Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Sepakbola dan Pemenang Sejati

SAMPAI detik ini saya belum menemukan di mana letak 'kenikmatan' menyaksikan pertandingan sepak bola. Sekalipun pertandingan itu sekelas World Cup yang paling ditunggu-tunggu umat manusia sejagat.

Ya, saya kerap terheran-heran saat melihat orang-orang di sekeliling saya begitu antusias menunggu jadwal pertandingan sepak bola. Apalagi jika yang akan bertanding merupakan klub-klub sepak bola tersohor. Tentunya dengan pemain yang sudah menjadi bintang kelas dunia. Bukan lagi sekelas 'tarkam'.

Saya juga tak habis pikir saat seorang remaja perempuan tiba-tiba merajuk. Hasratnya menonton pertandingan antara Indonesia vs Thailand di Piala AFF gagal total, gara-gara adik lelakinya ingin menonton  film The Edge di chanel yang berbeda.

Kini bola bukan hanya milik laki-laki, tapi juga milik kaum perempuan. Sayangnya, saya belum bisa menyukai bola seperti saya menyukai senyumnya Neymar yang manis.

Bagi saya, yang menarik justru setelah pertandingan selesai. Menarik membaca berbag…

Cinta Itu Sederhana, yang Rumit adalah Kita

Perlukah aku menyebut namamu dengan garang seperti dulu. Kurasa cukup dengan perlahan saja. Biarlah seperti angin yang bertiup santai, tapi mampu merapatkan kelopak mata. Atau seperti embun yang lembab saja, tetapi dinginnya mampu menembus dinding pori.

Kita tak perlu riuh seperti bayu yang gebunya meremukkan dahan-dahan kering. Atau bergemuruh seperti ombak yang melenyapkan butir-butir pasir. Biarlah mengepak perlahan, seperti kilau sayap camar yang berpadu dengan gurat senja di ujung waktu.

Bahkan saat hati ini melafalkan sesuatu, aku berharap telinga ini tak menangkap suara apapun. Sekalipun itu berbentuk doa. Semua tentangmu kuharapkan menjadi senyap yang lengang.

Kukatakan bahwa aku selalu mengingatmu. Kalimat yang kuucapkan itu seperti anai-anai yang terlepas dari kuntum bunga widuri. Ia terbang ke mana angin membawanya. Melesat begitu saja dari bibir ini. Perlukah kita menyembunyikan rasa?

Rasa membuat kita memahami, bahwa hangatnya mentari pagi mampu menembusi tulang yang ter…

Definisi

senja
gaduh
bergemuruh

: definisi rindu

Saat Hujan Datang

SAAT hujan tak kunjung reda, apakah aku akan cemas? Tidak, tidak sedikitpun aku mengkhawatirkan tentang itu.

Justru hujan menghadirkan kebahagiaan, pada tanah yang selama ini telah keriput karena terlalu lama bertemankan kemarau, pada daun-daun yang selama ini menjadi amat sangat kusam karena saban hari bermandikan debu.

Dari tempatku duduk, aku mengamati butir hujan yang membentuk garis-garis panjang. Jatuh dari langit, kemudian memunculkan aroma yang sulit dilupakan indera.

Aku mengamati dedaunan yang bergerak perlahan menahan saat hujan menimpa tubuhnya, seperti ada rona yang tiba-tiba memantul di permukaannya.

Mungkin, serupa wajah seorang gadis yang telah lama menanti kehadiran kekasihnya. Lalu satu persatu permukaan daun-daun itu memunculkan wajahmu. Membuatku termangu, membuatku terkesima, akankah rindu ini sampai kepadamu?

Selamat Ulang Tahun, Adikku

Happy birthday my sista
Happy sweet seventeen

Selamat ulang tahun adikku,

Akhirnya kau genap berusia 17 tahun. Usia yang sering disebut-sebut sebagai 'gerbang' menuju kedewasaan. Sehingga banyak gadis remaja yang sangat antusias menyambutnya, dan kamu salah satu di antara mereka.

Itulah sebabnya jauh-jauh hari kau telah memberi 'sinyal' pada kakak. Kau bercerita sambil menangis. Kau bilang ini, kau bilang itu... kau sampaikan semua harapanmu, juga permintaan-permintaanmu.

Ya, kakak bisa menangkap apa 'pesan' yang ingin kau sampaikan lewat cerita-cerita itu. Kau ingin ada pesta kecil dengan kue dan beberapa potong lilin kan? Ada mamak, kakak, abang dan juga keponakan yang duduk mengelilingimu. Lalu satu persatu di antara kami mengucapkan; selamat ulang tahun, selamat ulang tahun.... selamat ulang tahun.

Kemudian setelah tiup lilin selesai, kau memotong kue dan memberikannya kepada mamak. Setelah itu mamak memeluk dan menciummu. Tapi sayangnya semua itu tidak terw…

26 September

Happy birthday, My September

"rasa paling tinggi adalah ketika ia tak bisa lagi dituliskan menjadi kata-kata"

Masihkah Aku Bernyali?

"Jangan Menyerah!"

"Setiap kali Anda ingin menyerah pikirkan orang yang Anda cintai!"

***

Tiba-tiba saya terbayang wajah ibu. Terngiang kembali permintaannya yang segera ingin pulang ke rumah. Sembilan bulan terakhir ini ibu tinggal bersama nenek, ditambah tiga bulan sebelumnya di rumah sakit, sudah setahun lebih ibu meninggalkan rumah kami di Aceh Timur sana.

"Ibu ingin sekali bisa pulang lagi ke rumah, rumah itu dibangun ayahmu dulu dengan keringatnya, sayang kalau ditinggalkan begitu saja apalagi kalau dijual...." begitu selalu ibu berkata setiap kali kami punya kesempatan mengobrol banyak. Kemudian suaranya menggantung begitu saja. Saya belum berani memastikan kapan ibu bisa pulang ke rumah.

***

"Anda tahu kenapa orang berperang? Bukan karena mereka membenci yang di 'depan' sana, tetapi karena mereka sayang pada orang yang di 'belakang' sana."

Suara serak pria yang sedang berbicara di depan membuat lamunan saya buyar. Saya m…

Wisata Halal Aceh, Kita Tidak Mulai dari Nol

Apa itu wisata halal? Berbekal pertanyaan ini, saya tidak pikir dua kali saat ada undangan dari Kementerian Pariwisata untuk mengikuti acara "Optimalisasi Peningkatan Wisata Halal Melalui Media Sosial" yang dibuat Deputi Bidang Pengembangan Pariwisata Nusantara, di Hotel Oasis Banda Aceh, Selasa, 6 September 2016.

Belakangan, pertanyaan itu terus berkelindan di pikiran saya, seiring dengan semakin banyaknya pemberitaan terkait wisata halal atau halal tourism ini. Aceh kan sudah menerapkan syariat Islam, lalu apanya yang perlu 'dihalalkan' lagi? Itulah yang terbayang oleh saya, mungkin juga mewakili pikiran kawan-kawan di seantero jagat. :-D

Alhamdulillah, pertanyaan itu terjawab sudah. Adalah Mas Taufan Rahmadi, 'bidan' yang telah mengantarkan Lombok ke event Halal World Halal Travel Summit & Exhibition 2015 menjelaskannya dengan sangat terang benderang.

Kalau boleh saya simpulkan, wisata halal itu kira-kira memiliki arti; "suatu konsep wisata alter…

Success Story; Setelah Papa Mengantarkan Receh untuk Biaya Kuliahku

Diiringi tepuk tangan dan hentakan musik, seorang pria berwajah oriental naik ke panggung.  Senyumnya lepas. Memperlihatkan kegembiraan hatinya yang kentara. Penampilannya kasual dengan setelan jas hitam dipadu celana jeans warna senada. Apalagi dengan postur tubuh yang ideal. Huh... tapi nggak bikin gagal fokus kok :-D
Sedetik kemudian, microphone yang dipegang oleh MC berpindah tangan. Sang MC -seorang ibu cantik berbaju merah muda- lantas turun panggung dengan anggun. Senyumnya tak kalah semringah. Sesaat sebelumnya ia baru saja memperkenalkan dengan lantang mengenai pria di atas panggung itu.
Andri Kristian Subur. Begitu MC menyebut namanya. Ayah dua putra yang juga seorang pengusaha asal Bandung. Pria ini punya latar belakang yang cukup unik, beruntung, saya sudah dapat bocorannya sejak tiga pekan lalu. 
Saking penasarannya, tak masalah harus membayar Rp 65 ribu agar bisa mengikuti seminar Pak Andri di Hotel Grand Permata Hati, Jalan Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh pada Sabtu s…

Lembang, Dataran Tinggi Nan Sejuk yang Bikin Kangen

"Dingin, seger, hijau, strawberrynya, makanannya enak, sate kelinci, hmmm..."
Itulah jawaban teman saat saya menanyakan apa kesannya yang pernah menginjakkan kaki di Lembang. Jawaban yang singkat, padat, namun sangat jelas.
Sekalipun tanpa bermaksud promosi, penjelasannya tentang Lembang cukup membuat saya penasaran pada salah satu dataran tinggi berhawa sejuk yang terkenal di Indonesia itu.
Seiring dengan naiknya pamor Kota Bandung, nama Lembang juga ikut naik daun. Pasalnya kecamatan yang terletak di Kabupaten Bandung Barat ini memiliki pemandangan alam yang eksotis. Sangat cocok dijadikan tujuan utama wisata bersama keluarga, pacar ataupun sahabat.
Jika Anda sering mendengar nama Gunung Tangkuban Perahu, itulah puncak tertinggi di Lembang yang mencapai 2.084 meter di atas permukaan laut. Tak heran kalau suhu di Lembang sangat sejuk, berkisar antara 17-27 derajat celcius. Tak bisa dipungkiri, keindahan kawah Tangkuban Perahu dengan legenda Dayang Sumbi dan Sangkuriang itu te…

Fan; Tentang Kegilaan Seorang Penggemar

MENGHABISKAN dua jam untuk menonton Fan kukira bukan penyesalan. Fan menawarkan suguhan berbeda dari sebuah film Bollywood yang lazimnya bertemakan asmara. Sama sekali tak ada bumbu-bumbu hubungan percintaan antara pria dengan seorang perempuan dalam film ini.

Fan berkisah tentang seorang pemuda bernama Gaurav (diperankan oleh Shahrukh Khan), yang menjadi penggemar berat seorang megabintang bernama Aryan Khanna (juga diperankan oleh Shahrukh Khan).

Gaurav melakukan semua hal yang lazimnya dilakukan para fan di dunia ini. Mengoleksi ratusan bahkan ribuan foto-foto idolanya, meniru gayanya, menghafal dialog-dialog tertentu dalam filmnya. Ia mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk sang idola. Ia juga menyebut dirinya sebagai Aryan Khanna Junior.

Jelang ulang tahun Aryan, Gaurav berangkat ke Mumbai. Ia berniat memberikan tropi kemenangannya di kontes Super Star dan manisan titipan ibunya. Pertemuan yang sudah diidam-idamkan selama 25 tahun hidupnya. Ia naik kereta api sebagai penumpa…

Perempuan yang Datang Menemuiku

"Aku ingin kita selalu bersama."

Suaramu begitu lirih. Nyaris kalah ditelan angin pantai yang menderu-deru. Lalu kau menyentuh tangan kiriku dengan tangan kananmu, dan menggenggamnya dengan sangat erat. "Kita akan selalu seperti ini," bisikmu di telingaku.

***

Aku masih ingat dengan jelas apa yang kau katakan dan apa yang kau bisiki di telingaku ketika itu. Saat kuingat-ingat ternyata itu sudah lama sekali, sudah belasan tahun. Tapi aku masih bisa merasakan hangat nafasmu yang menempel di telingaku sore itu. Darah yang tiba-tiba berdesir dan memacu adrenalin.

Aku bahkan belum lupa pada senja yang bergerak turun meningkahi kepergian kita. Saat inipun, aku masih bisa merasakan kuatnya cengkeramanmu yang berhasil membuatku meringis. "Rupanya Xena mewarisi kekuatannya padamu," candaku saat itu.

"Kenapa kau ingin agar kita selalu bersama?"

"Karena kamu adalah sajak-sajakku. Aku ingin terus membacanya."

"Seruni, kau memulai lagi."

Rindu Tak Terucap

~Jika hati berdegub kencang di malam selarut ini, percayalah, kita sedang saling merindui. Sudah kukatakan, rindu sebenar-benar rindu adalah rindu yang tak terucap~
Petang kemarin aku membaui aroma tubuhmu. Menarikku begitu dekat dan lekat, hingga bibir ini menempel bak dua kutub magnet saling bertemu. Bukan di bibirmu tentu saja, tetapi di bibir cangkir berisi bermili-mili minuman yang disebut kopi.

Setelah berpantang sekian lama, akhirnya aku takluk. 

Kopi dalam cangkir itu adalah kamu yang menjelma dalam wujud yang lain. Padamu aku selalu takluk bukan? 

Secangkir kopi dan sepotong senja sore kemarin mencapai klimaksnya malam ini. Saat angin dan hujan saling berkolaborasi memainkan harmoni. Lagi-lagi kau hadir dalam sekerat rintik hujan. Berdentang-denting mengirimkan suara ke gendang telingaku. Kenangan demi kenangan berloncatan dari alam ingat.

Dan, selain kopi, hanya kau yang bisa membuatku menjadi insomnia bukan?

Inilah jawaban dari kemarau berbulan-bulan, seperti perantau yang menemu…

Dialog Ihan dan John; Di Secangkir Kopi Beku Itu Akan Melumer

"Aku tidak pernah membenci angin, hanya karena dia bisa  menerbangkan daun-daun "
~Ihan Sunrise ~



Ihan Sunrise: bang John Kapoor Irani apa kabarmu?

John Kapoor Irani:Kabarku baik, namun angin selalu menghapus kabarmu

Ihan Sunrise:angin menghempas kita ke arah yang berlawanan, ada saat di mana kita tak kuasa menepis pusarannya

John Kapoor Irani: Hmmm...sebenarnya aku meragukan angin, krn pusaran itu kita sendiri yg menciptakannya ? Ceritamu bulan ceritaku bintang, padahal kita mendiami malam yg sama.Ceritamu bulan ceritaku bintang, padahal kita mendiami malam yg sama.Tak tau malunya kita Ihan Sunrise

Ihan Sunrise:John Kapoor Irani hmmm harus kujawab apa? bahkan saat kita bernaung pada langit yang sama kita harus rela untuk selalu berjeda, sebab kau malam dan aku siang. Hey...aku tak rela ada jeda,Hey...aku tak rela ada jeda,

John Kapoor IraniNah itu, seperti isyaratmu..aku tak tau malu seperti bulan, yang memainkan malam tanpa alasan. haruskah seperti kokok pagi? Layakny

11 Kutipan Tentang Cinta & Rasa

Jangan pernah merasa terpuruk, meski di saat kau merindukan butir-butir embun di pagi hari, yang kau dapatkan justru uap dari air mendidih ~Juni 2016_15:52 PM~

Jangan pernah bertanya tentang siapa di antara kita yang pertama kali jatuh cinta~11 Juni 2016~
Jika akhirnya kita bertemu itu bukanlah kebetulan, tetapi karena Tuhan memang menginginkan kita bertemu~12 Juni 2016~
Semua tentangmu telah kularung dalam air yang deras, kecuali sepotong syair yang terus terngiang di telingaku~13 Juni 2016 _ 11:31 PM~
Pagi mungkin saja mengingatkanku padamu, tetapi pada mentari kupercayakan untuk menghapus segala teriakan bisu~14 Juni 2016_09:01 AM~
Rinai hujan ini mengingatkanku pada pertemuan rahasia kita yang melewati lorong-lorong sembunyi, suatu kali, kita pernah sama-sama memunguti perasaan yang berlompatan di banyak situasi~14 Juni 2016_18:00 PM~
Kau hanyalah angin, terkadang datang untuk memberi lena, tapi lebih sering datang sebagai puting beliung, menghancurkan seluruh perasaan dan emosi ~15 Juni…

Ujung Pertemuan

"Ketika air matamu jatuh bersamaan dengan jatuhnya rintik hujan di langit, itu artinya kau hanya perlu bercerita pada semesta dan pemiliknya, bukan pada siapa yang ada di dekatmu, yang bahkan hingga kau pergi dia tak tahu karena apa air matamu luruh"
Ada yang tak pernah menipu, yaitu malam dengan gelapnya. Dan siang dengan terangnya.

Aku hanya ingin mengatakan tentang ujung dari sebuah pertemuan. Entah itu pertemuan semalam atau pertemuan bertahun-tahun silam. Sebuah pertemuan bukankah selalu berujung pada perpisahan? Dan perpisahan, bukankan itu awal untuk sebuah pertemuan yang baru?

Ya, sebuah pertemuan baru yang selalu dipersiapkan untuk kisah yang baru pula.

Aku selalu ingat, bahwa ujung dari sebuah pertemuan adalah jeda. Memberi kesempatan bagi jiwa untuk bergemuruh sekeras-kerasnya. Ujung pertemuan selalu menyisakan sesuatu yang tak tuntas. Dan aku tak pernah lupa, pada apa yang bergerak perlahan hingga akhirnya melesat mengikuti angin, ada kisah yang tercabik di sepan…

Arloji Takdir

"Kapan kau datang ke kotaku, aku ingin bicara denganmu," tanyaku di suatu sore, melalui email.

"Akhir Ramadan atau lebaran," jawabmu singkat.

"Baiklah, aku menunggumu," balasku kemudian.

***

Petang ini, ketika aku sedang berada di salah satu ruangan di rumah sakit terbesar di kota ini, aku kembali teringat padamu. Tepatnya pada percakapan singkat kita dua bulan lalu. Aku teringat karena Ramadan telah berakhir, pun Idul Fitri. Tetapi pertemuan yang kita bicarakan itu tak pernah terjadi.

Aku teringat, karena di rumah sakit inilah kita terakhir kali bertemu. Setahun yang lalu. Tepat di hari ulang tahunmu setelah hari raya qurban. Aku belum lupa saat melihatmu muncul di koridor rumah sakit, juga senyum yang kau lemparkan saat mata kita saling bersitatap untuk yang pertama kalinya. Mata yang memancarkan kerinduan. Aku juga masih ingat lirih suaramu ketika berbicara padaku.

Rasanya aku tidak percaya, pertemuan terakhir kita berlangsung setelah hari ulang tahun…

Merindukan Maaf di Hari Nan Fitri

Adalah hari ketika daun-daun merindukan hujan untuk membersihkan diri dari debu yang menggumpal.

Hari di mana benih-benih bersiap menjadi kecambah untuk tumbuh menjadi pohon yang baru.

Hari di mana ranting-ranting bersuka cita menyambut tunas-tunas yang baru.

Pun aku, 

Merindukan maaf untuk menghapus dosa-dosa yang berjelaga.

Merindukan maaf untuk khilaf-khilaf tak terduga

Merindukan maaf untuk prasangka-prasangka tak terkira

Akulah daun, benih, dan ranting itu....

Dan dimaafkan adalah hujan yang dirindukan, paling dinanti

Mohon maaf lahir dan batin

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 H


with love
Ihan



Akhir Kisah Bulan Juni

PADA akhirnya aku ada hanya untuk mengantarkan kepergian Juni. Tahun ini, semua pertanda itu telah terlihat sejak Maret hadir. Maret, yang seharusnya menjadi awal dari musim panas justru takluk pada mendung yang muram. Mentari hanya bisa kusaksikan di antara awan yang menggumpal dan butir hujan yang menumpuk.

Di bulan April, aku melewatkan kuning-kuning bunga angsana yang mekar begitu saja. Aku tak ingat menyesap wanginya yang abstrak. Aku bahkan tak memahami ketika bunga-bunganya yang kuning lebat itu berguguran satu persatu. Dan daun-daunnya kembali memuda lagi rimbun. Bukankah semua itu pertanda?

Di bulan Mei, kita sempat berbasa-basi sebentar. Saat mentari belum sempurna terbit ketika itu. Di antara kelopak mata yang masih enggan mengembang. Ya, basa-basi yang ternyata hanya mengantarkanku pada Juni yang kaku lagi beku.

Di bulan Juni, aku sadar bahwa semua ini telah begitu renta. Anggaplah ia sebatang pohon, pernah begitu rindangnya, pernah begitu hijaunya, lalu tiba-tiba menjadi…

Cara Pindah dari Blogspot.com ke Domain Pribadi

Alhamdulillah, akhirnya berhasil juga 'pindah rumah' dari ihansunrise.blogspot.com ke ihansunrise.com. Rasanya.... sangat senang sekali pastinya.

Begitu alamat ihansunrise.com muncul di tab browser, saya langsung terlonjak girang. Langsung ngasih tau temen yang duduk di samping. Langsung wa seorang webdev yang selama ini sering saya tanyain ini itu. Dan response dia cuma kasi tanda jempol doang. Huff.... Berikutnya adalah kirim pesan ke grup Gam Inong Bloger di wa.

Postingan ini anggap saja sebagai 'syukuran' atas rumah baru tersebut. Saya tulis hanya beberapa puluh menit setelah alamat dengan domain pribadi tersebut bisa diakses. Sebelumnya, mungkin perlu sedikit saya ceritakan mengapa baru beralih ke domain pribadi setelah 10 tahun lebih ngeblog. Alasanya ya karena saya baru maunya sekarang :-D

Sekian tahun berkecimpung (bekerja) di media online, tentunya sedikit banyak saya tahu apa kelebihan jika pakai domain pribadi. Tapi saya ini agak sedikit aneh, kalau hati be…

Untung Rugi Promosi Blog di Media Mainstream

Setiap blogger pasti ingin eksis (baca: terkenal). Postingannya diharapkan selalu dinanti-nanti khalayak, dibanjiri komentar, apalagi kalau postingannya sampai dibagikan oleh pembaca. Ugh senangnya pasti bikin minta ampun, bikin makin semangat ngeblog ya? Bikin ketagian menulis, menuangkan ide dalam 'secarik' new entri.
Dampak positifnya juga nggak main-main lho, selain ranking yang bisa terus singset, popularitas bloggernya juga kian terdongkrak. Jangan heran kalau nama-nama blogger dewasa ini tak kalah populernya dari nama-nama jurnalis beken. Sebut saja misalnya Marischa Prudence yang eks jurnalis Metro TV itu.
Pertanyaan berikutnya adalah, apa yang perlu dilakukan agar blog kita dikenal banyak orang, yang otomatis akan membuat pemilik blognya (blogger) ikut terkenal pula. Setiap orang pasti punya jawaban yang berbeda-beda soal ini. Tapi lazimnya sih promosi di sosial media yang kita punya. Itulah mengapa blogger punya akun hampir di semua sosial media, walaupun teman-temanny…

Sakitnya Dikhianati, Mengaku Duda Ternyata Masih Beristri

“Jangan pernah merasa terpuruk,meski di saat kau merindukan butir-butir embun di pagi hari, yang kau dapatkan justru uap dari air mendidih ~

Perempuan yang saya kenal itu, bisa jadi satu di antara banyak perempuan di dunia ini yang benar-benar berharap bahwa pernikahan adalah sumber kebahagiaan. Karena itulah dia menikah, hampir sepuluh tahun yang lalu. Dan saya turut menyaksikannya ketika itu.
Saya belum lupa bagaimana sepasang matanya yang indah menatap wajah suaminya manakala fotografer akan membidik mereka. Ya, sepasang pengantin baru dalam balutan baju pengantin. Tatapan itu sungguh membuat saya iri.Bagai kelopak mawar yang merekah menebarkan aroma semerbak, penuh binar, kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.
Meski cukup mengenalnya tapi kami jarang bertemu. Belum tentu setahun sekali. Pun begitu ada banyak hal yang saya ketahui tentangnya. Seperti hubungan mereka yang tidak mendapat restu dari orang tua si perempuan. Hal itu membuat resepsi pernikahan mereka terpaksa digelar di …

Ketika Ustaz 'Harus' Berpoligami

ISU cerai Ustadz Zacky Mirza dan istrinya Shinta Tanjung memang sedang menjadi bahasan hangat di media. Perceraian itu disebut-sebut terkait dengan praktek poligami yang dilakukan sang ustaz.

Tapi tulisan ini tidak akan mengulas tentang itu, karena, secara pribadi saya tidak mengenal dan tidak mengikuti perkembangan kasus Ustaz Zacky Mirza dengan istrinya. Saya khawatir apa yang saya tulis nantinya justru akan mengarah pada fitnah karena menerka-nerka.

Saya hanya ingin bercerita tentang seorang ustaz di kampung saya, yang pada akhirnya 'harus' berpoligami. Ya, poligami, suatu perbuatan yang tidak bertentangan dengan Islam tapi menjadi sangat amat ditakuti, khususnya oleh kaum hawa, karena berbagai propaganda.

Masyarakat memanggil ustaz tersebut dengan sebutan Abu. Ini istilah yang lazim bagi masyarakat Aceh. Serupa kiyai di Jawa. Abu adalah seorang ulama kharismatik di Aceh Timur. Beliau selalu dilibatkan di setiap lini kehidupan masyarakat, khususnya di desa kami.

Abu memili…