Langsung ke konten utama

Success Story; Setelah Papa Mengantarkan Receh untuk Biaya Kuliahku

Pak Andri@GoldenLifeInstitute GLI

Diiringi tepuk tangan dan hentakan musik, seorang pria berwajah oriental naik ke panggung.  Senyumnya lepas. Memperlihatkan kegembiraan hatinya yang kentara. Penampilannya kasual dengan setelan jas hitam dipadu celana jeans warna senada. Apalagi dengan postur tubuh yang ideal. Huh... tapi nggak bikin gagal fokus kok :-D

Sedetik kemudian, microphone yang dipegang oleh MC berpindah tangan. Sang MC -seorang ibu cantik berbaju merah muda- lantas turun panggung dengan anggun. Senyumnya tak kalah semringah. Sesaat sebelumnya ia baru saja memperkenalkan dengan lantang mengenai pria di atas panggung itu.

Andri Kristian Subur. Begitu MC menyebut namanya. Ayah dua putra yang juga seorang pengusaha asal Bandung. Pria ini punya latar belakang yang cukup unik, beruntung, saya sudah dapat bocorannya sejak tiga pekan lalu. 

Saking penasarannya, tak masalah harus membayar Rp 65 ribu agar bisa mengikuti seminar Pak Andri di Hotel Grand Permata Hati, Jalan Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh pada Sabtu siang, 27 Agustus 2016.  No free lunch bukan? Lagipula, saya juga penasaran pada hotel yang tadinya merupakan rumah sakit ini. Tanpa berganti nama, rumah sakit ini bersolek menjadi hotel yang keren. 

Setelah warming up sedikit, Pak Andri mulai ketuk-ketuk microphoneIt's mean acara yang sesungguhnya akan segera dimulai. Sesuai topik, Pak Andri akan membahas tentang gimana caranya kita membangun bisnis sendiri. Tepatnya bisnis yang long term, bukan yang cuma bisnis yang setahun dua tahun. Kebetulan, akhir-akhir ini saya kepikiran terus ingin punya usaha sendiri. Tapi usaha apa? Makanya saya putuskan untuk hadir di sana, siapa tahu dapat ide jitu.

Pak Andri mengawali ceritanya (baca; materi) dengan flashback ke masa lalunya. Alkisah beliau ini dulunya berasal dari keluarga yang berada. Orang tuanya pengusaha sukses. Bayangkan saja, waktu SMP ke sekolah diantar pakai Mercy keluaran terbaru tahun itu (beliau nggak nyebutin tahun berapa, tapi prediksi saya sebelum tahun 90-an). Keren banget kan guys? Orang tuanya punya puluhan truk untuk menjalankan usahanya, dan punya beberapa rumah sekaligus.

Tapi, yang namanya hidup seperti pepatah bilang roda selalu berputar, kadang di atas kadang di bawah. Nah, begitu juga yang dialami oleh orang tuanya Pak Andri. Usaha mereka bangkrut, truk yang banyak itu terpaksa dijual, begitu juga rumah-rumah mereka. Singkatnya semua aset udah nggak ada lagi. Sementara mereka harus bayar cicilan bank yang nggak sedikit. Sampai di sini saya tercenung, kok nasibnya sama amat ama saya hikz....

"Puncaknya pas saya SMA, eh bukan puncak, tapi jurang ya... karena lagi jatuh sedalam-dalamnya,kata Pak Andri dengan gaya jenaka. 

Selera humor Pak Andri cukup baik menurut saya. Ah, bukan, tepatnya ia seorang komunikator yang andal. Materi-materi yang terkesan berat dan rumit berhasil disampaikan dengan gaya kocak dan jenaka, sehingga, walaupun seminarnya setelah siang sama sekali nggak bikin ngantuk. Apalagi sesekali diselingi dengan recognize, jadinya nggak bosan. Saya merasakan aura yang positif menyebar di seluruh ruangan. 

Back to Pak Andri. Kondisi keuangan orang tuanya terus memburuk hingga ia masuk perguruan tinggi. Sebenarnya, kata Pak Andri, kekurangan uang tidaklah terlalu bikin menderita. Yang paling sakit adalah ketika melihat orang tuanya yang bahkan untuk tersenyum pun tidak bisa lagi. Hilang sudah keceriaan di wajah mereka. Lagi-lagi saya membatin, duh... kok sama ya seperti yang saya alami...

Kalau pulang ke rumah selalu dengan wajah kusut, capek, baju lusuh. "Kadang sampai rumah sudah tengah malam, kecapekan langsung tertidur di sofa. Itu di tangannya ada tiket udah lecek, bayangkan, papa saya yang tadinya ke mana-mana naik mobil pribadi sekarang naik metro mini." 
Suatu ketika Pak Andri harus bayar uang kuliah sebelum ujian. Seminggu sebelumnya ia sudah 'lapor' pada si papa. Ia menunggu, sehari, dua hari, belum ada 'sinyal' dari papa.  Di hari ketiga ia memberanikan diri untuk menanyakan, dengan enteng papanya jawab 'iya'. (Begitulah orang tua pada anak, pantang rasanya bilang tidak). 

Menunggu lagi, hari keempat, kelima...

"Kapan terakhir bayar SPP?" tanya papanya di hari H.

"Hari ini, Pa."

"Oh ya sudah... nanti papa anterin ke kampus."

"Bapak ibu Anda tahu apa yang terjadi? Itu di hari H papa saya datang ke kampus bawa uang untuk bayar SPP saya banyak sekali, banyak maksudnya karena uang yang dia bawa itu recehan, jumlahnya waktu itu lima ratus ribuan, tapi karena ada uang seribuan, uang seratusan jadinya kan banyak sekali..." sampai di sini suara Pak Andri menjadi sendu. 

Air mata saya mengambang. Apa yang ia sampaikan begitu merasuk hati. Wajah ibu saya tiba-tiba hadir di depan mata.

"Setelah uangnya saya terima papa saya pamit pulang, saya ikuti, saya ikuti sampai papa saya nggak kelihatan lagi. Papa saya ke kampus naik vespa butut, beliau diboncengin orang karena papa saya nggak bisa bawa motor. Hati saya hancur. Waktu itu saya bertekad dalam hati, mendingan saya nggak kuliah deh daripada harus memberatkan orang tua saya."

Mirisnya lagi uang-uang itu hasil utang sana-sini. Sejak saat itu Pak Andri mulai memanfaatkan peluang apa saja agar bisa menghasilkan uang sendiri. Ia  bahkan pernah menjadi pedagang sepatu dengan upah yang sangat sedikit. Menawarkan sepatu dari satu toko ke toko lainnya. Sampai akhirnya ia berhasil membangun bisnis retailnya sendiri. 

Ia sudah melalui jalan yang sangat panjang, banyak kelokan, melihat banyak fatamorgana, mengalami banyak penolakan, tantangan, tapi satu hal yang membuatnya terus bertahan. Ketika jatuh ia bangun lagi, jatuh, bangun, jatuh, bangun, jatuh lagi, bangun lagi! No short cut!

"Cita-cita saya cuma satu, saya ingin membahagiakan orang tua saya. Saya tidak tega melihat papa saya dikejar-kejar hutang, ditunjuk-tunjuk orang di mukanya dan papa saya nggak bisa berbuat apa-apa padahal beliau itu jago hampir semua cabang bela diri," katanya dengan intonasi suara yang melambat.

Waktu dua jam rasanya terlalu singkat untuk mendengarkan cerita Pak Andri. Dan apa yang saya tuliskan di sini tidaklah menggambarkan kenyataan (seminar) yang sebenarnya. Saya bersyukur bisa mendengar cerita sukses dari orang yang sudah sukses. Jadi kalau ilmunya diterapin sudah teruji duluan. Setidaknya pulang dari seminar ini saya membawa pulang satu harapan; bisa mengembalikan senyum ibu.

Banyak hal yang saya dapatkan, semangat, motivasi, inspirasi, dan yang paling penting adalah tentang keputusan. Keputusan untuk bergerak! Karena, kata Pak Andri sukses itu adalah pergerakan.[]

Komentar

  1. Kalau baca tulisan model begini, sedihnya berasa banget :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Ubai, aku aja sampai berlinang waktu dengarnya :-)

      Hapus
  2. Kak Ihan, kisah beliau inspiratif banget yaa. Bikin mewek plus malu kalau masih malasan belajar. Makasih kak sudah menuliskannya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya benar Isni, apalagi kalau dengar langsung :-) thanks sudah berkunjung dan meninggalkan jejak

      Hapus
  3. Orang sukses yang sudah mengalami jatuh bangun itu memang cocok jadi motivator ya Ihan. Kisahnya memang nyata dan teruji bikin kita percaya dan bisa belajar banyak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul kakak, bikin terinspirasi, cara mereka memotivasi juga caranya beda banget sama yang cuma teoritis :-)

      Hapus
  4. Thanks udh menulis kisah yang inspiratif

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…