Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2013

Musim yang memekarkan hati

Februari tinggal sehari lagi terhitung sejak hari ini. Lusa Maret akan bertandang di musim yang belum beranjak dari basah. Jika aku tak salah mengingat, Maret ini akan membawa kita pada kisah sewindu yang semakin rumit.

Apapun itu, mencintaimu adalah anugerah, karena inspirasi bisa lahir tanpa kantung rahim yang sempurna. Ya, apapun itu asalkan tentangmu adalah kisah yang menarik, karena engkau adalah musim yang mampu memekarkan hati sepanjang tahun.

Terimakasih telah mencintaiku, memberi warna dalam hidupku, mengajarkan arti dewasa, bersabar, berbesar hati, dan juga keikhlasan, dengan cara berbeda; tanpa pengungkapan, tanpa perintah, hanya dengan keadaan. Ya, keadaan!

Selamat pagi cinta

Yours

Rindu Senyummu

"Semalam aku memimpikanmu," kataku tadi pagi. Saat itu aku belum lama sampai di tempat bekerja. Sambil mengedit pekerjaan aku menyempatkan diri mengirimkan pesan pendek untukmu. Memberitahumu perihal mimpi semalam.

"Mimpi apa?" balasmu beberapa saat kemudian.

"Mimpi bersamamu. Rindu melihat matamu," kataku.

"Oh,"

"Cuma bisa bilang oh?" balasku dengan nada bertanya.

"Ah ah ah lagi,"

"Ih,"

"Cuma bisa bilang ih?" tanyamu.

"I miss you honey," kataku.

"I miss you too say," jawabmu.

Setelah itu kabar-kabari pagi hari tadi pun selesai begitu saja. Kamu kembali sibuk dengan pekerjaanmu. Pun juga aku. Mimpi semalam bukanlah yang pertama kalinya aku alami. Sejak kita bersama entah sudah berapa puluh kali aku memimpikanmu.

Meski tak terjadi apa-apa dan tak menyelesaikan apa-apa, aku senang karena bisa menghadirkanmu di alam bawah sadarku. Tapi ada satu yang tak berbeda antara mimpi dan kenyataan;…

Life of Pi; Novel yang membuat kita percaya pada Tuhan

“DENGAN cepat hari menjadi siang. Perasaan lemah lunglai yang fatal merayapi tubuhku. Aku pasti mati tengah hari nanti. Agar kematianku lebih nyaman, kuputuskan untuk memuaskan sedikit rasa haus tak tertahankan yang telah begitu lama kuderita. Kuteguk sebanyak mungkin air. Kalau saja ada yang bisa kumakan untuk terakhir kali. Tapi sepertinya tidak ada apa-apa. Aku duduk bersandar pada tepi gulungan terpal yang berada di tengah-tengah sekoci. Kupejamkan mata, menunggu nyawaku meninggalkan raga.”

-------------------------------------- Itulah adalah salah satu paragraf yang menceritakan saat-saat di mana seorang pemuda berusia 16 tahun merasa sangat putus asa. Pemuda itu adalah Piscine Molitor Patel. Namanya yang susah disebut membuatnya menyingkat nama panggilannya menjadi Pi. Pi Patel. Pemuda itu berasal dari keluarga India; ia memiliki seorang kakak lelaki bernama Ravi.
Situasi di atas menggambarkan kondisi Pi Patel yang sedang terkatung-katung di tengah Samudera Pasifik. Kondisinya sang…