Langsung ke konten utama

"Pohon, Perahu layar, Burung dan Tanah"

pohon

aku adalah pohon
yang sangat tergantung pada bibit, tanah, air, dan matahari juga pupuk
kadang aku kurus,
tatkala aku kekurangan nutrisi dan kurang perawatan
kekuranan air juga bisa membuatku layu
aku menjadi tidak sanggup melawan kencangnya angin karena tubuhku yang lemas
aku
adalah pohon
yang ingin tumbuh subur dan besar
hijau
berbuah lebat sehingga menjadi peristirahatan burung-burung
berkicau dan mereka bahagia


perahu layar

aku juga sebuah perahu yang tengah berlayar dilautan luas
aku bisa menyaksikan matahari terbit
indah
tapi tak urung aku berhadapan dengan badai
ombak yang besar
dan karang yang menjulang
yang kadang kadang tidak terlihat oleh mata
hampir saja aku menabraknya
lalu orang orang menjerit dan aku tersadar
aku sedang melamun



burung

aku burung kecil
yang selau ingin terbang dengan keterbatasan sayapku
dengan keterbatasan daya jangkau ku
mencari satu dua biji bijian
sebagi bekal kubawa pulang nanti
kadang aku harus berebut dengan elang besar atau rajawali yang buas
lalu aku mengepakkan sayapku kembali
mencari dahan kecil dengan buah yang lebat
aku beristirahat sebentar
lalu terbang lagi
mencari peristirahatan hati


tanah

sejujurnya
aku ingin menjadi tanah saja
tanah becek atau tanah kering sama saja
biar yang lain memangdang ku hina
asalkan aku terus humus
agar pohon pohon tumbuh subur diatasku
manusia manusia bisa menanam padi dan sayur
sungai sungai mengalir diatasku
sungguh,
aku tidak ingin menjadi matahari yang menatapnya saja harus dari kejauhan
biarlah aku seprti air yang sejuk mengalir
dan seperti tanah yang selalu dipijak
tetapi semua membutuhkanku


09-07-2006, 04:05 PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.