Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2008

Catatan Rindu Jilid Pertama

Mengapa Selalu Bulan?? mengapa selalu bulan, kata ku waktu itu, sabtu malam yang basah. mengalirkan air-air bening dari kelopak mata yang sembab. mengapa selalu bulan yang pertama kali ku pandang saat hati ini rindu? adakah bayang mu disana? adakah senyummu menggantung disana? adakah kehangatan mu kau titip kan disana? meski mata mengatup karena aliran air yang berat. ku langkah kan kaki menuju ranjang kecil, ku bentangkan kembali catatan-catatan usang tentang kita. semuanya menceritakan tentang kemesraan dan sedikit air mata. air mata bahagia, kesedihan, dan juga air mata kemarahan. bahwa malam itu, dengan kesadaran penuh, dengan susah payah ku katakan, bahwa semuanya harus berhenti sampai disini. waktu yang telah kusepakati dengan hati ku sendiri. waktu beberapa tahun silam, saat kita baru menanam benih dari pohon bernama cinta. hanya berselang beberapa saat, bibir ini kembali tersenyum, menyenangkan hati bahwa tidak ada yang perlu ditangisi, waktunya telah tiba, semuanya sudah b

Sabda Cinta

cinta, ku tahu ia tak seputih kapas tidak juga seperti noda tapi kau bisa membuatnya lebih pekat dari noda kau juga bisa membuatnya lebih putih dari kapas suci, murni, bersih cinta, tak seindah yang kau bayangkan tapi kau bisa membuatnya menjadi sangat indah cinta juga tidak seburuk yang kau byangkan tapi kamu sendiri yang menjadikannya lebih buruk karena cinta alam ini ada karena cinta aku terlahir karena cinta kau dan aku bertemu karena cinta pula kau dan aku berpisah aku mau kau tak persempit makna cinta cinta itu seluas samudrasedalam lautan setinggi awan sekuat perasaan kita untuk saling memahami setulus nurani kita 11-24-2006, 01:28 PM

Dialog Menjelang Malam

dari jauh ia kembali bercerita aku jatuh cinta tapi entah kepada siapa aku rindu kepada anak dan istriku yang jauh bahkan aku menangis sekarang maafkan aku bila terlalu cengeng tidak! laki-laki bukan robot yang haram menangis menangislah dan berceritalah pada laut walau tak bisa menjawab ku yakin dia akan mendengar jeritan mu 11-19-2006, 10:20 AM

"Pohon, Perahu layar, Burung dan Tanah"

pohon aku adalah pohon yang sangat tergantung pada bibit, tanah, air, dan matahari juga pupuk kadang aku kurus, tatkala aku kekurangan nutrisi dan kurang perawatan kekuranan air juga bisa membuatku layu aku menjadi tidak sanggup melawan kencangnya angin karena tubuhku yang lemas aku adalah pohon yang ingin tumbuh subur dan besar hijau berbuah lebat sehingga menjadi peristirahatan burung-burung berkicau dan mereka bahagia perahu layar aku juga sebuah perahu yang tengah berlayar dilautan luas aku bisa menyaksikan matahari terbit indah tapi tak urung aku berhadapan dengan badai ombak yang besar dan karang yang menjulang yang kadang kadang tidak terlihat oleh mata hampir saja aku menabraknya lalu orang orang menjerit dan aku tersadar aku sedang melamun burung aku burung kecil yang selau ingin terbang dengan keterbatasan sayapku dengan keterbatasan daya jangkau ku mencari satu dua biji bijian sebagi bekal kubawa pulang nanti kadang aku harus berebut dengan elang besar atau rajawali

Terjemahan Kehidupan

apa yang kurasakan saat ini adakah yang bisa melukiskannya pertautan demi pertautan yang melahirkan gejolak dan rasa membuatku membumbung tinggi sejenak mengarungi nirwana dan keindahan mega mega mengantar ku pada rasa yang tidak terperi mengantar ku pada kesempuranaan rasa memeluk rindu dan cinta dalam bayang bayang diri yang tak pernah sempurna tapi cinta menjadikanku begitu sempurna menjadikanku begitu berarti menjadikan setiap debaran debaran menjadi sangat bermakna dan langkah langkah kaki adalah gumpalan gumpalan kebahagiaan entahlah aku tidak ingin menterjemahkan semuanya biar waktu pelan pelan yang mengabarkannya padaku dia akan menceritakan mulai dari A hingga Z setiap kata setiap bait setiap teriakan dan setia tangisan karena dari sanalah semua kelengkapan itu bermuara biarlah terulang ulang kembali karena warna kehidupan memang tidak selalu sama ada hitam dan putih ada merah dan hijau ada warna warna yang kadang melahirkan seribu tanya serahkan pada waktu karena waktu t

Rindukah itu?

hei, rindukah itu yang mencabik-cabik perasaan? yang mengoyak-ngoyak logika yang menyeret-nyeret hati hei, rindukah itu yang mengerat-ngerat jasad yang mencincang-cincang batin hei, rindukah itu yang mampu mengalahkan logika yang bisa membutakan mata yang mampu mengelabui akal apakah itu rindu? yang menyerupai Scylla* yang tumpah berserakan tak tentu arah yang mengalir dan terus mengalir tak mau berhenti ah, itulah rindu rupanya *Scylla: dewi yang berubah wujud menjadi monster dalam mitologi yunani, yang meneror pelaut diselat messina 09-02-2006, 09:18 AM

Dua Jiwa Yang Bertarung

Aku perhatikan kau dalam diam Ada yang bertarung disebalik ke-kekaranmu Tak juga ingin kau tunjukkan kelemahanmu Kecuali kecil-kecil selingan katamu Akalmu hampir saja lepuh Naluriku berhasil menjeling itu Bukan aku senang Sebab aku juga rasakan gejolak itu Tapi betullah dugaku Semua bisa saja terbalik Kepala dan kaki Kaki dan kepala 28/10/08 19:17 pm

Ketika AKu Berani Bilang, Aku Mencintai Mu

Bertrand Russel dalam sebuah pepatahnya mengatakan "Orang yang takut jatuh cinta berarti takut hidup, sedangkan orang yang takut hidup berarti sudah mati sepertiganya". Bukan karena ingin menuruti kata Bertrand, tapi aku memang harus meneruskan hidup agar aku dapat mengerti hakikat hidup yang sebenarnya; untuk mencintai dan dicintai. Untuk itulah aku belajar mencintai, dengan cara yang dewasa tentu saja, agar aku bisa menerima segala keadaan dan kondisi. Termasuk ketika harus menyaksikan hatiku patah berkeping-keping lalu kubangun lagi menjadi cinta. Belajar untuk tidak terlalu senang ketika cinta itu datang seperti yang diinginkan oleh hati dan perasaanku. Karena, dari caraku mencintai-lah aku belajar tentang kenyataan hidup yang harus dijalani. Ketika aku berani bilang, bahwa Aku mencintai Mu. Pada saat itulah aku telah mengetahui sesuatu, sesuatu yang akan berakhir jika waktunya tiba. Tetapi bukankah bagi yang selalu mencintai dan mengasihi waktu adalah keabadi

Sebab Kata Adalah Doa

Meski kesal dan sakit hati saya mencoba menahannya untuk tidak menggerutu, karena sadar bahwa sepenuhnya ini adalah kesalahan saya. Dengan mencoba bersikap tenang saya berusaha untuk tidak menuruti apa yang diminta oleh petugas Polisi Lalulintas yang pagi itu sedang mengadakan sweeping . Tetapi karena kesalahan ini begitu telak sayapun tidak dapat mengelak, Akibatnya saya harus mengeluarkan uang seratus lima puluh ribu rupiah untuk kesalahan saya itu. Dan juga kekonyolan, karena berani mengendarai sepeda motor tanpa SIM dan STNK. Ini pelajaran penting buat saya, bahkan jauh lebih penting dari nominal yang saya keluarkan tanpa kerelaan untuk sebuah keteledoran seperti itu. Saya merasa ini adalah teguran dari Allah kepada saya, karena pagi tadi saya sudah membohongi seseorang. Tentu saja ketika berbohong pagi tadi saya tidak sempat berfikir akan secepat ini 'hukuman' yang saya terima. Pagi tadi ketika saya akan berangkat kerja seorang teman datang ke ru

Lelaki Lelaki Tikus*

Sore yang memikat, langit-langit merah menggiring senja, diikuti rintik-rintik hujan gerimis setengah basah. Keduanya terlihat begitu kompak dan akur. Tak ada tanda-tanda saling berebut, baik matahari maupun hujan. Dari kekompakan keduanya lahirlah segaris pelangi yang melengkung indah dilangit sebelah barat sana. Melengkapi kesyahduan senja itu. Memuat siapapun yang melihat pasti berdecak kagum atas maha karya Tuhan yang dahsyat ini. Namun tidak begitu halnya dengan Sheila, gadis itu justru ingin segera menyudahi sore itu agar bisa lekas pulang. Bukan karena dia tidak suka hujan gerimis, bukan juga karena dia membenci pelangi. Musik yang mengalun lembut pun sama sekali tidak bisa memaksanya untuk duduk lebih lama lagi ditempat itu. Camellia-nya Ebiet G. Ade yang menjadi lagu favorite nya sejak dulu terdengar biasa-biasa saja. Kopi ginseng yang ia pesan tadi sudah dingin, masih tersisa setengahnya tapi ia tak berniat menghabiskan minumannya. Ia menjadi tak

Tentang Mimpi

Mimpi....kerap kali mengundang senang, gembira tapi tak urung juga gelisah, senang bila mimpi itu seperti bunga yang memberi harum dan segar, gembira bila mimpi hadir seperti yang diharapkan, tapi...menjadi gelisah ketika mimpi yang datang bertolak belakang dengan keinginan si pengingin mimpi. apalagi bila adegan dalam mimpi itu terlihat jelas hingga terbayang terus menerus sampai besok pagi, bahkan sampai ia akan menceritakan mimpinya pada seseorang, ataupun sesuatu... Seperti saya...si pemimpi yang menjadi gelisah sampai hari ini....betapa tidak, mimpi yang indah menjadi tidak menyenangkan ketika orang yang hadir dalam mimpi itu adalah orang yang tidak saya inginkan, alhasil saya menjadi geli sendiri hahaha...kadang sampai merinding hihihih.... beberapa minggu yang lalu, saat pulang kampung Ibu sempat memberi aba-aba, "Jangan terlalu sibuk bekerja..." katanya ketika itu, "Umur sudah cukup...". lanjutnya. walaupun tidak langsung mengatakan atau bertanya "ka

Angin Yang Memberi Kehangatan dan kesejukan

Kamukah yang datang bersama angin itu, ? Desisnya membangunkanku dari tidur, desaunya membuatku beranjak untuk segera melihatmu ke luar sana. menyibak selimut, menguatkan ikat pinggang dan segera membuka pintu. desaunya terdengar seperti bisikan, menyebut namaku berkali-kali. Ah, kamukah itu sayang? tapi dimana, dimana rupamu kau sembunyikan ketika angin menjemputku tengah malam tadi. dimana tanganmu agar aku bisa menyambut pelukan tanganmu, dan aku rebah dibahumu yang kokoh. hanya angin, dingin menyergap, memeluk dan menenangkanku, ia hanya jadi perantara, hati yang terlalu rindu ingin memeluk bayang jiwanya. Aku tahu, engkau selalu datang, meninabobokanku hingga aku benar-benar lelap. angin itu menjadi pertanda, ia berbisik, bergemerisik, berdesau, dan kau terus ninabobokanku. hingga aku benar-benar lelap. aku menandaimu yang hangat, lahir bersama keringat yang keluar dalam pori tubuhku. kau hadir menjadi penyejuk, ketika tangan ini dengan sendirinya menarik selimut untuk menutup

Seperti Purnama

Kau tahu, purnama selalu saja memberi inspirasi Memberi harapan dan menjadi teman yang baik Selalu datang tepat waktu dengan janji yang pasti Jadilah purnama untuk hidupku -------------------------------------- Purnama tidak selalu untuk dilihat dengan mata, Sayang Tetapi untuk dirasakan Kau tahu purnama tanpa harus menengadahkan matamu ke langit Begitulah cinta Bisa dirasa meski kita tak pernah tahu rupanya seperti apa

Menikah

laki-laki dan perempuan tentu saja merindukan yang namanya pernikahan, karena dengan menikahlah proses regenerasi anak manusia berlanjut. tapi membicarakan pernikahan tentu saja tidak berhenti pada proses regenerasi yang harus terus diperbaharui tetapi juga pada tahapan-tahapan lain yang harus dilalui hingga akhirnya sampai pada prosesi ijab qabul. menilik dari berbagai diskusi dan pengalaman, setidaknya ada beberapa hal penting yang harus dimengerti sebelum kita memasuki jenjang pernikahan. perencanaan bukan hanya di dunia bisnis, dalam membangun keluarga juga diperlukan sebuah perencanaan yang baik, seperti pepatah gantunglah cita-cita setinggi langit, paling tidak kita tidak akan menyentuh lumpur. begitu juga dengan menikah, bila kita sudah merencanakannya dengan baik paling tidak kita dapat menjalankannya dengan ritme yang lebih teratur. walaupun pada prinsipnya lelaki lebih mengutamakan perencanaan ini, tetapi tidak ada salahnya bila perempuan juga melakukannya. yang paling pent

Bulan yang Tak Setia*

Ngik…ngik…ngik…suara radio butut dari kamar Rosihan, bukan malah membuat telinganya enak tapi malah seperti akan tuli karena terlalu sering mendengar suara kresek-kreseknya. Belum lagi suara jeritan Alman dari halaman rumah yang menangis minta dibelikan es krim, padahal pedagang es krimnya sudah pergi sejak tadi. Rosihan mengaduk-ngaduk nasinya yang tengah mendidih, lalu meniup apinya agar lebih besar supaya nasinya tidak mentah. Matanya memerah dan berair karena perih oleh asap dan bajunya sedikit agak kotor dihinggapi abu yang beterbangan oleh tiupannya tadi. Setelah nasinya kering dan mengecilkan apinya Rosihan tergopoh-gopoh ke halaman rumah, dilihatnya Alman sudah berguling-guling di tanah, rambutnya sudah putih bercampur dengan tanah. Di bawah hidungnya cairan kental berlendir agak kehijauan membentuk angka sebelas. Rosihan menghela napas berat sambil mengurut dada melihat ulah bungsunya, marah dan kasihan berkecamuk

Cinta

Cinta I begini saja, daripada ribut-ribut lebih baik kita berdamain kan? dan matahari akan kembali tersenyum melihat kemesraan dan kehangatan kita... begini saja, kalaupun kau tetap marah biar aku yang mengalah mungkin kita perlu waktu lebih untuk saling memperbiki diri sesekali biar saja kita menjadi anak-anak menimati kecemberutan dan rajukan tanpa paksaan toh kita sama-sama manusia biasa kok yang bisa marah, bisa melakukan apa saja yang kita maui apalagi cuma sekedar merajuk itu mudah saja kan? biarlah air sesekali mengalir dengan ritme yang tidak biasa dan awan saling bergemuruh berunjuk rasa mungkin juga debu yang diterbangkan angin bisa menjadi perumpamaan cinta II kekasih-kekasih yang pergi ingin dijemput kembali tapi kujawab begini, juga minta ditunggu dengan setia jangan membunuh siang dan melupakan malam katanya lagi tidak !!! jawabku lagi aku tidak akan melupakan siapa diriku aku ingin seperti layang-layang yang terbang bebas di cakrawala aku ingin seperti burung yang