Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2008

Untuk Mak dan Ayah

Mak!Mak bekerja seperti ayahMenawar harga, menimbang lelahBila malam ia sering tak tidurMemikirkan hujan yang tak juga redaBila begitu terusMaka matahari yang sebenarnya akan redupSenyumnya!Maka redup pulalah senyumkuSenyum adikkuTapi Mak bekerja seperti ayahMengulum jerih dan perih dengan senyumMembungkus luka dan lara dengan kerja kerasMak seperti ayah!Hingga aku merasa seperti masih punya ayah03:19 pmOn sun, 30 nov 08

Kangen!Aku punya cara sendiri untuk mengangeni ayahYaitu dengan meninggalkan rumah buatan ayahLalu sesekali aku pulangKetika lebaran atau ketika kenduri untuk ayahDengan begitu ayah selalu menemuikuDalam mimpi yang nyaris nyataKadang berturut-turutDengan begitu aku tak perlu berbagi kangenPada ibuku, pada adik perempuanku, pada adik lelakikuAyah! Aku anak perempuanmu, ingin berterimakasihTelah kau ajarkan aku kemandirianDengan diammuDengan katamu yang sepatah sepatah, duluSekarang, melalui mimpi-mimpiAyah semakin muda! Semakin gagah!03:28 pmOn sun, 30 nov 2008


Mimpi!Aku…

Nama Yang Menjadi Prasasti*

Di telinga istrinya, dulu berpuluh-puluh tahun yang lalu setelah ia menikahi Syaheera. Laki-laki itu pernah berjanji, berbisik mesra: aku akan selalu mencintaimu. Akan selalu setia padamu. Lalu ia membisikkan kata-kata tersebut pada sebelah telinganya yang lain. Perempuan itu tersenyum senang. Hatinya bagai dihinggapi seribu Marpho Amattonte. Tubuhnya bergetar ketika lelaki yang sangat dicintai menyentuh kedua pundaknya. Lalu merengkuhnya dalam pelukan yang panjang dan damai.

Tetapi sekarang, setelah ia merasa umurnya tak lagi panjang. Laki-laki itu baru menyadari bahwa ia telah menjadi pengkhianat sejati. Ia telah melanggar janjinya sendiri. Celakanya, ia baru menyadari semua itu sekarang. Ketika ia sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri, lalu memeluk Syaheera dan berkata: aku akan selalu mencintaimu. Akan selalu setia padamu.

Lelaki itu terdiam dalam tidurnya. Ranjang termahal yang dulu ia beli beberapa bulan setelah menikah telah menopangnya selama puluhan tahun tanpa pe…

Jari Jari Istriku*

“Tanganmu indah sekali, Dik,” ucapku suatu malam.

Saat itu kami tengah makan malam berdua di sebuah kafĂ©. Kami sengaja mengambil tempat agak di pojokan agar lebih leluasa dan tidak menjadi perhatian orang-orang. Sebaliknya kamilah yang menjadi leluasa untuk memperhatikan orang lain. 

Kebetulan malam itu agak sepi karena bertepatan dengan Minggu malam, anak-anak muda tidak banyak berdatangan karena besoknya mereka harus sekolah dan mungkin malam ini harus menyiapkan tugas yang diberikan gurunya di sekolah.

“Aku selalu bernafsu setiap kali melihat tanganmu dengan kuku-kuku yang indah terawat.” Kata ku lagi melihat tidak ada respons apapun dari istriku. Sesungguhnya ini bukanlah kali pertama aku berkata begitu di depan istriku, sangat sering bahkan dan tak peduli di mana pun berada.
“Sudah, sudah, makan saja dulu.” Jawabnya agak tersipu malu.
Aku tersenyum tipis melihatnya.
Mataku masih belum beralih dari jari-jari tangannya yang lentik, aku justru menatapnya dengan semakin liar.…