Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2013

25 September setahun yang lalu

Kurasakan wangi tubuhmu kembali menempel di hidungku. Mengingatkanku pada tatapan lekat ke manik matamu yang bercahaya. Membuatku berdebar, bergelora.

Menyadari hari ini 25 September sungguh sangat menyenangkan. Membuatku begitu gembira, berbunga-bunga, tapi juga rasa yang entah yang hinggap bertubi-tubih.

Pagi tadi aku baru saja mengecupmu mesra, berbisik di telingamu, mengucapkan sepotong kalimat yang kuyakin sangat kau sukai. Selamat ulang tahun Cinta.

Baru pagi tadi kurasakan nafasmu begitu dekat, hangat. Pagi tadi itu setahun yang lalu, saat Tuhan memberi kita kesempatan untuk bersama. Setahun rasanya seperti baru kemarin, teramat sangat singkat. Tapi menjadi sangat lama karena rindu yang terus menerus mendera. Ah, rindu... andai saja kita tahu bentuknya seperti apa. Pasti akan mudah sekali menaklukkannya. Sayangnya hingga akhir waktu ia hanya akan hadir sebagai abstraksi yang rumit. Tak berpenjelasan.

25 September adalah hari di mana aku mencuri start untuk memberimu ucapan sel…

Pemuda imajinatif itu namanya Hijrah "Piyoh" Saputra

SEBENARNYA aku sudah lama ingin menuliskan profil pemilik Piyoh Design, Hijrah Saputra, dalam sudut pandang kacamataku sendiri. Selama ini aku memang sering menuliskan kiprahnya sebagai salah satu pengusaha muda Aceh, tapi itu untuk kebutuhan lain. Tentu saja citarasanya juga berbeda.

Rencana menuliskan tentang Hijrah sudah bercokol di benakku sejak usai Idul Fitri pada bulan Agustus lalu. Tapi terulur-ulur terus sampai sekarang sudah mau lebaran Idul Adha. Hari ini kurasa momen yang tepat untuk menulisnya karena pria muda itu sedang merayakan hari ulang tahunnya yang ke twenty nine my age alias ke 29.

Nama Hijrah sebenarnya sudah kudengar sejak tahun 2007 atau 2008 lalu. Waktu itu Hijrah yang ada dalam benakku adalah Hijrah Saputra yang sealmamater denganku. Rupanya aku salah. Itu kusadari setelah suatu hari aku nyasar di blognya di piyoh.blogspot.com. Pertemuan pertama kali dengan pria hitam manis ini pada akhir 2011 lalu, tepatnya di event Festival Kopi yang dibuat oleh Dinas Kebu…

Presiden, PKA dan Bupati yang gagal datang ke kampungku

NGGAK terasa Pekan Kebudayaan Aceh udah masuk hari keempat. Itu artinya masih tersisa sepekan lagi dari waktu yang ditetapkan sejak 20-29 September 2013. Meski belum setengahnya berlangsung namun event yang dihelat lima tahun sekali ini mulai menorehkan sejumlah persoalan. Tapi soal itu aku ngga mau cerita di sini.

Aku justru mau cerita soal prosesi pembukaan seremonial tersebut yang kabarnya agak berlebihan. Aku memang ngga datang langsung waktu hari H pembukaannya Jumat, 20 September lalu. Tapi berita tentang itu  (harus) terus kupantau sejak beberapa hari sebelumnya. Baik dari media mainstream maupun dari jejaring sosial, terutama Facebook.

Dari Facebook aku tahu sehari sebelum Presiden SBY tiba di Banda Aceh, daerah Kopelma Darussalam sudah "hijau". Ini bukan karena reboisasi daerah kampus oleh anak mapala, tetapi oleh seliweran tentara Angkatan Darat yang bertugas untuk mengamankan Presiden. Oh ya, ngomong-ngomong sebelum membuka PKA pada pagi Jumat, pada Kamis malam P…

Menemukan Kopi Sulthan di Festival Kopi

TADI sore sembari menunggu magrib aku sempatkan membaca kumpulan cerpen pilihan Kompas. Dari beberapa belas judul, setelah kubolak-balik aku berhenti pada satu judul yang menurutku cukup menarik, Bunga Kopi. Namun setelah membaca keseluruhan isinya, cerpen itu  tidak seperti yang kubayangkan. Tapi tetap ada yang menarik, beberapa kalimat menceritakan tentang harumnya bunga kopi yang menyemerbak.
Aku jadi ingat obrolan beberapa bulan lalu dengan bang Joe dan bang Sada, bang Joe ini budayawan kelahiran Samalanga namun besar di Gayo. Ia sendiri lebih suka disebut sebagai orang Gayo, dan sangat aktiv mengangkat isu-isu Gayo, terutama di bidang budaya. Sedangkan bang Sada waktu itu masih bekerja di sebuah kafe sebagai peracik kopi. Pemahamannya tentang kopi tentu saja patut diacungi jempol. Itung-itung sebagai riset, mengobrol dengan bang Joe dan bang Sada sangat menyenangkan.
Bicarain kopi dengan mereka seperti ngga ada habis-habisnya. Ceritanya detil dan bikin aku berkali-kali oo... gitu y…

Rumput Liar

Akhirnya hujan yang turun sejak siang tadi reda juga. Bau tanah basah menyeruak. Segar. Di pegunungan yang tak jauh dari tempatku tinggal, kabut mulai muncul. Putih. Bagai bunga-bunga es di lemari pendingin. Aku bergegas ke kamar. Mengambil syal berbahan wol motif garis putih biru dan langsung kucantolkan ke leher. Hawa dingin menusuk-nusuk. Masuk hingga ke sum-sum tulang. Setelahnya aku segera pergi.
Sudah beberapa belas menit aku menunggu taksi. Tapi belum ada satupun yang nongol. Aku khawatir sementara aku masih di pinggir jalan seperti ini, hujan kembali turun. Butir-butir air yang jatuh dari pucuk pohon angsana menetes di tubuhku. Menambah gigil kala angin bertiup agak kencang. Aku merapatkan jaket sambil mataku tertumbuk pada sebatang rumput liar yang tengah meliuk-liuk. Bunganya kuning pucat dengan beberapa kelopak yang masih utuh.
Segaris senyum melengkung di bibirku. Bersamaan dengan butir air yang tepat jatuh di di hidungku. Rumput liar itu. Kamu! Seolah telah mengirimkan ener…

Beulidi!

INI bermula ketika seorang teman bertanya, apa artinya "Glap". Lalu dengan yakin kujawab "Glap" adalah "Seupot", alias "Gelap" yang berasal dari bahasa Indonesia kemudian "diserap" ke dalam bahasa Aceh. Jawabanku ini bukan asal jawab saja, dulu waktu masih kecil sering kudengar nenekku mengatakan "Glap" sebagai pengganti kata "Gelap". Ternyata jawabanku salah. "Glap" adalah "Penjara" kata temanku. Hah? Aku salah dong!

Semua kukira sudah tahu kalau Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia ini memiliki berbagai suku yang majemuk. Di Aceh saja, tempat lahir beta, bahasanya macam-macam. Katakanlah yang umum-umum saja ada bahasa "Aceh" yang umumnya dipakai oleh masyarakat pesisir, bahasa "Gayo" yang umumnya dipakai oleh masyarakat di dataran tinggi Aceh, bahasa "Jamee" yang umumnya terdapat di wilayah barat selatan Aceh. Ada juga bahasa Alas, Tamiang, Simeulu…

Penantian

INI kali ketiga aku melihatmu. Engkau datang dengan sepotong senyum tertahan. Juga langkah yang sedikit tergopoh-gopoh. Tak jauh dari tempatku duduk engkau menarik sebuah kursi, melepas ransel yang menggantung di pundakmu lalu mengempaskan pantatmu di kursi berlapis busa.
Sebelum membelakangiku kau sempat melempar senyum yang datar. Tapi aku sempat menangkap ribuan kata yang tersembunyi di balik retina matamu. Ada kegembiraan yang kau tahan di sana, juga semedi ketakutan yang coba kau sembunyikan. Dugaanku bisa jadi benar, tak lama setelah kau duduk seorang pria datang mengampirimu.
Pria itu, tentu saja aku kenal. Tapi bukan itu yang membuatku tertegun, melainkan caramu merengkuh dan mencium tangannya dengan takzim. Sekali lagi, meski engkau membelakangiku seolah aku bisa membaca geliat bahasa badanmu. Bahwa engkau menaruh rindu yang teramat pada pria yang kau cium tangannya itu. Dan wajah pria itu, tentu aku bisa melihatnya dengan jelas karena ia menghadap ke arahku. Bahagia!
Aku masih …

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Doa kecil untuk sahabatku

KEMARIN seorang sahabatku ulang tahun, 4 September. Aku tak berniat menyebutkan berapa usianya sekarang, karena nanti usiaku jadi ketahuan juga berapa hahahah. Khusus untukku pribadi, aku merasa perlu berterimakasih pada Facebook yang diciptakan oleh Mark Zuckerberg. Kalau tidak, aku pasti bakalan lupa tanggal berapa sahabatku itu ulang tahu. Soalnya aku selalu kebalik-balik antara 4 September atau 14 September. Yang pasti bukan 44 September hehehe.

Sejak pagi aku sudah lihat peringatan yang termpampang di wall facebookku. Antara ingin menuliskan ucapan selamat dengan tidak. Kalau kutulis di situ, terlalu biasa, orang-orang (mungkin) akan melihat ucapanku untuknya. Kemungkinan lainnya adalah temanku itu tidak akan melihatnya, asumsinya pasti banyak yang menulis selamat ultah di wallnya, dan ia pasti akan meleatkan "kiriman"ku tanpa menyadarinya.

Akhirnya kuputuskan untuk tidak mengucapkan selamat di wallnya. Aku berniat membuatkan sepotong dua potong puisi dan kukirim ke in…

Sekeping kenangan tentang sekolah Kampung Pelita

PERNAHKAH kau merasa rindu? Bukan rindu pada seseorang, tapi rindu kepada tempat asalmu. Di tanah tempat kau dilahirkan, tempat kau dibesarkan dan tempat kau belajar a be ce dan de, juga huruf hijaiyah alif ba ta dan tsa...Di tanahitu kau belajar artinya memiliki tanah air, tempat lahir beta.

Rindu serupa itulah yang terus kurasakan. Sejak siang tadi, kemarin, dan kemarinnya lagi. Aku terkenang pada sebuah desa yang sering kusebut sebagai Kampung Surga. Di desa itu berdiri sebuah bangunan yang amat sangat "istimewa". Bangunan tempat aku belajar membaca dan menulis. Ya, rumah sekolah kami.

Bangunan sederhana yang berdiri di kaki bukit, berada di tengah-tengah kebun warga, berdampingan dengan jalan utama di kampung itu. Kau mau tahu apa nama perkampungan itu? Namanya Lorong Pelita, berada di pedalaman Aceh Timur (Pelita yang Tak Padam Dihempas Konflik). Ah, sungguh indah bukan? Tapi kegelapan adalah hal pertama yang kulihat di kampung itu. Dulu, sekitar seperempat abad lalu, …