Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2007

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian VI

Keputusan ku sudah bulat. Aku akan memilih Juan dengan atau tanpa sepengetahuan Zal. Aku juga merasa tak perlu meminta ijin darinya untuk itu. Aku adalah diriku sendiri, bukan milik Zal atau siapapun. Aku ingin jadi jiwa yang merdeka. Bebas untuk memilih siapapun yang akan menjadi teman dalam hidupku. Sudah sebulan lebih aku mempertimbangkan keputusan ini, dan aku tak ingin mendengar apapun lagi. Bahkan untuk mencari tahu keberadaan Zal. Aku akan menikah dengan Juan.Tapi kemana Juan? Sudah sebulan ini ia tidak menghubungi ku. Tidak pernah mengirimkan kabar untuk ku. Dia kembali raib, hilang. Entah kemana. Mengapa ia selalu begitu? Hilang saat aku menginginkan ia ada didekatku. Apa Juan hanya ingin mempermainkan perasaan ku saja? Membuat ku kembali terkatung-katung dengan kondisi seperti ini? Aku tak berani memberi tahukan semua ini pada orang tua ku, beberapa waktu yang lalu saat ku beri tahu Juan akan datang melamar ibu tampaknya keberatan setelah tahu Juan duda. Lebih-lebih dengan u…

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian V

Juan banyak bercerita tentang keluarganya yang dulu, anaknya berusia lima tahun sekarang dan diasuh oleh mantan istrinya. Mereka sekarang berada di Lhokseumawe dan mantan istrinya juga sudah menikah lagi sekarang. Dimatanya tak ada kemarahan apalagi dendam saat menceritakan perihal istrinya yang menurutnya suka menghambur-hamburkan uang dan tidak setia. Diam-diam tanpa sepengetahuan Juan iamenjalin hubungan gelap dengan laki-laki lain. Namun, sepintar-pintarnya tupai melompat sekali waktu akan jatuh juga. Begitulah, mantan istrinya yang bernama Rada ketahuan berselingkuh. Namun yang lebih menyakitkan ia berselingkuh dengan teman Juan sendiri.Diam-diam aku menaruh simpati pada laki-laki itu. Dengan berbagai kesibukannya yang padat harusnya ia mempunyai seorang istri yang bisa mengerti kondisi dan keadaannya. Bisa menjadi penyemangat bagi hari-harinya yang sibuk. Bukan lantas menambah bebanya dengan hal-hal yang tidak perlu. Tapi, siapapun Rada aku tak berhak mengomentari apapun tentang…

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian IV

Suatu malam di kafe Kita, aku sedang menikmati secangkir espresso dan sepiring pisang goreng keju yang sudah disiapkan oleh salah satu pelayannya. Kali ini aku duduk dimeja yang bersebelahan dengan kolam, tetapi masih diruangan belakang. Malam ini suasana kafe sangat ramai karena kebetulan malam minggu. Semua pengunjung yang hadir tampak berpasangan, hanya aku saja barangkali yang mau nongkrong disini sendirian. Sudah itu berlama-lama pula. Aku tersenyum sendiri, mentertawakan ketak pedulianku atas apa yang sedang terjadi pada diri ku.Dari kejauhan aku melihat seorang laki-laki paruh baya masuk, disampingnya seorang perempuan muda mengikuti langkahnya. Perempuan itu sepertinya tak jauh beda usia dengan ku. Hati ku serasa mendidih menyaksikan itu, sebab aku sangat mengenali laki-laki itu. Ditengah hiruk pikuk keramaian dan suara hingar binger musik aku melangkah menuju ke meja tempat laki-laki dan perempuan tadi duduk. Firman, laki-laki itu agak terkejut melihatku muncul begitu saja di…

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian III

Sejak pertemuan di kafé dikawasan Lamprit sebulan yang lalu aku dan Juan sering berhubungan melalui telepon. Hari-hari ku menjadi lebih menyenangkan lagi, kami menjadi lebih dekat. Aku bisa melampiaskan semua kegundahan hati ku pada laki-laki itu. Terus terang sekian tahun menjalin hubungan dengan Zal membuat ku capek, membuat hati ku lelah karena aku seperti sedang menunggu buah Ara hanyut dari gunung. Dan itu artinya aku harus menunggu hujan besar yang akan mengalirkannya ke hulu. Tapi kapan hujan besar itu datang? Aku sendiri tidak pernah tahu. Diantara kelelahan dan kesakitan itu aku mendapati Zal tetap menyayangi ku dan mencintaiku dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Dan itu membuat cinta ku semakin bertambah besar terhadapnya. Aku semakin hanyut dan gila pada perasaan ku yang tak terbendung. Hanya Zal yang tahu sebesar dan sedalam apa cinta ku pada nya. Karena aku tidak pernah menyembunyikan perasaan dan isi hati ku kepada nya.Disaat aku sangat menginginkan Zal hadir d…

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian II

Langit diatas bumi Banda Aceh tampak berkerlipan, bintang gemintang membentuk garis-garis yang unik, bulan muncul dengan sangat indahnya, disampingnya lingkaran agak kebiruan menghiasi, selayaknya seperti pagar yang melingkari tanaman hias yang paling indah. Atau mungkin seperti anak gadis yang dilingkari keimanan dari ganasnya alur kehidupan. Ku ayunkan kaki untuk terus melangkah, menyusuri jalan dan masuk ke sebuah warung kopi langganan ku. Aku suka menyebut tempat ini sebagai warung, walaupun diplank namanya tertulis Café Kita dengan ukuran yang besar. Hingar bingar musik langsung menyambut kedatangan ku. Suara gelak tawa dan riuh tamu-tamu membuatku sengaja mengambil tempat dibelakang. Café ini terdiri dari dua ruang utama, dibagian depan dan bagian belakang yang digunakan sebagai lesehan, disinilah biasanya aku sering menghabiskan waktu sampai berjam-jam bila tidak ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Duduk menikmati secangkir espresso yang kental dan nikmat dengan padan…

Yang "Mendung" di Hari Anak Nasional 2007

"Tersenyumlah Kalian....Meski Kegetiran Tak Dapat Kau Sembunyikan" Adalah Putra Alfredo (15) dan adiknya Jaka Saputra (13), disaat teman-teman sebayanya tengah asyik merayakan peringatan Hari Anak Nasional 23 Juli 2007 yang lalu, kedua kakak beradik ini justru sedang asyik mengais-ngais gundukan sampah disekitar Taman Sari Banda Aceh. Botol-botol bekas air mineral mereka kumpulkan didalam karung besar untuk kemudian ditukarkan dengan uang kepada para penadah barang-barang bekas.Ketika satu demi satu perlombaan diikuti oleh ratusan anak dari wilayah Banda Aceh dan Aceh besar, kedua bocah tersebut hanya bisa mengamati dari jauh. Niat hati ingin bergabung bersuka ria, tetapi saatmenyadari mereka adalah kumpulan yang “terbuang” niat itupun hilang. Alfredo dan Jaka menggulung senyumnya bersama bibir karung yang kehitaman. Menguap bersama rintik-rintik hujan yang turun dari langit. “Kami malu Kak, ngga berani gabung dengan anak-anak itu,” ucap Jaka saat ditanyai oleh Crah (23/7)…

Meretas Jalan Menuju JIngga Bagian I

Dihati ku yang setengah beku ini, telah terlanjur terukir namanya, terukir dengan pahatan-pahatan terindah selama waktu aku mencintai seseorang dalam hidupku. Dicat dengan pelitur-pelitur kerinduan yang takkan pernah terkelupas hingga ujung usiaku. Namanya tetap disini. Dihati ku. Zal!

Bilapun suatu hari nanti Tuhan mentakdirkan ku hidup bersama laki-laki lain, aku sendiri tak yakin apakah nama yang telah terpahat indah itu bisa luntur atau mengabur. Ataukah kenangan yang telah terlukiskan itu bisa dihilangkan dengan tiner kehidupan yang lain. Yang pasti, aku takkan pernah bisa memotongi kuku-kuku Zal seperti yang pernah ku katakan pada nya, atau menjadi makmum dibelakangnya saat kami sholat berjamaah, lebih daripada itu takkan pernah ada keceriaan dari halaman belakang rumah kami, atau rebutan buku dari pustaka mini yang ada dirumah kami seperti yang pernah kami mimpikan bersama. Semua itu hanya mimpi dan akan menjadi mimpi selamanya.

Sebab Tuhan hanya mentakdirkan kami saling menyayan…

kata ku rindu

kemari,
ada sesuatu yang ingin ku bisikkan ditelinga mu
kemarin aku melangkah
menyusuri kota
melewati lorong
bertebaran nama dan aroma tubuh mu
mendorongku untuk terus mencari
mencari bayangan tubuh mu
ku dapati suara mu diseberang sana

Tanya Aku Dulu, Aku Juga Punya Hak

7 kata keramat yang diusung sebagai tema Peringatan Hari Anak Nasional 2007 ini, kumpulan kata yang mempunyai makna dan arti yang sangat luar biasa, sebagai bentuk apresiasi paling tinggi terhadap hak anak dan kesempatan untuk memberikan ruang berekspresi positif yang tak terbatas kepada mereka. untuk memperoleh cinta dan kasih sayang yang layak dari orang tua, teman, lingkungan, bahkan negara. untuk berkreasi dan melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan dan apa yang mereka kehendaki, untuk menentukan alur kehidupan, menentukan masa depan, memilih orang yang dicintai, memilih untuk berkarya....memilih untuk bertahan.

Tanya Aku Dulu, Aku Juga Punya Hak

Aku bukan sedang ingin menceritakan tentang anak-anak yang tengah berlomba makan kerupuk, ataupun berlomba memancing botol, membawa kelereng dalam sendok, membaca puisi ataupun menari diatas pentas sana. bukan tentang semua itu, karena ditengah keramaian ini aku juga sedang merayakan hari anak ini untuk ku sendiri, sambil memasang foto-f…

"Curhat"

"Ada hal yang sampai sekarang tak pernah ku ceritakan pada mu sampai hari ini , Bi. kita memang dekat, tapi bukan berarti semua tentang ku kau harus tahu kan?" kata ku
sebuah perbincangan seru sepertinya akan segera dimulai, sebelumnya tak pernah kita bicara dari hati ke hati dengan sangat dalam seperti sore menjelang magris saat itu. tepatnya aku yang tidak pernah terbuka pada mu, karena memang begitulah aku, lebih senang membicarakan itu disaat aku bahkan barangkali sudah tak mengalami lagi hal itu. seperti saat ini.
kau menatapku dalam dan penuh selidik, "apa yang aku tidak tahu tentang mu?" tanya mu pada ku. aku hanya menunduk. sengaja membuat mu penasaran dan bertanya-tanya. dan dengan usil kau pun menggelitik-gelitikkan paha ku, memaksaku untuk berbuka suara. tapi aku masih belum bergeming. lalu, kembali kau menceritakan kisah mu yang sebagian sudah ku ketahui dan sebagiannya lagi belum. jarak yang jauh, waktu yang terbatas, da…

Saat Cinta Kehilangan Warna

"Hidup Akan Lebih Terasa Bermakna
Bila Kita Memberi Tempat dan Ruang Kepada Sesuatu Secara Proporsional"

Cinta seringkali berakhir dengan duka dan air mata. Cut Miranda (20) mengalami itu. Didepan polisi yang memeriksanya gadis itu sempat pingsan selama 30 menit setelah mendengarkan lagu pop melankolik yang dipopulerkan oleh group banda Naff yang bertajuk “Kau masih kekasih ku” dan “Akhirnya ku menemukan mu”Bait-bait indah dalam lagu tersebut bukan hanya indah dan menyentuh kalbu, tetapi juga mampu menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya, termasuk Cut Miranda yang tengah dirundung duka karena kehilangan kekasih tercintanya, Toni (36). Ia kembali terkenang pada almarhum yang tewas ditangannya sendiri.Prosesi pingsannya Cut saat menjalani pemeriksaan memang sangat menggugah siapapun yang menyaksikannya, sebab, ia pingsan bukan karena lelah ataupun takut karena telah melakukan kesalahan besar yang menyebabkan hilangnya satu nyawa manusia. Tapi lain daripada itu, ia tengah t…