Sepi Yang Menganiaya


Aku hampir tua dalam kembaraku, warna-warna langit kulihat berubah dari satu warna ke warna yang lain, begitu juga dengan cara angin menyentuh kulitku, kadang perlahan, kadang bergerak liar menjelajahi ari-ari kulit.

Tapi cinta masih terus mengambang dalam makna yang sesungguhnya, betapa definisi tidak mampu menjelaskan tentang getaran yang hinggap, apalagi tentang rasa yang sering pecah tertabrak cahaya.

Bilakah lengkung bibir menarik segaris senyum untuk pura-pura memberi jawaban? Bilakah kaki mengayunkan langkah dengan ringan tanpa menggantung tanya di mata kaki. Dan, patutkah kita bersembunyi di balik kabut yang menekuk subuh? Lalu perlahan mentari menyingkap auratnya hingga ia benar-benar telanjang di hadapan waktu.

Berartikah embun yang hinggap di pucuk sudut mata, sementara julur lidah matahari mengeringkannya dengan demikian cepat, dan hebat, yang tersisa hanya gurat merah bekas sesenggukan semalam. Kita telah terlalu lama dianiaya sepi yang panjang.


Permata Punie, 27 April 2012.
midnight

Komentar