Langsung ke konten utama

Melati Ini Untukmu

Suatu sore yang hampir tenggelam. Matahari memerah telur. Angin bertiup pelan. Sepi. Sunyi. Syahdu. Menjelang senja yang indah. Sekelompok Camar terbang melintasi angkasa. Mencari sarang tempat berteduh. Untuk menghabiskan malam. Menikmati bulan. Menikmati bintang.

Sepasang kekasih. Saling diam menghabiskan sisa hari itu. Mereka duduk berdampingan di atas kursi kayu di sebuah tanah lapang yang luas. Wajah keduanya sendu. Namun masing-masing tak ingin mengatakannya. Sebab semua kata telah tersekat di ujung tenggorokan. Seperti tercekik. Seperti terikat. Sehingga sangat susah untuk diucapkan. Diam. Mereka larut dalam diam. Hingga matahari akan tenggelam menyambut gelap.

Mulut gadis bergerak-gerak ingin mengucapkan sesuatu. Tetapi rasa malu membuatnya tertahan. Ia menunggu sesuatu yang akan dikatakan oleh kekasihnya. Hatinya cemas. Rasa takut menyelimuti perasaannya.

Sang lelaki menoleh. Mendapati wajah kekasihnya memucat seperti bulan yang menantang matahari. Ia sentuh jemarinya yang lentik. Dingin. Dan begetar. Perempuan itu menunduk. Matanya panas. Ia ingin menangis. Hatinya bergetar lebih hebat.

“Aku takkan pergi lama. Aku akan segera menjemputmu. Doakan aku sukses di sana.” Ucap lelaki itu perlahan.

Perempuan itu menoleh. Ia makin tersekat. Matanya berkaca-kaca. Hatinya takut. Sebab ia banyak mendengar cerita-cerita orang di kampungnya. Lelaki-lelaki yang telah pergi takkan pernah kembali. di Kota lain mereka akan mendapatkan kehidupan yang lain. Yang lebih luar biasa. Perempuan yang cantik-cantik, kaya, menarik. Ia menjadi sangat cemas. Meragukan ucapan kekasihnya.

“Aku hanya mencintaimu” berkali-kali lelaki itu mengatakannya. Agar kekasihnya yakin bahwa ia akan selalu menyetiainya.

“Aku akan merindukanmu.” Serak suara perempuan tersebut menjawab kalimat demi kalimat dari kekasihnya.

“Tanamlah Melati di tanah ini setiap kali kau merindui aku. Jika suatu saat nanti aku kembali aku akan tahu seberapa banyak rasa rindumu untukku.”

Gelap telah menelan matahari. Dan mereka berpisah. Kembali ke rumah masing-masing. Dengan membawa perasaan masing-masing yang serupa kabut.

Hari-hari tanpa kekasihnya. Perempuan itu menanam setiap rindu yang ia punyai. Bibit-bibit Melati tumbuh di tanah lapang itu. Hatinya bergelegak setiap kali ia mencangkul, mengurai tanahnya sebelum bibit-bibit itu masuk ke dalam tanah. Ia berdoa setiap kali bibit-bibit itu tumbuh. Semoga kekasihnya cepat kembali. telah begitu banyak rindu yang ia tanam. Berpuluh-puluh Melati telah tumbuh.

Ketakutan-ketakutannya hilang setiap kali wewangian Melati menyentuh indra penciumannya dengan lembut. Wewangian yang menyuruhnya untuk terus setia. Wewangian yang menularkan kedamaian dalam hatinya. Sehingga hilanglah semua prasangka dan kecurigaan. Wewangian yang senantiasa melayangkan doa kepada kekasihnya.

Namun ketika bulan berganti tahun, sepotong kabarpun tak pernah ada, ia rindu kepada kata-kata lelakinya, setiap kali dering petugas pos terdengar ia menunggu dengan harap-harap cemas. Dan kecemasan itu berakhir dengan kecewa. Tak ada sepotong kabarpun untuk dirinya.

Lelakinya tak lagi mengingatnya. Mungkin ia telah mendapatkan pengganti dirinya yang cantik dan mempesona di sana. Begitulah pikiran kuat yang mengganggunya berhari-hari. Bukan hanya sakit, ia teriris-iris.

Tahun-tahun berganti, lelakinya mungkin telah benar-benar melupakannya, sementara Melati yang ia tanam terus bertambah. Setiap tahunnya ia memperluas kebun tersebut. Bahkan ia telah mempunyai beberapa orang untuk mengurus Melati-Melatinya.

Melati yang ditanam dengan cinta. Dan juga air mata. Dan dengan kerinduan. Dengan begitu ia kuat menjalani hari-harinya yang berat. Menahan gugatan orang tua, karena usia yang terus bertambah sementara ia tak siap menerima setiap laki-laki yang datang.

Sedangkan kebun Melatinya mulai dikenal banyak orang. Setiap harinya banyak orang berdatangan dari berbagai tempat untuk melihat kebun Melati yang luas itu. Ribuan orang berdecak kagum. Kebun Melati yang penuh ketenangan dan kedamaian. Keharuman yang memberikan cinta dalam setiap orang yang mendatanginya. Membangkitkan semangat dan juga harapan.

Kabar tentang kebun Melati yang luas itupun terdengar oleh seorang lelaki. Yang kini telah berbalut tuksedo hitam dan setiap harinya menyilangkan kaki di belakang meja. Pemilik seorang istri yang cantik dan kaya, dengan dua orang anak yang telah remaja. Setiap kali lelah menghampirinya, sebuah pigura yang berisi foto perkawinan mereka seolah menjadi penebus dari semua kejemuan itu. Ia tampan, istrinya cantik. Ia pintar, istrinya kaya. Ia gagah, istrinya penuh kharisma. Dunia ini benar-benar miliknya.

“Aku telah mendengar kabar tentang kebun Melati yang sangat terkenal itu.” Kata si lelaki pada sang istri. Pada suatu sore. Ketika matahari hampir tenggelam di telan waktu.

“Ya, aku ingin sekali melihatnya. Dan aku ingin kau membelinya untukku.” Kata sang istri manja, sambil memeluk mesra suaminya.

“Membelinya? Untuk apa? Bukankah kita bisa kesana kapan saja kita mau?”

“Aku ingin kebun Melati itu menjadi milik kita.”

Cinta. Adalah sesuatu yang tak terbantahkan. Sekalipun bulan, atau bintang. Niscaya ia akan melakukannya untuk istrinya. Sebab ia terlalu cinta. Dan tak ingin melihat mata istrinya menggantung mendung.

Maka jarak beratus-ratus kilo meter bukanlah sesuatu yang berat untuk dilampaui. Sepanjang perjalanan mereka berdua sibuk bercerita tentang kebun Melati itu.

“Sebentar lagi akan menjadi milik kita” berkali-kali sang istri bergumam senang penuh keyakinan.

Kedatangan suami istri tersebut menarik perhatian banyak orang. Mereka adalah orang yang sangat kaya raya dan terkenal. Kecuali perempuan pemilik kebun Melati saja yang tak tahu. Karena ia sibuk dengan rindunya. Sibuk dengan Melati-Melatinya. Hingga ia tak menyadari kalau lelaki yang telah beristri itu adalah orang yang sangat dikenalnya dulu.

Wajahnya telah berubah. Penampilannya khas orang kaya. Tuksedo mahal. Sepatu kilat. Dan cara berbicara yang teratur. Mereka sedang menawar.

“Sekalipun anda menukarkannya dengan nyawa anda, saya tidak akan menjual kebun Melati ini.”

“Tapi dengan harga yang kami tawarkan anda bisa membeli sepuluh kali lebih luas lahan yang lain, dan anda bisa kembali menanam Melati di sana.”

Perempuan itu menggeleng. Semuanya bukan karena uang. Tetapi untuk cinta. Untuk sesuatu yang bernama rindu. Ia meneliti wajah lelaki itu. Tampak tahi lalat kecil tepat di bawah dagunya. Tersentaklah hatinya. Mungkinkah lelaki itu?

“Kenapa anda menatap saya begitu?”

“Maaf, apakah nama anda Zal?”

Lelaki itu mengernyit. Bagaimana mungkin ada orang yang mengenalnya di kota ini. Dan ia tahu namanya.

“Anda...” perempuan itu berbalik.

Ia menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangannya. Ya. Lelaki itu adalah Zal. Kekasihnya dulu yang berjanji menjemputnya. Tetapi nyatanya belasan tahun terlewati begitu saja tanpa sepotong katapun. Hati perempuan itu terkoyak, tercabik seperti daging yang disayat dengan pisau tumpul. Perih. Jerih. Nganga. Oleh senyum bidadari di samping lelaki itu.

“Kau.....Aliya...”

“Akhirnya kau datang juga, untuk melihat sebesar apa rinduku untukmu. Hanya sebesar ini Zal.” Perempuan itu menebar pandanganya pada kebun Melati yang berkehtar-hektar luasnya.

“Maafkan aku Aliya.”

“Cinta adalah memberi kepada orang yang kita cintai. Memberi berarti kita yang berkorban, atau membayar harganya, dengan bekerja lebih, untuk bisa memberi lebih.”

“Mafkan aku!”

“Beginilah caraku memberi.”

Perempuan itu berlalu. Meninggalkan hatinya yang berkeping-keping. Berserakan seperti Melati-Melati yang gugur. (Ihan)

00:16 am

5 juli 2009

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.