Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2006

"Mencari Mangsa"

"Menggotong Mayat"

"Membongkar Kuburan Masal"

"Sepatu Lars dan Tubuh Terkulai"

lihatlah sepatu sepatu lars itu... dan juga moncong senjata itu... lalu coba juga lirik tubuh terkulai yang tak bernyawa itu..ucapkan dalam hati apa yang ingin kau ucapkan

"Bocah Surga"

mereka... bocah-bocah kecil yang belum mengerti apa itu perang yang mereka tahu... berlari bermain atau mengejar gerobak es krim sambil menggelendot dipinggang ibunya belum sempat ia merasakan indahnya menjadi anak-anak dan waktu telah membawanya kedunia lain

"Payung Negara"

dulu ketika masih kecil, entah mengapa saya begitu kagum dengan sosok berseragam, apalagi dengan sematan payung negara wajarlah jika saya kagum karena mereka merupakan pelindung negara. waktu itu saya masih di sekolah dasar dan belum mengerti apa-apa. lambat laun saya mulai mengerti tentang arti sebuah pertikaian dan konflik. juga tentang makna kata payung negara tersebut. mereka benar-benar melindungi negara dan tidak peduli kepada warga negara, rakyat adalah tumbal demi keutuhan negara republik Indonesia ini. demi negara satu persatu nyawa rakyat dikorbankan, mungkin juga disembelih, diobok-obok dan disiram dengan air raksa. atau seperti yang terlihat pada gambar disamping. semakin bertambah usia saya semakin akrab pula saya dengan kekerasan, memang tidak pernah mengalami lagnsung tapi tidak sedikit yang menjadi korban adalah orang-orang yang saya kenal kalau tidak dibilagn dekat. setiap hari, mendengar berita kematian layaknya coffe morning yang telah menjadi trade mark masyarakat A

"Mengapa Harus Menikah"

dewasa ini banyak sekali orang yang tidak menikah alias melajang, laki-laki maupun perempuan terutama di kota-kota besar. alasannya pun beragam, mulai dari membenci lembaga perkawinan hingga karena tidak ingin mempunyai tanggung jawab ekstra, mengurus diri sendiri saja masih sulit gimana mau ngurus istri, anak, keluarga. apalagi biaya hidup yang sangat tinggi, mau dikasih makan apa nanti anak istrinya, tinggal dimana, dan seabrek alasan lainnya yang menjadikan mereka memilih jomblo terus. yang membenci lembaga perkawinan lain lagi ceritanya, mereka ini biasanya berasal dari keluarga broken home dimana sering sekali melihat adanya tindakan kekerasan terhadap perempuan oleh laki-laki sehingga beranggapan bahwa perkawinan tidak lebih sebagai pengekang gerak perempuan, aktivitasnya tidak lebih dari seputar kasur, sumur, dapur. selain itu ada juga orang yang terlalu perfeksionis, sehingga ia tidak menikah karena tidak menemui orang yang sempurna menurutnya. takut nanti tidak bisa masaklah,

"Cinta dan sentuhan fisika"

mengupas soal cinta memang tidak akan pernah habis, selalu saja ada yang baru dan bisa diangkat menjadi tema menarik meskipun endingnya tidak seindah yang diperkirakan. berbicara cinta selalu saja menghadirkan semangat heroik yang tidak pernah habis, cinta ibarat air bagi dahan-dahan kering, kehadirannya selalu ditunggu agar selalu muncul tunas baru dan pucuk-pucuk baru dan semakin indah dilihat. cinta juga seperti lumpur becek disawah, jorok, menjijikkan, tetapi karena keberadaannyalah justru padi-padi tumbuh subur dan menjadi sumber kehidupan. bibir-bibir tersenyum, wajah merengut, hati yang gelisah, mata yang enggan terpejam sekalipun kantuk menyerang, juga darah yang mengalir di medan perang, atau mengais sampah di got-got di pingir jalan, semuanya demi cinta. cinta seperti magnet yang menggerakkan besi-besi yang ada di sekelilingnya. cinta mampu melahirkan keberanian dan kekuatan yang mungkin tidak masuk akal, tetapi itulah cinta. kehadirannya adalah sumber utama kehidupan, pengge

"Senarai Cinta"

ternyata memang tidak gampang melepas cinta.... apalagi mencabiknya dan melemparkannya ke selokan. semakin sakit semakin terasa manisnya cinta semakin jelas kemana arahnya bibir memang gampang mengatakan ini dan itu... tapi siapa yang dapat menipu suara hati? sekalipun ingin sekali melakukan itu... sepatah kata manja mampu meleburkan seluruh gundah yang bersarang di hati... mampu mencairkan seribu sesak yang bergelantungan di pelataran jiwa...

"Parade masa kecil"

cerita masa kanak-kanak yang masih terekam jelas sampai detik ini, dimana kami berlari, dimana kami bersembunyi, dimana kami bermain petak umpet yang ujung-ujungnya dimarahi oleh guru ngaji yang tak lain adalah nenekku sendiri. dimarahi bukan karena kami bermain petak umpet tetapi karena bunga teh-tehannya yang berfungsi sebagai pagar halaman babak belur karena kami jadikan tempat persembunyian, kami, para bocah-bocah nakal hanya bisa tertawa geli, besoknya begitu lagi. meski saat ini bayangan tentang desa kecil itu masih melekat dengan kental, tetapi menikmatinya tidak lagi seleluasa dulu. lekuk-lekuk desa tak bisa kujelajahi setiap jengkalnya apalagi sekedar untuk mencium bau tanahnya, rerimbunan pohon atau kicau burung yang tak ubahnya bagai alarm kehidupan. mungkin juga bukit kecil itu sudah menjadi belantara hutan karet yang tidak terurus, bukit itu namanya Lhok Jeuruweng, menyimpan seribu romansa masa kecil yang tidak akan pernah pupus dimakan usia. masih ingat sekalu aku bagai

"Merapi"

"Merapi"

"Merapi"

"Merapi"

"Merapi"

"Menari, berdansa..bima-banda"

siang itu, matahari sangat cerah....burai burai sinarnya menerobos hingga ke lapisan kulit paling dalam, melahirkan keringat dan gerah yang teramat sangat. padahal ruangan tempatku berada ada air conditionernya...tapi ia masih kalah dengan semburat menyala sang surya. tapi syukurlah....setelah wudhu kembali terasa sejuk hingga ke selaput sukma. menjelang asar...bulir-bulir keringat tadi telah berganti dengan kesejukan baru....jangan berfikir kalau hujan telah memandikan tanah-tanah kering, jangan juga berfikir mendung telah menguasai bumi hingga gelap. malah langit semakin beringas saja ...semakin menjingga... kira-kira apa yang membuat seseorang bisa merasakan kesejukan ditengah siang menyala seperti ini? apakah secontong es krim yang meleleh susu diatasnya? atau segelas koktail dengan serbuk es berwarna warni? ada benarnya juga...tapi menurutku itu cocok untuk anak anak yang masih berumur dibawah sepuluh tahun, merengek-rengek pada bundanya lalu tersenyum ketika es krim sudah ditan

"Aji Mumpung Dedi"

Perempatan Cempaka Putih. Siang terik. Ramai. Macet. Bapak ibu Polisi mengatur lalu-lintas. Kali ini sambil berjoget diiringi musik disco-reggae yang disetel keras-keras dari sebuah sound-system besar yang ditempatkan di sudut pos mereka. Terik-panas-ramai kini lengkap dengan ingar-bingar. Xenia kami antri di urutan keenam dari lampu merah. Dedy, teman kerjaku di Jakarta ini sedang pegang kemudi. Pedagang asongan, mainan, pengamen, dan lainnya bergerilya ke pintu-pintu. Seorang pengamen datang ke pintu mobil dengan gitar bututnya dan mendendangkan hidupnya yang sengsara. Dedy mencari-cari kepingan uang logam di dash-board, membuka jendela, dan sekeping-dua logam bundar segera berpindah tangan. Ia menutup lagi jendela mobil. Seorang anak kecil, lusuh dan bermuka banjir keringat menadahkan tangan. Ia bilang belum makan seharian. Dedy mencari-cari lagi kepingan logam di tempat yang sama, membuka jendela, dan sekeping-dua logam bundar kembali berpindah tangan. Ia lalu menutup jendela mobil

"Cinta..."

Cinta.... Ruh yang mengalir lembut menenangkan bersinar jernih dan ceria.... Cinta.... Ruh yang mengalir lembut menyesakkan berderai jerih dan badai....

"Kabar cinta dari cintaku..."

ihan sayang....apakabar disana???? seperti apakah suasana jiwamu saat ini, sayangku........???????? semoga gelap malam kehidupan ini..kelak akan menyulapmu menjadi seekor kupu-kupu indah yang dewasa..... ketika melihat wajah bulan..kakak teringat padamu. sebuah perjalanan panjang telah kakak tempuh. kakak harapkan senantiasa doa tulusmu agar musim yang terasa mulai menghangat ini terus dan terus mendekatkan jiwaku pada kesempurnaan takdir itu.

"ntuk adik kecilku...."

di saksikan matahari dada ini benar benar remuk dek...andai saja kau dekat tapi...apa yang bisa kakak mu ini lakukan kamu sudah memilih dan itu salah kesalahan yang tidak pernah termaafkan... kakak tidak bisa berbuat apa apa... selain berdoa agar kamu sama seperti yang lainnya menuai cinta dari jalan yang benar meski ridha Tuhan entah dimana

"Tram"

"Selamat ulang tahun yang terlambat (dari kakak besarku...)"

Tapi, walau bagaimana juga, mengucapkan selamat ulang tahun kepada sorang teman adalah baik. Kepada seorang adik tentu lebih baik lagi. Kepada seorang adik kecil? Wah, itu sangatlah baik. Bukankah ia masih kecil dan butuh banyak perhatian? Ah tentu bukan perhatian, ia butuh banyak hadiah dan coklat tentunya! Haha, standar ulang tahun banget memang, Undangan dan pemberitahuan bahwa seseorang ulang tahun, ada pesta kecil, tiup lilin, nyanyi selamat ulang tahun kami ucapkan....., makan alakadarnya terus banjir hadiah deh........ Besok, kehidupan kembali normal pada usia yang baru! Itu saja. Tahun lalu begitu dan tahun depanpun akan begitu. Yang aku tahu begitu, mungkin orang lain tidak, entahlah. Pada hari ulang tahun, berbahagia adalah baik, bergembira tentu. Tetapi berdoa kepada Tuhan yang di langit agar sisa hidup diberi keberkahan dan jalan yang lurus adalah lebih utama dari semua yang disebutkan terdahulu. Bukankah orang-orang bilang bahwa Tuhan itu baik? Biasanya memang begitu, Dia

"titip tanganku untuk menyalaminya

selamat menempuh hidup baru mungkin tidak akan mudah tapi dia patut mencobanya tidak akan selalu indah juga tapi itulah yang membuatnya lebih berarti aku mendoakannya dalam arti yang sebenarnya tuhan dilangit mudah-mudahan akan mengabulkannya titip tanganku untuk menyalaminya mungkin aku akan sulit tersenyum mungkin juga tidak ada kata yang akan terucap tapi kukira dia tahu apa yang bergemuruh dihatiku sesaatpun aku tidak pernah merelakannya untuk tidak berbahagia aku tidak akan menangis tapi tidak sanggup juga tuk tertawa mungkin hanya senyum kecil tapi dengan aliran air mata yang kecil juga dia telah berlabuh sementara perahuku yang rapuh masih harus berlayar entah hingga ke tepian mana mungkin di kaki langit ada tempat kecil yang aku bisa membuang sauh dan sejenak beristirahat sebelum kembali yang kembali yang sebenarnya kembali (dari seseorang untuk seseorang: sekali lagi ijinkan aku jadi merpati)

"Adik Kecil dan kakak"

Hari ini, disaksikan matahari, angin yang bertiup semilir, debu-debu yang berterbangan, aku punya seorang kakak, yang akan menuliska sebait dua bait puisi di penghujung pertemuankami.irma hafni: yang akan mengucapkan Assalammualaikum, ketika pagi menjelang. mengingatkan tentang cerita-cerita kehidupan dalam durasi yang tidak terlalu panjang yang akan mengucapkan Assalammualaikum, ketika pagi menjelang. mengingatkan tentang cerita-cerita kehidupan dalam durasi yang tidak terlalu panjang mendengar kicaunya, menelaah jejak langkah tengarainya, sembari mengikuti alur kehidupan yang diajarkannya kepadaku. mendengarkan leguhan hatinya, mengajaknya membuka lukisan hati, tersimpan berbagai warna dengan nuansa yang berbeda, sehingga sulit sekali untuk diterjemahkan. (hari ini aku punya adik kecil, tidak ada yang menyaksikan cuma aku dan adik kecilku itu atas nama aku dan adikku, sukarno hatta)

"Matahari dan Bulan

matahari, ketika kau beranjak dewasa kau pergi aku tetap disini dengan sejumput setiaku menantimu bulan datang tetapi dia malah mengajakku berselingkuh bulan, pandai sekali ia bermain kata ingin sekali aku bilang padanya kamu saudaranya matahari dan aku tidak bisa menuruti keinginanmu tapi aku tidak bisa aku tidak berani mengatakan kalau matahari kekasihku

"Tulip Hitam"

"Tulip Hitam"

"sampai jumpa"

seperti angin meniup kisi-kisi jendela berdesir menyapa lembut membawa pesan sepi entah bermakna apa seteleha perginya seseorang dengan bunyi keriut terompah yang semakin pelan jauh-semakin jauh seperti buntut kereta api yang menjauh angin itu mulai diam kisi-kisi jendelapun sudah tidak bergoyang sebuah sepi yang menghenyak hati hingga sedalam-dalamnya lengang-yang lengang nun jauh disana ada geliat keong kecil kabur menuju buih lautan membawa sedih sisa rindunya yang sedikit untuk dijadikan bantal tidurnya yang tanpa mimpi tidak lelap karena tidak sabar ingin bertemu lagi ah mungkin harus kutulis sekarang kata-kata SAMPAI JUMPA