Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2007

do da idi

alaihaido...do da idi boh gadong bi boh kaye uteun rayeuk sinyak hana peu ma bri ayeb ngeon keuji ureung donya kheun Allah hai do do da ida seulayang blang ka putoh taloe beurijang rayeuk muda seudang tajak bantu prang ta bela nanggroe wahe aneuek bek ta duek le beudoeh sare ta bela bangsa bek ta takoet ke darah ile adak pih mate poma ka rela jak lon tateh meujak lon tateh beudeoh hai aneuk tajak u aceh mube bak oen ka meube timphan meube badan bak sinyak aceh Allah hai po ilah homhak gampong jarak hana troeh lon woe adak na bule uloen teureubang mangat rijang troeh u nanggroe Allah hai jak lon timang preuk sayang riyeuk disipreuk pante oh rayeuk sinyak yang puteh meupreuk toeh sinaleuk gata boh hate

berperahu

aku cemburu dengan isyarat yang dia katakan, tetapi aku punya embun yang menyembuhkan ku. ku tatap matanya dalam-dalam, ada luka menggantung, hampir luruh seperti daun kering yang akan jatuh ke tanah. ku coba sentuh anak rambutnya, seperti bergetar karena otaknya yang mendidih. aku jadi serba salah, karena aku hanya teman dan orang jauh yang juga tidak mengenalnya dengan baik. aku burung kecil yang melihatnya dari dahan kecil yang meliuk karena angin siang. aku ingin berkicau lebih tapi aku tak bisa. tadi pagi kubuatkan sedikit puisi dari kertas lusuh yang kutemukan dipinggir jalan, lalu kuselipkan dari lubang jendela didekat kamar tidurnya. ia tidur lelap sekali. dengan bekas air mata mengering dipipinya yang kering. aku tersenyum getir. setidaknya apa yang kurasakan tak sepelik dan serumit dia. dan aku masih bisa tersenyum dan terus terbang dengan sayap yang patah sebelah. apakah berarti apa yang kusampaikan ini kawan? aku tak yakin sebab kita berasal dari padang rumput yang berbed

pantun kesepian

Banyak hari silih berlalu Datang dan pergi membawa rindu Di sini duduk aku selalu Dalam dingin pagi yang sendu Kekasihku entah kemana Hilir mudik mengukur jalan Tidak peduli aku merana Mungkin akan mati perlahan Pagi dingin senja berembun Siang lengang kabut malampun turun Hanya tangan menggurat pantun Karena hati yang sedih gegetun Ada awan di langit biru Membuat mata urung menatap Ada dendam dihati nan rindu Lewat kata mungkinkah terungkap Pinsil digigit mata menatap Hati sakit duka meratap Akhir cinta seperti gelap Di atas bantal sayang terlelap Libur panjang berujung harap Tiada surat alangkah berduka Berkata cinta janganlah kerap Tiada dijawab jadi petaka Mungkin kan sering mata berkaca Karena rindu dalam terukir Bukan karena buruk cuaca Janji bertemu ternyata mangkir Ada tanya di sudut hati Apakah cinta akan berakhir Bila nanti aku tlah mati Tiada lagi mata berair Kasihku pergi memburu berita Mambawa kabur kupunya asmara Setelah mengi

Buku Arab Jawi Kurang Diminati

Banda Aceh, Andalas Lapena kembali menerbitkan buku (kamis, 10/3) di Aula Perpustakaan Wilayah NAD. Kali ini yang diluncurkan adalah buku Fiqh Ibadah berbahasa Arab Jawi yang ditulis oleh Tgk. Muhammad Yahya dari pengajian Taklim Sunnah Samalanga. Buku tersebut merupakan yang kesepuluh diterbitkan oleh Lapena sejak berdiri pada tahun 2004 lalu. Sebelumnya pada tanggal 13/2 lalu Lapena juga sudah meluncurkan sebuah buku fiksi. Sayangnya animo masyarakat terhadap buku tersebut sangat kurang, hal ini bisa dilihat dari sedikitnya peserta yang hadir, berbeda sekali dengan kegiatan serupa yang dilakukan pada sebelum-sebelumnya hal tersebut diungkapkan oleh Sulaiman Tripa dari Lapena. Berdasarkan pantauan Andalas peserta baru mulai berdatangan ketika sudah dipertengahan acara dan tampak kurang antusias. Hal serupa juga diungkapkan oleh Tgk. Muhammad Yahya selaku penulis buku tersebut, kepada Andalas beliau mengakui bahwa peminat buku berbahasa arab jawi memang sa

Senandung Murung Bagi Negeri Ku

Apakah Tuhan tidak lagi sayang pada negeri ini? bukan, Tuhan sayang, karena itu musibah demi musibah diberikannya kepada negeri tercinta ini, negeri ini kaya, barangkali Tuhan hanya ingin kita menunaikan zakat dengan cara yang tidak biasa, dengan cara hilang harta benda, hilang keluarga dan sanak famili, aku teringat lagu masa kecil dulu, balon ku ada lima...meletus balon satu ...duarrr....hati ku sangat kacau...pagi ini, meletus lagi satu pesawat ku...duaarrr....hati ku amat sedih, sebab harga pesawat tak sepadan dengan harga balon merah kuning hijau, harga hati yang pecah karena balon tak setara dengan hati yang rusak oleh tubuh-tubuh yang gosong. belum lupa kan dengan lagu...naik kapal kecil takut goyang-goyang...naik kapal besar tidak punya uang...hari ini, naik kapal kecil dan besar sama saja, sama-sama goyang sama-sama mengeluarkan banyak uang, sama-sama mengeluarkan nyawa, sama-sama menakutkan, sedemikan seraknya kah sudah negeri ini? terlunta-lunta, tertatih-tatih, aku ngerih,

Mata Kekasih Ku

mata kekasih ku adalah mata telaga, begitu kataku suatu pagi pada matahari yang baru naik. mata kekasih ku seperti mata air yang sejuk dan bening, begitu kata ku suatu siang pada riuh burung didahan-dahan yang bergoyang. mata kekasih ku seperti api unggun, menyalakan kehangatan. mata kekasih ku ya seperti itu, ada air yang menetes, ada kilatan kerinduan. kerinduan ku untuk melihat matanya pun selalu menggebu-gebu, selalu membiru dan mengangkasa. kadang begini, aku tertidur dengan memandang matanya yang berkaca-kaca, dengan suaranya yang basah, dengan ungkapan cinta yang malu-malu itu. lalu meninggalkannya dengan tergesa setelah meninggalkan secari kata "cinta, aku pergi" lalu saat pagi-pagi, kali ini aku berteriak senang, sebab aku tidak meringkuk seperti biasanya dibawah selimut saat dia datang. "aku sudah lengkap...." kata ku sambil menggigit ujung bibir. "aku rindu cinta..." rindu-rindu ku berkumpul pagi ini, sejenak setelah aku berfikir kekasih ku te

surat yang tergesa

cinta... surat ini kutulis dengan sangat apa adanya dan dengan waktu yang tergesa-gesa, bukan ingin mengabaikan mu bukan juga ingin sok sibuk dan sampai tidak ada waktu untuk mu, tapi begitulah...antara sibuk dan tidak itu beda-beda tipis. seperti kita yang berlari dari ujung ini ke ujung sana, dari satu lorong ke lorong yang lainnya lagi. bahkan beradu dengan kecepatan waktu dan laju mesin yang gila. tapi sepertinya, waktu-waktu itu akan berpindah tangan, berputar seperti ruas jalan yang tidak berujung, tenangkan hati mu, lapangkan jiwa mu, agar kau tidak seperti ku, yang selalu risau dan gelisah setiap kali kau hilang dan jauh, yang selalu hiks hiks setiap kali kau bilang, sudah ya sayang... hhh...aku telah menjadi orang yang sangat kekanakan...