Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2009

Dialog Dua Hati

Aku menyebutnya malaikat kecil. Matanya selalu bercahaya seperti lilin. Memberi kedamaian dan menenangkan. Senyumnya lepas. Mempesona siapapun yang melihatnya. Malaikat kecilku, berdiri gagah berpenyangga kaki yang kokoh. Tangannya menjuntai mungil. Seolah ingin mentasbihkan bahwa ia adalah raja bagi pemilik hati. Pun kepadaku!Itu adalah beberapa tahun yang lalu. Aku melihatnya pada selembar gambar yang diperlihatkan oleh seseorang. Tetapi ia begitu nyata dalam ingatanku. Ingatan yang terus tumbuh. Dan berkembang. Lalu menjadi dewasa.Malaikat kecilku telah menjadi pangeran! Pangeran yang gagah. Bahu kekar serupa perisai yang siap melindungi siapapun. Dada bidang sebagai pertanda kelapangan hatinya yang penuh cinta kasih. Tangannya masih menjuntai. Matanya masih berbinar. Ia berdiri di hadapanku. Dengan senyum berderai memancarkan kedamaian. “Tante Joana?” Aku terhenyak. Tak menyangka ia mewarisi suara berat ayahnya. Aku berusaha tersenyum. Namun kekakuan dan kegamangan telah dulu meny…

Hilang

Miguel de Cervantes pernah mengatakan bahwa orang yang kehilangan kekayaan adalah mereka-mereka yang kehilangan banyak, sedangkan mereka yang kehilangan sahabat adalah kehilangan lebih banyak lagi, tetapiorang yang kehilangan keberanian adalah orang yang kehilangan segalanya.

Banyak hal yang bisa membuat kita tertawa, salah satunya adalah ketika kita membayangkan seorang teman kita, mungkin juga orang yang kita percayai tengah berpura-pura ketika menjawab panggilan telefonnya. Bisa saja yang dipura-purai itu adalah orang lain, mungkin juga kita sendiri. Dan bukan tidak mungkin itu sering terjadi. Dan tidak sedikit orang yang tidak menyadari ini. Dan mereka adalah orang-orang yang terbohongi. Dan yang membohonginya bisa disebut sebagai pengecut atau orang yang kehilangan keberaniannya.
Sampai kapanpun, saya tidak akan pernah lupa nasehat seseorang tentang teori 5 % nya (thanks a lot Bro! U are my guide for this). Dan sisanya 95 % lagi menurut saya adalah perencanaan. Sesuatu yang terenc…

Jangan Menangis di Kota Ini*

Jangan Menangis di Kota IniBy : Ihan SunriseIni bukan pertama kalinya Cut Arafah melakukan perjalanan ke luar kota. Di usianya yang ke 32 ia bahkan sudah menjelajahi ke lima benua. Hampir semua keajaiban di dunia pernah ia kunjungi. Bahkan ia pernah melakukan perjalanan ke Alaska dengan menggunakan Cruise termewah dan termahal. Ia telah mendapatkan begitu banyak kesenangan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya.Tapi perjalanan kali ini adalah perjalanan luar biasa. Yang sampai kapanpun seumur hayatnya ia tidak bisa melupakan setiap detik kejadiannya. Perjalanan yang telah melahirkan risau dalam jiwa keperempuanannya. Perjalanan yang telah menggrafir luka yang tak berkesudahan baginya, sebagai perempuan, sebagai istri, sebagai ibu. Ara, begitu ia dipanggil, akan selalu mengingat perjalanan ini.Ara tahu, alam tengah mencoba menghiburnya. Bahkan bintang berkelip lebih banyak dari biasanya. Bulan berbentuk sabit persis seperti mulut peri yang tengah menyungging senyum untuknya. Pohon-…

Melati Ini Untukmu

Suatu sore yang hampir tenggelam. Matahari memerah telur. Angin bertiup pelan. Sepi. Sunyi. Syahdu. Menjelang senja yang indah. Sekelompok Camar terbang melintasi angkasa. Mencari sarang tempat berteduh. Untuk menghabiskan malam. Menikmati bulan. Menikmati bintang. Sepasang kekasih. Saling diam menghabiskan sisa hari itu. Mereka duduk berdampingan di atas kursi kayu di sebuah tanah lapang yang luas. Wajah keduanya sendu. Namun masing-masing tak ingin mengatakannya. Sebab semua kata telah tersekat di ujung tenggorokan. Seperti tercekik. Seperti terikat. Sehingga sangat susah untuk diucapkan. Diam. Mereka larut dalam diam. Hingga matahari akan tenggelam menyambut gelap.Mulut gadis bergerak-gerak ingin mengucapkan sesuatu. Tetapi rasa malu membuatnya tertahan. Ia menunggu sesuatu yang akan dikatakan oleh kekasihnya. Hatinya cemas. Rasa takut menyelimuti perasaannya. Sang lelaki menoleh. Mendapati wajah kekasihnya memucat seperti bulan yangmenantang matahari. Ia sentuh jemarinya yang lent…

Cinta Yang Tak Sempurna

Masih terlalu awal untuk bisa dikatakan makan malam, tetapi ritual itu telah selesai dilakukan sebelum pukul enam sore. Oleh sepasang suami istri. Tetapi sang istri hanya menemaninya saja. Tidak ikut menyantap hidangan bersama sang suami. Gulai ikan Kakap, balado udang dengan potongan kentang, menjadi pilihan untuk menyambut kedatangan suaminya kali ini.Garis senang terbentuk di ruas bibirnya. Rasa puas terlukis pada wajah bundarnya. Suaranya nyaring. Setidaknya kali ini ia benar-benar tengah menikmati dirinya sendiri sebagai perempuan, sebagai seorang istri, sebagai ibu. Kelengkapan seperti inilah yang selalu ia dambakan, suami yang selalu berada di sampingnya, anak yang selalu bisa merasakan dekapan ayahnya kapan saja, makanan yang bisa dinikmati berdua, dan mungkin juga membuatkan kopi untuk lelaki yang amat dicintainya; suaminya.Tetapi setiap kali mengingat itu pikirannya terasa berhenti. Karena selalu saja takutnya menjadi nyata. Sang suami menyudahi makannya. Lalu ia cuci tangan…

Perempuan Yang HIdup Tanpa Cinta

Satu malam di awal bulan juli. Bulan serupa sabit meruncing. Namun tetap bersinar penuh goda. Bintang berkerlipan penuh pesona. Angin bertiup sepoi. Memabukkan dedaunan. Semilir membelai alam. Merdu. Syahdu.Seorang gadis berusia seperempat abad kurang setahun. Menikmati kesendiriannya pada ujung ranjang yang berbalut sprai batik berwarna coklat. Sesekali ia menyeruput air es yang dibelinya di warung sebelah. Dingin. Sejuk mengaliri kerongkongannya. Pikirannya berkelindan. Saling beradu gemuruh dengan dentingan pukulan meja oleh lelaki-lelaki yang bermain batu di warung sebelah. Matanya melirik penunjuk waktu di layar notebooknya. Hanya kurang 43 menit pergantian tanggal baru. Tetapi kantuk yang ditunggu tak kunjung tiba. Justru lalakan matanya hampir menyerupai bulan. Ia ingin, lelah yang kuat segera merengkuhnya dalam tidur yang damai. Ia rindu mimpi yang indah segera menarik dirinya dalam buai lelap. Tapi kelindan demi kelindan membuatnya tak bisa segera merasainya. Ia masih terdudu…