Langsung ke konten utama

Mengapa Esai Saya Gak Jadi Juara?

Mengapa Esai Saya Gak Jadi Juara?

Oleh Mukhlis A. Hamid

Judul di atas mestilah merupakan pertanyaan utama yang akan Anda tanyakan pada dewan juri, panitia, atau orang lain saat Anda membaca pengumuman dari panitia tentang hasil akhir sebuah lomba. Ini terjadi karena semua orang ingin karya yang dikirimkan dalam sebuah lomba menjadi pilihan dewan juri. Apalagi ada hadiah yang lumayan menanti Anda bila terpilih sebagai juara. Namanya juga usaha. Hehehe..

Sebenarnya, jadi juara atau tidak dalam sebuah even lomba menulis jangan membuat Anda terlalu senang, terlalu sedih, atau berbangga diri. Pengalaman menjadi juara sebelumnya tidak menjadi ukuran yang utama bagi dewan juri dalam penentuan juara sebuah lomba. Apalagi dalam lomba yang mengangkat issu khusus, seperti yang diadakan ETESP ADB baru-baru ini. Kekhususan itu antara lain dapat dilihat pada bentuk tulisan (esai), tema (rekonstruksi), zona (Provinsi NAD). Karenanya, pemahaman awal tentang ragam dan fokus pembahasan akan sangat membantu Anda untuk menjadi salah satu di antara salah sekian calon juara dalam lomba ini.

Esai: Makhluk apakah ini?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 1995), kata esai dimaknakan sebagai “karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya”. Dengan demikian, sebuah esai idealnya:

  1. Berbentuk prosa, tetapi bukan prosa fiksi, bukan pula puisi;
  2. Fokus pada/membahas satu masalah tertentu;
  3. Tidak terlalu berat, tidak terlalu njelimet;
  4. Bersifat personal, tetapi tidak subjektif

Esai selanjutnya terbagi lagi atas beberapa genre atau ragam, yaitu esai deskriptif, ekspositif, argumentatif, dan persuasif. Esai deskriptif merupakan ragam esai yang dimaksudkan untuk memberikan deskripsi, gambaran, terhadap suatu objek tertentu, dari sudut pandang/ruang tertentu (spasial) sehingga objek yang digambarkan seolah-olah hadir di pelupuk mata pembaca; sehingga pembaca seakan melihat benda atau objek tersebut secara langsung. Esai ekspositif merupakan ragam esai yang dimaksudkan untuk menjelaskan, mengekspose, merinci suatu konsep, proses, cara kerja, cara membuat sesuatu sehingga pembaca memahami, mengerti, dapat membuat, atau melakukan sesuatu secara benar. Esai argumentatif merupakan esai yang dimaksudkan untuk menjelaskan suatu gagasan, konsep, dengan data, contoh, bukti yang sahih sehingga pembaca yakin, bersetuju dengan pendapat atau pandangan penulis. Terakhir, esai persuasif merupakan ragam esai yang membahas suatu dengan dukungan data, contoh, dan bukti tertentu sehingga pembaca yakin dan melakukan tindakan tertentu sesuai dengan keinginan penulis. Esai yang terakhir ini cenderung provokatif atau komersial.

Sesuai dengan isi leaflet, edaran, ataupun kain rentang yang diedarkan Tjute, lomba penulisan esai kali ini lebih dimaksudkan untuk membuat evalusi atau refleksi terhadap program rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh pascatragedi smong/ie beuna (tsunami), baik yang dilakukan oleh ADB, BRR, ataupun oleh NGO/INGO lain dalam rentang waktu tiga tahun terakhir. Karenanya, esai yang diperlombakan kali ini lebih bersifat argumentatif, bukan ekspositif, bukan deskriptif, apalagi naratif.

Esai Argumentatif: Macam Mana Pula Ni?

Esai argumentatif sebenarnya tak beda jauh dengan esai-esai yang lain. Dari segi struktur, esai ini terdiri atas bagian pembuka/pendahuluan, bagian pembahasan/isi, bagian penutup, dan bagian pelengkap. Bagian pembuka lazimnya diisi dengan uraian singkat tentang latar belakang persoalan yang mau ditulis, tujuan penulisan, ataupun hal lain yang mampu mengantar pembaca pada persoalan pokok yang akan dikembangkan pada bagian pembahasan/isi. Bagian isi lazimnya diisi dengan dasar teori, data/fakta/contoh kasus, dan analisis atau pandangan penulis terhadap hal yang dibahas. Bagian penutup lazimnya berisi simpulan, saran, rekomendasi penulis terhadap persoalan yang dibahas. Selanjutnya, bagian pelengkap berisi daftar rujukan, biodata penulis, lampiran, dan lain-lain yang dianggap perlu oleh penulis.

Itu sebabnya dalam lomba ini dewan juri menggunakan beberapa indikator utama dalam penentuan peringkat (calon) juara, yaitu:

  1. Kesesuaian topik/judul tulisan dengan tema lomba;
  2. Keterbatasan/kefokusan judul;
  3. Kesesuaian format/struktur tulisan;
  4. Kesesuaian dan ketuntasan pembahasan dengan judul/topik;
  5. Keabsahan data/fakta/referensi/rujukan;
  6. Kelogisan analisis;
  7. Kelogisan simpulan dan rekomendasi;
  8. Kemengaliran tulisan; dan
  9. Kebaikan dan kebenaran bahasa.

Komentar

  1. tolong paparkan nama pemenangnya dong?
    pengen banget nie! tahu nama pmenangnya???

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.