Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2014

Anak yang Dihukum Ibunya

Aku sedang tidur. Di antara sadar dan tidak kudengar suara langkah kaki orang dewasa masuk ke kamar. Diikuti suara langkah anak kecil sambil menangis terisak-isak. Lalu mengempaskan pantatnya di ranjang tempat aku meluruskan badan.

Beberapa saat kemudian terdengar suara pukulan, tamparan -tidak begitu kuat- di pipi si bocah tadi. Akhirnya aku benar-benar terbangun tapi sengaja tidak membuka mata. Aku pura-pura tidur, sedikit pun tidak berkutik.

Orang dewasa itu - aku langsung mengenalnya begitu mendengar suaranya- sepertinya sangat kesal. Ia mencubiti anaknya berkali-kali, memukuli pantatnya, sampai-sampai anaknya yang berusia delapan tahun menangis hingga suaranya hilang. Beberapa makian yang diucapkan sambil berdesis turut kutangkap. Si anak meminta sesuatu yang tidak bisa dipenuhi ibunya saat itu juga. Lalu si ibu menghukum anaknya dengan hukuman fisik seberat itu.

Aku belum menikah, jadi belum tahu bagaimana rasanya menjadi ibu. Walau aku punya keponakan dan sepupu yang masih bal…

Arti Kehilangan

Tak kuasa kuhalangi senja agar tidak menelan sosokmu. Setelah malam-malam kemarin, mungkin kita hanya akan bertemu dalam mimpi. Atau tidak sama sekali?

Aku belajar menerjemahkan perih yang bukan berasal dari goresan mata belati, tak perlu kukatakan lagi, sebab nyeri itu begitu menusuk-nusuk. Tak ada luka yang menganga, tak ada darah yang mengalir, tapi sakit.

Di senja yang sebentar lagi sempurna gelap aku belajar arti kehilangan, bahwa kehilangan sesuatu yang bahkan tak pernah kumiliki, jauh lebih menyakitkan dari pada pasir yang kugenggam kemudian diterbangkan angin.