Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2012

Perempuan Anumerta

TAK mudah memang menjelaskan. Makanya selama ini ia hanya bercerita pada angin atau debu-debu yang menempel di jendela rumahnya. Termasuk pada lelaki itu, yang saban hari tak pernah alpa menyuguhkan senyum dan sepotong canda.
Sederhana, tetapi kadang-kadang membuat hatinya bergetar. Dan juga berdebar. Kadang-kadang pula, ia berharap pada hari berikutnya, lelaki itu tidak hanya menyuguhkannya sepotong, tetapi sepiring senyum yang selalu mengembang di bibirnya.
Semuanya menjadi semakin berat ketika ia tak lagi melihat wajah lelaki itu. Setelah ia memiliki banyak waktu untuk merenungi dirinya. Justru di saat ia berharap lelaki itu bisa muncul dalam imajinasinya. Ia selalu seperti terpental, melemparkan imajinasinya pada sesosok lelaki yang lain.
Dan seperti biasanya, malam itu ia kembali tidur dengan pikiran yang kosong tentang lelaki penyuguh senyum itu.
***
Seperti perempuan lainnya, ia juga senang menatap wajahnya di cermin. Seperti pagi itu, sekali dalam seumur hidupnya ia mendapati diri…

Mengintip Hawaii di Balik Pintu Rahasia Sumur Tiga

SABANG - Sangat pantas jika Sabang disebut-sebut sebagai the golden island. Setidaknya bagi para pecinta laut, gradasi warna airnya akan membuat siapa pun yang pernah menceburkan diri ke dalamnya jatuh cinta dan ingin kembali lagi.

Pukul 09.30 WIB Kapal Motor Pulo Rondo bergerak meninggalkan Pelabuhan Ulee Lheu Banda Aceh. Langit sedikit cerah, Sabtu 24 Maret 2012 . Nuansa biru diselingi bercak putih awan-awan terlihat hingga ke cakrawala. Dari balik jendela kapal, sebuah pulau tampak di tengah laut. Itu Sabang. Butuh sejam perjalanan dengan kapal motor hingga merapat di Pelabuhan Balohan Sabang.

Begitu kapal merapat, puluhan kuli angkut menyerbu dermaga. Mereka menawarkan jasa membawa barang-barang penumpang. Tapi saya menolak. Ransel kecil masih sanggup saya pikul tanpa perlu bantuan kuli.
Balohan tentu saja bukan tujuan utama. Untuk menuju ke kotanya Sabang dari sini bisa naik angkutan umum. Bentuknya mini bus L300. Sebagian sudah tua. Mobil-mobil angkutan umum di Sabang ini jago …

Selamat Ulang Tahun, Cinta

Cinta,

Happy birthday ya, mestinya aku ada di dekatmu saat ini, agar aku bisa mengatakannya sambil memelukmu, sambil menatap matamu dan sambil menyentuhmu lembut.

Agar engkau tahu di usiamu yang bertambah ada seseorang yang selalu mengharapkanmu bertumbuh, tinggi dan besar, agar banyak yang bisa bernaung di bawahmu.

Cinta,
Sekalipun engkau telah bosan mendengarnya, tapi di hari jadimu ini aku ingin mengatakan lagi bahwa aku mencintaimu, karena hanya dengan itu aku bisa membuatmu berarti, ada dan selalu hidup.

Cinta,
Saat engkau membuka mata, semoga pesan ini yang pertama kau temukan, aku ingin engkau tersenyum, tersenyum...

Luv you much...


Permata Punie | Selasa | 26 September 2012 | 12: 46 am

Altar Takdir

Malam ini aku tak perlo lorong-lorong sembunyi itu, meski aku tahu menelusurinya akan membawaku pada pengalaman hidup yang tak terdefinisi. Malam ini aku hanya ingin menyusuri altar luas yang tak bertepi ini, mencoba menikmati bayangmu dalam temaram imajinasi.
Kata dan rasa telah melebur, mencari ruang dalam jalannya sendiri. Itulah mengapa untuk kali ini lorong sembunyi itu telah kehilangan fungsi. Di noktah merah catatan garis takdir kita, banyak tanda tebal yang mesti digaris bawahi, aku dan engkau adalah dua kisah, namun terpatri dalam satu sejarah yang tak pernah usang.
Bagaimana imajinasi tumbuh tanpa henti, perlahan tapi eksponensial, sekali waktu ia menjelma menjadi teman tidur pengganti mimpi. Ia menggantikan kabut yang hinggap di punggung pagi selepas hujan. Ia mengubah sekat malam menjadi misteri yang mengagumkan.
Itulah mengapa bosan tak pernah hinggap, mesti lelah mendera membuat hati lebam, meski kadang jenuh, jemu datang pada saat yang bersamaan. Meski kadang terasa se…

Surat Cinta untuk Kekasihku

Dear my beloved,
Cinta, maafkan aku, setelah bertahun-tahun melalui waktu bersama aku masih sering dihinggapi berbagai pertanyaan tentangmu. Aku menyadari sekarang bukan lagi seperti masa itu, saat kita baru pertama kali jatuh cinta, saat-saat di mana kita sangat mudah mengatakan cinta, mengungkapkan rindu dan menyatakan perasaan.
Memang bukan waktu yang sebentar untuk menjalankan semua skenario takdir ini, walau aku kerap merasa seolah-olah kita baru berkenalan kemarin dan berteman hari ini. Memang, entah sudah berapa banyak cerita yang lahir dari rahim kebersamaan kita, tetapi aku seperti tak pernah kehabisan kata untuk menuliskannya. Semua cerita tentangmu seperti tak pernah kering.
Aku seperti baru bangun tidur, lalu merasakan kehadiranmu yang jauh tiba-tiba menjadi dekat, tetapi dekatnya engkau terselubung oleh tabir yang tipis, aku bisa menyaksikanmu dengan leluasa, begitu juga engkau, tapi kita terhalang oleh tabir yang tipis itu; orang-orang di sekitar kita.
Cinta, jika saja …

Tak Kunjung Kering

Sekali lagi Tuhan, aku ingin tersungging, sekedar untuk mentertawakan kebodohan demi kebodohan ini. Tetapi pada saat yang bersamaan setitik embun mengalir, bercampur bersama keringat asin yang tak kunjung kering.

Permainan ini tampaknya tak akan segera usai, sementara aku tak lagi punya suara bahkan sekedar untuk sekedar berdesis. Teriakanku semakin perlahan, nafasku lebih sering terpenggal, hingga kadang aku bertepi untuk mencari jeda, akankah semuanya berjalan demikian cepat hingga aku tak sempat menanggalkan semua takdir ini.

Di ambang petang, aku demikian sering melihat wajah Mu hadir dalam keriuhan. Kadang aku harus bertepi, sekedar untuk menyesapi aroma perih yang tiba-tiba hinggap. Ah, semuanya terlalu rumit untuk dijabarkan, sementara keping demi keping teka-teki ini sepertinya belum menunjukkan muara.

Sekali lagi Tuhan, aku terbahak, tetapi kemudian luruh dalam asin air mata yang bercampur keringat. Tak kunjung kering!

Tuhan, selamat malam, aku berdosa!

Ini bukan tentang bagaimana mempertahankan. Tetapi tentang bagaimana memutuskan rantai agar perceraian itu terwujud. Pagi kini tak lagi berembun sebab malam terlalu kering oleh rindu. Dan senja selalu saja basah oleh kecamuk amarah. Pergantian waktu hanya berupa bait-bait puisi yang pendek, dan juga dangkal. Tuhan, semua kisah telah usai kupersembahkan kepada Mu. Maka biarkan aku lenyap dalam kisah berikutnya.

Aku belajar tersenyum dari bentuk bulan yang sabit melengkung. Sesungguhnya ia tak pernah sempurna, sebab banyak rahasia yang tersembunyi di balik lengkungan itu. Maka hadirlah purnama untuk menjelaskan sebulan sekali. Dan jika kali itu terlewat, maka aku ingin terlempar ke wajahmu yang bulat penuh. Karena di sanalah rahasia itu terakumulasi.

Wangi tubuhmu di wajahku pelan-pelan menyusut. Tapi juga pada kali ini aku harus berpura-pura untuk tak peduli. Kadang-kadang aku terlupa untuk menyembunyikanmu, kadang pula aku merasa engkau tak perlu kusembunyikan. Kadang pula aku merasa b…

Pelukis Kisah

Juni masih terlalu belia. Masih ingatkah engkau pada skenario tak tertulis itu? Peran yang kemudian membuat kita menjadi sepasang pelukis kisah. Yang selalu membawa kanvas dan kuas. Meski untuk itu, kita selalu berlumur warna dari cat yang berantakan.

Juni masih sangat belia. Tetapi ia mampu mengajarkan kita makna cinta yang sesungguhnya. Untuk menghormati perbedaan, menghargai rasa. Juni mengajarkan kita untuk lebih egaliter. Lukisan itu, hampir sempurna bentuknya, semua berawal dari Juni.

Malam ini, aku kembali mendapati sebagian tubuhku berlumur wangi tubuhmu yang menggoda. Melekat bagai atsiri dan membuat berdesir ketika angin berhembus. Memacu detak hingga jantung terengah-engah. Ah, Cinta. Rahasia ini memang nikmat, tapi kerap membuat lelah.

Aku hampir sempurna melukis rupa wajahmu, tapi di sisi yang lain harus ada yang tak pernah selesai. Sebab kita tak inginkan semuanya menjadi entah. Aku Cinta, aku yang selalu mengerang gelisah. Bagai bulan yang samar oleh pucuk daun. Maka k…

Perjanjian

Aku rindu bau tanah selepas hujan di kota itu. Sebab kita pernah menikmati rasa dengan cara yang tak biasa, seperti romansa yang dibalut kenangan, maka debar selalu saja memberi makna dengan sangat peka.

Seperti apa rupa lorong-lorong yang pernah kita lalui waktu itu? Masihkah bergelantung senyum di kolopak bibirnya? Dan seperti apa matahari yang terbit di ufuk itu? Masihkah selalu merona dengan jingga yang memeluk wujudnya?

Tak pernah habis, kata akan selalu ada untuk menjabarkan keadaan. Juga tentang lekuk-lekuk kota ini, di mana kita pernah bertemu dalam diam dengan mata mengerling. Sekedar untuk mengisyaratkan sesuatu, bahwa beginilah aplikasi dari perjanjian yang tak pernah tertulis itu.

Ah, perjanjian itu, hingga kapan akan terus kita patuhi. Mengapa tidak ada yang berani untuk melanggar, bukankah tidak ada materai yang memaksa kita untuk saling mematuhi?

Cinta, inilah debar, dan inilah warna, jingga yang selalu memberi hangat, dan degub yang selalu menterjemahkan rasa.


Foto; Mengingat Joseph Dalam Gambar

Tahun 2005 silam saya berkenalan dengan pak Joseph, saya biasa memanggil beliau pak Josh, usia tidak lagi muda, tetapi beliau memiliki pribadi yang menarik dan bersahabat, ramah dan suka bercanda. Ia sering sering mengirimkan saya foto-foto, seperti foto bunga tulip ketika ada pameran bunga Keukenhof.
Beberapa tahun terakhir kami kehilangan kontak, id ym nya tidak pernah lagi terlihat online, entah apa yang terjadi dengan beliau, semoga keadannya selalu sehat dan baik.
Berikut beberapa foto kiriman dari pak Josh yang masih tersimpan di blog saya














































Festival Keukenhof; Sepenggal Kenangan Tentang Pak Josh

Sejak tanggal 21 Maret 2012 kemarin pameran taman bunga Keukenhof  kembali digelar di Belanda, awalnya tidak ada yang istimewa dari perhelatan akbar di negeri kincir angin tersebut. Namun tiba-tiba saya terkenang pada seorang sahabat maya saya yang sudah kehilangan kontak. Namanya Joseph. Saya biasa memanggil beliau dengan sebutan pak Josh, kami berkenalan melalui program Yahoo! Messenger sekitar tahun 2005 silam, dan menjalin persahabatan yang cukup asyik dan menyenangkan. Pak Josh adalah seorang Belanda yang punya darah Indonesia, ayahnya dulu adalah seorang ‘penjajah’ yang menikahi gadis Maluku, pak Josh pernah beberapa kali ke Maluku, dan ia mengerti bahasa Indonesia. Selama pertemanan kami interaksi yang kami lakukan melalui percakapan bahasa Indonesia.

Sepi Yang Menganiaya

Aku hampir tua dalam kembaraku, warna-warna langit kulihat berubah dari satu warna ke warna yang lain, begitu juga dengan cara angin menyentuh kulitku, kadang perlahan, kadang bergerak liar menjelajahi ari-ari kulit.
Tapi cinta masih terus mengambang dalam makna yang sesungguhnya, betapa definisi tidak mampu menjelaskan tentang getaran yang hinggap, apalagi tentang rasa yang sering pecah tertabrak cahaya.

Menanti Purnama Usai

MALAM beranjak renta. Bungkuknya hampir serupa perempuan penikmat purnama itu. Dengan kaki yang dijulurkan ke tangga rumahnya, mata berselaput abu-abu milik perempuan itu tak sedetik pun melepaskan pandangannya dari langit.
Angin berhembus kuat, menusuk hingga ke tulangnya yang telah berpuluh-puluh tahun diserang reumatik. Tapi ia tak peduli, sebab pendar purnama itu telah demikian mujarabnya menyembuhkan semua luka di hidupnya.
Perempuan itu bersandar ke pintu, duduknya serupa patung yang tertancap dalam liang tanah yang padat. Sesekali ia meraba wajahnya yang keriput, merasakan serat-serat kulit tangannya yang kasar melekat di sana.
Wajah kaku dan dingin yang telah menyaksikan banyak luka, air mata dan juga amis darah, juga kesepian maha panjang yang telah mendera hingga ke dasar ulu hatinya.
“Akan tiba suatu malam di mana engkau menginginkan purnama segera berakhir,” kata lelaki suaminya berpuluh-puluh tahun lalu.
Perempuan itu tidak segera menjawab. Di bawah perak bulan…

Perempuan Almarhum

AKU baru berumur sepuluh tahun saat pertama kali bertemu dengannya. Perempuan itu mengenakan kebaya berbahan katun berwarna ungu yang telah pudar. Di beberapa tempat dipenuhi bercak tahi lalat berwarna hitam. Binatang jahil, tega sekali ia memberaki baju usang seorang perempuan tua sepertinya.
Perempuan itu menyapaku. Memamerkan giginya yang hitam dipenuhi karat getah sirih bercampur pinang yang telah dikunyahnya sepanjang umurnya. Aku agak takut. Dalam pikiran kanak-kanakku seringainya tak lebih seperti senyum mak lampir. Menghadirkan hawa kengerian.

Rambutnya kelabu, dengan gumpalan warna putih di sana-sini menjulur dari balik songkoknya. Songkok rajut dari bahan wol yang telah cokelat dimakan usia. Di sisi sebelah kirinya terlihat sobek dan dijahit dengan benang warna hitam ala kadarnya.


Aku mencium canggung tangan keriputnya. Aroma terasi dan bawang menyengat halus ke syaraf hidungku. Menghadirkan sensasi mual yang naik hingga ke ubun-ubun. Sejak saat itu aku telah sa…

Hikayat Hati (Dua)

Juga pada kali itu, mestinya takdir adalah milik kita Cinta. Tapi aku hanya bisa menyentuh rumput kering itu serupa menyentuh wajahmu dalam ketinggian imajiku, di kota itu, malam itu aku berjanji bahwa aku akan kembali untuk mencium jejakmu.

Di dinding langit aku mencari sketsa wajahmu, di antara baluran mendung dan kerlip bintang yang hanya satu-satu, di sudut kota itu kau pernah menceritakan tentang purnama kepadaku.

Dan, seolah-olah pendarnya kurasakan malam itu meski aku tahu bahwa bulan sabit pun tidak, bau rumput itu Cinta sungguh semerbak, seperti serbuan wangi tubuhmu ketika kurapatkan hidungku ke dahimu. Seolah sama hinggapnya seperti ketika kau labuhkan bekas ciumanmu ditubuhku.

Hikayat Hati (satu)

Bahkan, sebelum aku menyentuh pasir dan merasakan asinnya air laut pulau ini, aku sudah terlebih dahulu mencium bau kota ini. Melalui wangi tubuhmu Cinta, wangi yang selalu melekat dalam panca inderaku.
Maka ketika aku benar-benar hadir di sini, kota ini bukan lagi kota asing yang membutakan imajinasiku, kau sering menceritakan gradasinya, tentang pantai itu yang pernah diteduhi purnama yang berpendar terang.

Tirai Hati

Sesungguhnya di jendela hatiku memiliki penutup serupa kain yang terjurai menyentuh tanah, ketika angin bertiup semilir kain itu bergoyang perlahan mengikuti ritme yang indah.

Di balik kain yang menjuntai indah itulah engkau tersembunyi, dari katup-katup mata di luar sana yang sering menyimpan rasa penasarannya. Mereka bertanya-tanya akan sosokmu, bagaimana rupamu, bagaimana suaramu, dan apa makna dari balik inisial namamu.

Kukatakan, bahwa rahasia tentangmu hanya setipis kain yang menjuntai itu, bahwa engkau adalah sosok yang tak terlalu asing bagi mereka, suaramu sering hinggap di pucuk-pucuk pohon, dan gelagatmu sering muncul bersama angin yang bertiup setelah hujan.Hanya saja, mencintaimu dengan cara itu mampu memberikan nikmat lebih, seperti nikmat para pecinta batu dalam mengasah batu-batu temuan mereka hingga membentuk suatu sketsa atau warna.

Yah, dari balik kain penutup itu biarkan mereka menebak-nebak tentang engkau.


12 Maret 2012 pukul 18:56

Puisi dan Kopi

Memulai maret dengan memimpikanmu, seperti mengawali dan mengakhiri februari dengan bertemu engkau.

gerak-gerak itu semakin mistis dalam ritmik imajinasi. meski kita telah mampu menterjemahkannya dengan sempurna.

hasrat, gejolak, lubrikasi rindu, telah bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. meski berkali-kali pula mengganti wajahnya.

Workhsop Menulis Tiga Hati

Dua puluhan anak muda dari berbagai komunitas di Banda Aceh mengikuti workshop menulis di Kafe A Plus, Batoh, Banda Aceh, Rabu, 1 februari 2012.

Pendiri TigaHati Community, Ihan Sunrise mengatakan mayoritas peserta berasal dari berbagai komunitas seperti Komunitas Pecinta Linux Indonesia (KPLI) Aceh, Komunitas Kamera Lubang Jarum (KLJ), Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, Convis Aceh, dan juga dari rekan-rekan jurnalis muda serta masyarakat umum.

Dalam workhsop berdurasi tiga jam tersebut TigaHati Community menghadirkan Salma Indria Rahman sebagai pembicara. Salma Indria Rahman adalah anggota Aliansi Jurnalis Independen (Aji) Jakarta dan pendiri RumahPohon Activity Jakarta.

Dengan mengambil tema "Menuai Profit Dengan Menulis" Salma mengarahkan para peserta agar membuat tulisan yang memiliki informasi cukup dengan selalu memunculkan ide-ide atau hal-hal baru pada setiap tulisan yang belum pernah disajikan oleh penulis lainnya. "Dengan cara seperti ini tulisan ak…

Persembunyian Takdir

“Bersiap-siaplah.” Katamu
Ketika itu Aku baru saja selesai menyisir rambutku, lalu menguncirnya dengan pengikat rambut warna merah hati. Kuletakkan handphoneku di kasur, kemudian menyelesaikan riasan wajah berupa polesan celak di mataku.  Aku mematung sebentar di depan cermin, sekedar memastikan bahwa bedakku rata, dan lipstick di bibirku tidak ada yang keluar garis. Saat itu handphoneku kembali berbunyi. “waktu kita terbatas.” Katamu.
Aku meleguh. Menarik napas panjang sebagai bentuk keberatan dari ketergesa-gesaan yang kau tawarkan. Tapi itu hanyalah luapan emosi sesaat manakala aku harus menempuh jarak yang tidak sebentar untuk bisa segera sampai di hadapanmu. Dan memang, waktu selalu terasa singkat bagi kita; aku dan engkau.