bidang sebagai pertanda kelapangan hatinya yang penuh cinta kasih. Tangannya masih menjuntai. Matanya masih berbinar. Ia berdiri di hadapanku. Dengan senyum berderai memancarkan kedamaian. “Tante Joana?” Aku terhenyak. Tak menyangka ia mewarisi suara berat ayahnya. Aku berusaha ters…

Nyak!

“Nyak!” Aku rindu panggilan itu. Lama tak lagi mengiang ditelingaku. Dulu, paling tidak seminggu sekali kau pasti meneriakkannya di telingaku. Lalu bertukar cerita di antara kita. Walau hanya tiga atau lima menit. Tapi dari tutur kata itu aku menyadari bahwa kau mencintaiku. Kau menyayangiku dengan tulus. Kau ingin melindungiku sepenuh hati. Maka sering kau tanyakan “Nyak peu haba?” melalui telepon genggammu.Aku begitu senang ketika kau memanggilku dengan nama itu. Bahagia. Mengharu biru rasanya. Sebab hanya aku yang dipanggil dengan sebutan itu. Nyak! Aku merasa disayangi, dicintai sepenuh hati.Tetapi anehnya ketika kita berhadapan aku menjadi begitu kaku. Tak tahu harus berbicara apa. Seperti gugup dan rasa enggan untuk bertatap muka. Kita memang dekat tetapi jarang sekali bercengkerama. Dan anehnya, bila fisik kita bertemu seolah kita tak membutuhkan kata. Kita dua orang berbeda dengan sifat dan karakter yang sama. Untuk itu kita tak pernah saling protes.Lalu aku tiba-tiba merasa s…

Asyiknya curhat pada Lelaki Bukan Suamiku

Listrik padam. Tepat ketika azan magrib berkumandang. Suara takbir yang suci terputus. Selanjutnya hanya kesenyapan yang menyambut malam. Ciri khas Indonesia bagian barat selama beberapa minggu terakhir. Sebal bercampur kesal kadang-kadang datang silih berganti. Bagaimana tidak pekerjaan harus tertunda karenanya, belum lagi aktivitas-aktivitas remeh temeh yang tidak bisa dikerjakan karena terkendala dengan listrik. Rasanya ingin berteriak keras-keras Indonesia banget!!! Sering mati lampu!!!Malas sendirian di rumah aku bertandang ke rumah tetangga. Aku mengetuk pintu. Tak ada sahutan. Kuuluk salam juga tak ada jawaban.Namun karena aku mengenal baik yang punya rumah ini aku langsung masuk. Kebetulan pintu depan juga tidak dikunci. Kupanggil sekali lagi, masih tak ada sahutan. Samar-samar terdengar orang berbicara dari dalam kamar. Ternyata ibu muda tersebut sedang berbicara dengan temannya melalui telepon. Akupun tak lagi memanggilnya.Aku duduk di depan tv, tapi sayangnya listrik padam …

My Dear

Bilik hati My dear... Terimakasihku kepada Tuhan karena telah mengirimkan seseorang sepertimu dalam kehidupanku. Aku tahu kau bukanlah sosok yang sempurna, tapi kau telah menjadikanku begitu sempurna. Sempurna mencintaimu, sempurna menyangimu, sempurna mengasihimu, sempurna merinduimu. Seperti sesempurnanya malam dengan atau tanpa gemintang. Seperti sempurnanya suaramu yang mampu leburkan emosi dan amarahku. Sama sempurnanya seperti kuatnya pelukanmu yang mampu halaukan semua gelisah dan resah dalam jiwaku. Di sanalah aku menemukan oase. Dalam sentuhanmu, dalam sapuan lembut jemarimu, dalam pelukanmu yang mendamaikan. Aku merasa caramu menepis cemburuku adalah tawamu yang khas. Yang telah menjerat hati ini sejak bertahun-tahun yang lalu. Kau begitu berderai-derai, kau begitu sederhana, tapi kau tak mudah. Kau teka-teki bagi kehidupanku. Kau permainan catur yang memeras tenaga dan pikiran. Tapi kau juga puisi-puisi indah yang memabukkan dan membuatku melayang. Kau adalah…

Dendam *

DendamOleh: Ihan Sunrise
Ini tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku begitu tak bersemangat untuk pulang ke kampung halaman. Mobil L-300 yang kutumpangi terasa terbang seperti angin. Melesat dengan kecepatan di luar batas maksimal. Aku berharap mobil ini berjalan layaknya seperti siput, supaya aku tak pernah sampai ke kampung. Tapi tiap kali aku membuka mata yang ada hanya jarak yang semakin dekat dengan kampung halamanku.Jalan-jalannya begitu kukenal. Tak asing. Masih seperti dulu. Kota-kota yang terlewati tak banyak perubahan yang berarti. Toko-toko yang berdiri masih dengan cat yang sama seperti dua tahun yang lalu. Saat aku terakhir kali pulang ke kampung. Pohon-pohon besar di pinggir jalan tak ada yang bertambah.Semakin dekat dengan kampung halaman hatiku semakin resah. Pikiranku dirundung kemarahan yang luar biasa. Benci dan rindu saling berkelindan dalam benak.Dua tahun bukanlah waktu yang lama. Tapi juga bukan waktu yang pendek bagi seorang ibu yang tak melihat …