Langsung ke konten utama

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian IV

Suatu malam di kafe Kita, aku sedang menikmati secangkir espresso dan sepiring pisang goreng keju yang sudah disiapkan oleh salah satu pelayannya. Kali ini aku duduk dimeja yang bersebelahan dengan kolam, tetapi masih diruangan belakang. Malam ini suasana kafe sangat ramai karena kebetulan malam minggu. Semua pengunjung yang hadir tampak berpasangan, hanya aku saja barangkali yang mau nongkrong disini sendirian. Sudah itu berlama-lama pula. Aku tersenyum sendiri, mentertawakan ketak pedulianku atas apa yang sedang terjadi pada diri ku.

Dari kejauhan aku melihat seorang laki-laki paruh baya masuk, disampingnya seorang perempuan muda mengikuti langkahnya. Perempuan itu sepertinya tak jauh beda usia dengan ku. Hati ku serasa mendidih menyaksikan itu, sebab aku sangat mengenali laki-laki itu.

Ditengah hiruk pikuk keramaian dan suara hingar binger musik aku melangkah menuju ke meja tempat laki-laki dan perempuan tadi duduk. Firman, laki-laki itu agak terkejut melihatku muncul begitu saja didepannya. Didepan perempuan itu aku tetap memasang senyum, sekalipun dengan senyum yang masam dan hambar.

“Sebentar Al, aku mau ngomong dengan Jingga dulu, dia ini teman kerja ku.” Kata Firman berpamitan pada gadis itu. Perempuan itu mengangguk, hal yang sama ia lakukan pada ku.

Setelah ku paksa akhirnya Firman mengakui kalau perempuan itu adalah kekasihnya. Namanya Aliya. Aku agak marah ketika dengan santai Firman menjawab bahwa ia mencintai perempuan itu dan perempuan itu juga mencintainya.

“Abang ini sudah gila, abang sudah punya istri dan anak. Mengapa harus main belakang seperti itu?” kata ku berang

Aku memang sudah menganggap Firman seperti abang ku sendiri. Karenanya aku merasa berhak menasehatinya untuk hal ini. Karena aku juga mengenali istri dan anak-anaknya.

“Kamu kan tahu kakak seperti apa Jingga. Kalau abang pulang kerjanya hanya marah-marah saja, kalau abang ajak pergi alasannya sibuk karena ia lelah bekerja, abang butuh suasana segar dan kakak mu itu tidak bisa menghadirkan suasana itu dirumah. Dia lebih senang mengurusi bunga-bunganya ketimbang abang.” Suara Firman terdengar pias.

Ku akui memang, kak Alaya istrinya bang Firman memang seperti itu. Dia tipe perempuan yang cuek, ia hanya berfikir apa yang telah menjadi miliknya pasti akan selamanya menjadi miliknya. Mungkin selama ini ia tak pernah menduga bila bang Firman bisa saja mencari selah untuk bisa keluar dari ketidak peduliannya sebagai istri kepada suaminya.

“Alya juga sangat mencintai abang.”

“Tapi sampai kapan abang akan terus-terusan begini?”

“Abang tidak tahu,”

“Tapi…nama mereka hampir sama ya?”

“Mungkin abang berjodoh dengannya heheh…oke sayang, abang kesana dulu ya? Kasihan Aliya, capek nungguin abang.”

Aku hanya mengangguk. Mengamati punggung Firman hingga ia kembali ketempat duduknya semula. Aku tak berani mengkritiknya terlalu jauh, itu ruang pribadi Firman. Karena tanpa sepengetahuannya aku juga begitu, mencintai laki-laki yang sudah beristri dan punya anak. Bedanya aku hanya pernah bertemu sekali dengan Zal. Setelah itu aku kembali pada hari-hari ku yang sepi, dan Zal pada keluarganya yang ceria dan penuh cinta. Aku tak pernah mengusik keberadaan Zal dan keluarganya, sementara Firman aku yakin setiap saat waktu senggangnya akan ia habiskan dengan Aliya karena mereka tinggal disatu kota yang saman.

Tapi aku kasihan juga pada Alya, apa yang dia alami pasti tidak akan berbeda jauh dengan ku. Kalau aku mampu mensiasati kerinduan dan rasa sepi ku. Apakah Aliya sanggup? Kulihat sepertinya ia masih belum sedewasa usianya, ia terlihat sangat lugu dan polos. Tapi apa peduli ku? Toh didunia ini kita bisa melakukan semua hal yang kita sukai, terlepas itu benar atau tidak. Yang penting harus siap menanggung semua konsekwensinya.

“Tapi cinta sejati ku hanya untuk Kakak, Jingga.” Ucap Firman tadi sebelum meninggalkan ku. Syukurlah, aku sedikit lega mendengar itu.

Tapi tetap saja aku tidak terima perlakuan Firman kepada istrinya. Tapi mengapa aku juga melakukan itu kepada Sonya, istri Zal. Bukankah seharusnya bila aku mencintainya aku harus sanggup melepasnya dengan alasan apapun? Aku sudah pernah mencoba itu, tapi hati ku belum sanggup. Dan sebulan masa jeda itu membuat ku sangat tersiksa hingga akhirnya aku menjalin kembali hubungan dengan Zal.

Aku kembali diam, menyusuri jalan kehidupanku dari awal hingga akhir, mengenang kembali saat-saat bertemu dengan Zal, menjelujur kembali bagaimana aku dan dia saling jatuh cinta. Saling mengisi hari-hari dan merias hati kami dengan cerita-cerita yang indah. Konflik-konflik kecil yang membuat perasaan kami semakin dalam dan sulit dibendung. Dan tanpa sadar setitik bening jatuh dipipi ku. Air mata yang jatuh ekspresi dari seribu rasa yang berkecamuk dihati, marah atas sikap Firman kepada istrinya, kecewa pada Juan yang sampai hari ini menghilang dan tak ada kabar, dan juga rindu yang membuncah kepada Zal.

Apakah aku tak layak mencintai? Tak layak memiliki? Tak layak mempunyai tambatan hati yang benar-benar bisa membuatku jatuh cinta seperti yang dilakukan Zal pada ku? Jawabannya hanya ada pada kecipak air dikolam, yang jatuh menetes dari mulut bambun yang dikikir meruncing.

“Apa kabar sayang?”

“Abang?! Sejak kapan disitu?”

“Dari tadi abang perhatikan kamu melamun saja. Mikirin apa?”

“Jawab dulu pertanyaan ku.”

“Biarkan abang duduk dulu.”

Juan. Laki-laki ini semakin aneh saja kurasa. Ia hadir tanpa disangka-sangka. Disaat aku sangat ingin bertemu dengannya ia menghilang dan tak ketahuan dimana rimbanya. Saat aku sedang ingin melupakannya Ia justru hadir dan ada.

“Kamu penasaran dengan abang?” tanyanya seolah mengerti isi hati ku

“Terus terang iya”

“Tapi kamu suka kan?”

“Abang pasti sudah sangat tahu aku bagaimana”

Juan tersenyum, wajahnya yang bersih membuatku tak ingin mengalihkan pandangan sedetikpun. Hati ku benar-benar tak karuan kali ini. Jauh didalam sana aku ingin sekali bilang jangan pergi lagi pada nya. Jangan menghilang lagi dan sering-seringlah memberi kabar kepada ku. Tapi apa itu perlu? Jangan-jangan Juan malah akan mentertawa kan ku nanti.

“Maafkan abang, selama ini abang sangat sibuk. Tidak punya waktu untuk menghubungi kamu. Pukul delapan malam tadi abang baru sampai, dan langsung ketempat ini, berharap kamu ada disini. Feeling abang ternyata benar.”

“Abang tidak pernah bercerita tentang keluarga.”

“Umur abang saja kamu tidak tahu kan?”

“Iya, berapa usia abang?”

Juan hanya tersenyum, ia tidak menjawab. Sebaliknya malah menyodorkan pertanyaan menyangkut dengan itu pada ku.

“Menurut mu berapa?”

“Tiga puluhan mungkin.” Aku menebak. Sungguh sulit sekali menerka umurnya.

Juan lagi-lagi tersenyum.

“Itu tidak penting bagi kamu, yang penting kita jalani saja pertemanan kita apa adanya.”

Apa yang aku pikirkan benar. Juan hanya menganggap ini pertemanan biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Sementara aku…

“Abang sudah menikah?” Tanya ku akhirnya

“Apa itu juga penting untuk mu sayang?”

“Ya, sangat penting. Agar aku bisa menyesuaikan diri. Agar aku tidak salah langkah.”

“Maksud kamu?”

Juan menatap ku tajam, bola mata hitamnya membuatku sering tak bisa tidur. Laki-laki ini memang cerdas, belakangan aku tahu dia seorang pengusaha sukses. Tapi aku tahu itu dari pencarian ku sendiri, sekarang sedikit-sedikit aku mulai bisa meraba kehidpannya. Saat dia sedang menceritakan sesuatu tentang pekerjaannya, sampai pengalamannya mengunjungi satu kota demi kota dan Negara lainnya, pengalamannya sangat banyak. Karena itu dia menjadi teman ngobrol yang mengasyikkan. Aku beruntung mengenalnya. Dan, tentu saja lebih beruntung lagi perempuan yang menjadi istrinya, bila benar ia sudah menikah. Entah bagaimana awalnya tiba-tiba aroma kecemburuan menyusup dalam relung jiwa ku. Getar-getar aneh itu semakin hadir nyata.

Apakah ini yang dinamakan dengan cinta?

“Kalau abang sudah menikah aku kan harus jaga sikap, ngga boleh ngomong asal bunyi. Begitu lho…”

“Oh…itu, santai saja,”

“Santai bagaimana?”

“Karena kamu serius abang juga serius. Kamu mau tahu tentang abang yang sebenarnya?”

Aku mengangguk.

“Abang pernah menikah. Lima tahun yang lalu, tapi kami bercerai karena tidak mempunyai kecocokan. Sejak itu abang tidak pernah lagi berhubungan dengan perempuan hingga akhirnya abang melihat kamu di acara Pertemuan Saudagar Aceh Serantau beberapa bulan yang lalu.”

Yah, aku baru ingat sekarang. Aku melihatnya di acara besar itu. Benarlah jika aku merasa pernah melihatnya sebelumnya. Ketika itu aku sedang meliput disana.

“Dan tidak disangka, kita bertemu lagi ditempat ini. Bagi abang ini adalah hal yang tidak biasa, dan abang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.”

“Maksud abang?” aku memandanginya serius. Ada binar dipijar matanya yang terlihat lelah.

“Kamu mau jadi istri abang?”

“Apa? Istri?”

Aku sama sekali tidak bisa menyembunyikan kekagetan ku. Juan mengangguk. Sementara itu mata elangnya menancap dimata ku dalam-dalam. Membuat ku semakin tak kuasa membalasnya.

“Usia kita pasti sangat jauh berbeda.”

“Apa menurut mu itu jadi kendala?”

“Tidak.”

“Apa kamu tidak menyukai abang?”

“Aku menyukai abang. Bahka sejak pertama kali melihat abang.” Jawab ku jujur. Entah mengapa, kali ini bagai dihipnotis, aku tidak bisa berbohong.

Aku memang menyukai Juan, tapi menjadi istrinya? Terlebih statusnya sebagai duda beranak satu. Apa kata keluarga ku nanti? Jingga menikah dengan duda. Apa komentar teman-teman dikantor saat tahu Jingga menjalin hubungan dengan laki-laki yang usianya terpaut jauh dengan ku.

Aku masih bertanya-tanya, perempuan seperti apakah yang dulu dinikahi Juan hingga mereka tak punya kecocokan. Dalam diam aku merasakan tangan Juan yang hangat menyentuh tangan ku. Mencoba meyakinkan ku dengan pandangan matanya yang sarat kerinduan dan cinta.

“Abang hanya tidak ingin kamu tersiksa dengan kondisi begini,”

Bayangan Zal hadir, seolah untuk mempertegas keyakinanku bahwa sampai detik ini belum ada yang bisa menggantikan kedudukan Zal dihati ku. Tapi sampai kapan aku sanggup bertahan dengan kondisi seperti itu? Sementara didepanku bayangan laki-laki serupa Zal telah ada. Aku hanya berharap dia adalah laki-laki yang dikirimkan Tuhan kepada ku.

Bersambung…

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.