Langsung ke konten utama

Orderan Surat Cinta

ilustrasi

Apakah menulis dan penulis sama?

Menulis adalah kata kerja (verb) sedangkan penulis adalah kata benda (noun). Merujuk pada kamus bahasa Indonesia menulis artinya membuat huruf (angka dsb) dengan pena (pensil, kapur, dsb). Di zaman canggih ini menulis juga berarti mengetik huruf-huruf di media digital.

Sedangkan penulis adalah orang yang menulis. Entah itu (menulis) naskah cerita, status di jejaring sosial atau postingan-postingan di blog.

Pertanyaannya apakah semua orang bisa menjadi penulis? Menurut hemat saya jawabannya IYA. Pertanyaan berikutnya apakah semua orang yang menulis berarti berprofesi sebagai penulis? Nah ini tergantung, karena yang namanya profesi harus diikuti dengan keahlian.


Okai, lupakan soal itu, hanya intermezzo.

Karena saya berniat mendalami dunia literasi, maka hal-hal yang menyangkut dengan proses kreatif saya di dunia menulis menjadi menarik. Ketertarikan saya di dunia tulis menulis sudah terlihat sejak masih SD. Indikasinya tak pernah kesulitan mengarang. Waktu SMA saya suka pelajaran Bahasa Indonesia tapi juga bosan dan merasa muak. Sukanya karena sudah pasti banyak cerita-cerita. Nggak sukanya karena terlalu banyak teori ini itu. Mau mengarang saja kok harus ribet. Maksudku, guru tidak membuat proses belajar mengajar menjadi sederhana.

Intensitas menulis mulai tinggi sejak SMA. Aku mulai belajar-belajar buat cerita. Yang paling teringat adalah nulis diary semalaman sampai penuh semua lembarannya. Diary itu kuberikan ke mantan pacar hahahaha. Trus si mantan katanya baca sambil berlinang air mata hiks.... Ini benar-benar aneh, sudah jadi mantan tapi masih saling curhat.

Di lain waktu ada temen yang putus sama pacarnya. Ehhh dia malah nyuruh aku untuk nulis diary. Mewakili perasaannya. Jadi, waktu aku menulis dia duduk di sampingku. Menceritakan apa yang dia rasakan lalu kuterjemahkan ke tulisan. Aku mendengar dengan serius. Takut salah mengartikan kalimat-kalimatnya. Bukan mudah lho menghadirkan ruh tulisan yang benar-benar merepresentasikan perasaan seseorang.

Intinya diary itu selesai kutulis dalam semalam. Si teman menitipkannya pada teman kami yang lain untuk diberikan pada mantan pacarnya. Bisa ditebak si cowok itu termehek-mehek deh membacanya. Dia bilang sangat tersentuh. Aku cuma tersenyum-senyum saja mendengar pengakuannya.

Waktu kuliah produktifitas semakin meningkat. Aku bergabung dengan organisasi kampus, ikut ambil bagian mengurus mading. Aku mulai buat-buat cerpen, puisi, pokoknya mulai sering merangkai cerita. Tahun 2006 setelah tsunami aku mulai ngeblog. Produktifitas menulis meningkat drastis deh pokoknya. Karena zaman itu belum punya laptop aku menulis di double folio dan buku. Bisa sampai keriting jari-jari tangan kalau lagi ngebut nulis. Tapi itulah romantika.

Menariknya beberapa teman ada yang meminta khusus agar saya menuliskan cerita tentang mereka. Apalagi kalau bukan tentang kisah asmara hehehe.... asyik ya....

Singkatnya kalau menulis hanya untuk memenuhi hobi, nggak perlu dibuar ribet, pake ketentuan yang standar saja. Yang penting tulisan itu mudah dipahami, pake EYD yang bener. Kemudian tidak menyinggung SARA. Itu aja....[]

Komentar

  1. Betoi, Kak, mau nulis aja kok pake ribet.. Tulis ya tulis aja. Hehe. Kalo saya tu sering dapat request dari teman2 untuk menulis (1) tentang mereka dan (2) terkait permasalahan di Aceh. 1 untuk cerita ringan, 2 untuk serius semisal opini. Pokoknya, menulis itu bukan sekadar hobi, tapi bisa menjadi jembatan aspirasi orang lain. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. pokoknya ngga ada rugi deh menulis, ya kan?

      Hapus
  2. ya makmur, kalau ini aku cuma fokus ke love-nya doang hehehehe...... intinya menulis itu lintas objek lah

    BalasHapus
  3. Apapun yg trjadi di sktr kita bs jadi tlisaan asal kita mau menulis.hmm jgn smpai ribet nyari ide.yg pntng ngt ttud mnulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener, menulis itu ngga sulit, yang sulit nentuin tema hahaa

      Hapus
  4. Menulis itu buat dokumentasi cerita kehidupan di sekitar kita dan apa yang kita rasakan, siapa tau nanti bisa diceritakan lagi untuk anak dan cucu kita, pastinya lakukan yang terbaik :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, daripada capek ceritain mending suruh buka blog kakek neneknya kan? :-D

      Hapus
  5. Bagiku menulis adalah terapi jiwa atau self-healing. Menulislah dengan hati dan rasakan efek yang menentramkan jiwa. Itu yang biasanya aku alami jika sudah menulis. Lalu apa yang dituliskan? Banyak, tergantung; orderan [jika menulis karena request], suasana hati [mood] dan ide yang ingin dicurahkan.

    Sepakat dg Ihan, bahwa menulis itu jangan pake ribet deh. Mengalir aja, dan pake ciri khas tersendiri, sehingga tercipta self branding. Jika sudah terlatih dan konsisten, tanpa membaca nama penulis pun, pembaca kita akan bisa menebak siapa sang penulis. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul kak, self healing, ahhh..... itung-itung ngurangin budget ke psikolog haaa

      Hapus
  6. Informasi untuk anda para blogger yang ingin mengikuti kontes seo. Th 2014 ini ada 4 situs yang menyelenggarakan kontes seo dan total hadiahnya hinga puluhan juta rupiah. Informasi ini sudah sempat di publish sebelumnya di forum ini.

    Kontes SEO ini bukanlah penipuan, karena di situsnya sendiri juga menampilkan informasi mengenai kontes seo.
    Siapapun boleh ikutan, baik pemula ataupun yang sudah profesional dan kesempatannya sangat banyak.

    Kontes Seo Batik Poker ( http://kontes-seo-batikpoker.com )
    kontes ini dipersembahkan oleh situs Batik Poker dan sudah berjalan dari tanggal 22 januari - 22 maret.
    Total hadiah 32 juta rupiah kepada 50 pemenang.
    Juara 1: Uang tunai Rp 10.000.000,-
    Juara 2: Uang tunai Rp 7.500.000,-
    Juara 3: Uang tunai Rp 5.000.000,-
    Juara 4: Uang tunai Rp 2.000.000,-
    Juara 5: Uang tunai Rp 1.000.000,-
    Juara 6-10: Uang tunai Rp 500.000,-
    Juara 11-20: Uang tunai Rp 200.000,-
    Juara 21-30: Uang tunai Rp 100.000,-
    Juara 31-50: Uang tunai Rp 50.000,-



    Kontes Seo Afa Togel ( http://kontes-seo-afatogel.com )
    kontes ini dipersembahkan oleh situs Afa Togel dan sudah berjalan dari tanggal 18 januari - 18 maret


    Total hadiah 25 juta rupiah kepada 50 pemenang.
    Juara 1: Uang tunai Rp 8.000.000,-
    Juara 2: Uang tunai Rp 6.000.000,-
    Juara 3: Uang tunai Rp 3.900.000,-
    Juara 4: Uang tunai Rp 1.400.000,-
    Juara 5: Uang tunai Rp 700.000,-
    Juara 6-10: Uang tunai Rp 400.000,-
    Juara 11-20: Uang tunai Rp 150.000,-
    Juara 21-30: Uang tunai Rp 100.000,-
    Juara 31-50: Uang tunai Rp 50.000,-



    Kontes Seo Eyang Togel ( http://kontes-seo-eyangtogel.com )
    kontes ini dipersembahkan oleh situs Eyang Togel dan akan berjalan mulai dari tanggal 26 januari - 26 maret

    Total hadiah 25 juta rupiah kepada 50 pemenang.
    Juara 1: Uang tunai Rp 8.000.000,-
    Juara 2: Uang tunai Rp 6.000.000,-
    Juara 3: Uang tunai Rp 3.900.000,-
    Juara 4: Uang tunai Rp 1.400.000,-
    Juara 5: Uang tunai Rp 700.000,-
    Juara 6-10: Uang tunai Rp 400.000,-
    Juara 11-20: Uang tunai Rp 150.000,-
    Juara 21-30: Uang tunai Rp 100.000,-
    Juara 31-50: Uang tunai Rp 50.000,-

    BalasHapus
  7. wah banyak ilmu berkunjung di sini, asyik juga baca kometar-komentar nyaa :-)

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…