Langsung ke konten utama

Fan; Tentang Kegilaan Seorang Penggemar

youtube

MENGHABISKAN dua jam untuk menonton Fan kukira bukan penyesalan. Fan menawarkan suguhan berbeda dari sebuah film Bollywood yang lazimnya bertemakan asmara. Sama sekali tak ada bumbu-bumbu hubungan percintaan antara pria dengan seorang perempuan dalam film ini.

Fan berkisah tentang seorang pemuda bernama Gaurav (diperankan oleh Shahrukh Khan), yang menjadi penggemar berat seorang megabintang bernama Aryan Khanna (juga diperankan oleh Shahrukh Khan).

Gaurav melakukan semua hal yang lazimnya dilakukan para fan di dunia ini. Mengoleksi ratusan bahkan ribuan foto-foto idolanya, meniru gayanya, menghafal dialog-dialog tertentu dalam filmnya. Ia mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk sang idola. Ia juga menyebut dirinya sebagai Aryan Khanna Junior.

Jelang ulang tahun Aryan, Gaurav berangkat ke Mumbai. Ia berniat memberikan tropi kemenangannya di kontes Super Star dan manisan titipan ibunya. Pertemuan yang sudah diidam-idamkan selama 25 tahun hidupnya. Ia naik kereta api sebagai penumpang gelap karena ingin mengikuti 'jejak' Aryan di masa lalu. Bahkan ia menginap di Delite Hotel, kamar 205, hanya untuk bernostalgia dengan masa lalu sang idolanya.

Sebagai seorang penggemar fanatik keinginan Gaurav sebenarnya sederhana saja; sapaan hangat, jabatan erat dan tanda tangan Aryan. Tapi kenyataannya tidak begitu, ia tak ada bedanya dengan ribuan penggemar Aryan yang lain.

Yang ia dapatkan justru perlakuan buruk. Aryan memenjarakannya karena suatu kesalahan yang diperbuatnya hanya untuk mencuri perhatian idolanya. Polisi bayaran Aryan menggebukinya hingga babak belur. Di luar rencana, mereka harus bertemu di penjara.

Gaurav -yang belum mengetahui perbuatan Aryan padanya- girang bukan kepalang. Sambil menahan sakit ia terus berbicara banyak hal tentang Aryan. Menunjukkan antusiasmenya yang berapi-api. Tapi yang didapatnya justru sebaliknya, sikap Aryan yang dingin. Tanpa merasa bersalah Aryan malah mengatakan dialah yang telah menyuruh polisi menangkap Gaurav dan memenjarakannya.

Kaget dan kecewa. Dua hal yang tak dapat disembunyikan Gaurav. Ia tak menyangka, sekaligus tak terima dengan perlakuan itu. Sambil menahan sakit Gaurav mencoba mengingatkan Aryan pada kalimat yang pernah diucapkan si superstar di depan kamera; tanpa mereka semua aku bukanlah apa-apa.

Tak menyerah, Gaurav terus memohon agar 'senior' memberinya waktu sedikit saja. Hanya lima menit. Tapi dengan ketus Aryan malah menjawab; mengapa aku harus memberikan hidupku lima menit untukmu, bahkan lima detik pun tidak!

Kamar Gaurav dipenuhi foto Aryan Khanna


Gaurav yang awalnya sangat mengelu-elukan Aryan balik membencinya. Berkat kemiripan wajah mereka, ia menyusun rencana jahat. Karena putus asa, Gaurav lantas menjual toko warnetnya dan pergi ke London.

Di Museum Madame Tussaud ia datang dan menyamar sebagai Aryan Khanna. Penampilannya berhasil mengecoh pengunjung. Sesuai rencana, terjadilah keonaran dan keriuhan besar. Dan ia berhasil kabur dengan manis dari kejaran petugas.

Aryan Khanna, yang saat itu sedang berada di London sebelum penerbangannya ke Drubovnik, Kroasia tak bisa mengelak dari sasaran polisi. Ia ditahan dan diinterogasi, kemudian dilepaskan karena tak ada bukti kuat. Dalam pesawat pribadinya menuju Druvonik, Aryan menerima telepon dari Gaurav. Si Junior ingin agar ia meminta maaf. Tapi dengan sombongnya Aryan malah ingin 'menunjukkan' siapa dirinya.

Di Drubovnik, pertarungan antara junior dan senior semakin seru. Penyamaran Gaurav yang sempurna menghasilkan keributan besar di sebuah pesta pernikahan. Dampaknya konser Aryan di kota itu diboikot. Para sponsor menarik diri. Tak ada satu penonton pun yang hadir.

Aksi terakhir Gaurav adalah masuk ke rumah Aryan dengan mudah setelah berhasil mengelabui istrinya. Pemuda itu masuk ke ruang kerja Aryan dan mengacak-acak isinya. Lalu meletakkan piala kemenangannya di kontes Super Star yang gagal diberikan sebagai hadiah ulang tahun Aryan.

Fan merupakan film thriller India yang dirilis pada April 2016 lalu. Pesan dari film ini menurutku dapet banget. Apalah arti seorang superstar tanpa penggemar? Apa artinya seorang aktor, aktris, penyanyi dan selebritas lainnya tanpa penggemar. Siapa yang akan memuja-muja mereka? Siapa yang akan mengelu-elukan mereka? Siapa yang akan meneriakkan nama mereka di pentas-pentas, di konser-konser, di setiap pertunjukan? Siapa yang akan mengapresiasi karya-karya mereka? Siapa yang akan merecoki mereka dan mengejar-ngejar mereka hanya untuk meminta tanda tangannya? Nggak ada!

Para selebritas bukanlah selebritas tanpa adanya penggemar. Mereka menjadi berarti dan penting karena ada fan. Penggemar. Seperti kata si Gaurav; Gaurav lah yang menciptakan Aryan!

Tapi popularitas terkadang membuat si seleb ini lupa diri dan sombong. Mereka menjadi acuh dan hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri. Bahkan tak peduli pasa nasib para fan yang rela melakukan apa saja, termasuk rela mati demi sang idola. Persis seperti yang dilakukan Gaurav.

Selain alurnya, yang membuat film ini menarik tentu saja acting Shahrukh Khan yang sudah enggak diragukan lagi. Peran ganda aktor berlesung pipi ini membuat penonton (aku) benar-benar terkecoh. Greg Cannom berhasil mengubah Shahrukh Khan menjadi dua wajah yang berbeda.

Gaurav yang lugu, culun, polos, tapi bisa menjadi sangat ambisius kalau sudah menyangkut idolanya. Penyamaran-penyamarannya yang keren, dan gayanya yang konyol sangat menghibur. Gaurav mengingatkan kita pada 'kegilaan-kegilaan' yang dilakukan para fan sebenarnya dalam menunjukkan kefanatikan mereka pada artis pujaan.

Sementara Aryan Khanna adalah gambaran sosok superstar yang tampan, kaya dan terkenal. Kata-katanya adalah 'titah' bagi banyak orang. Di balik senyum manisnya di atas panggung ternyata menyimpan kesinisan dan keegoisan. 'Keakuan' yang sering ditunjukkan para selebritas tanpa pernah merasa bersalah.

Acting double role Shahrukh Khan dalam film ini patut diacungi jempol. Pokoknya recomended deh![]

Komentar

  1. emak gua suka bet sama pelem india bang.... kayaknya dia bakalan suka film ini dahhh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. dijamin pasti suka dahhh... tapi pelem ini nggak ada cinta-cintaanny broo :-D

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.