Langsung ke konten utama

Bagaimana Mengatakannya, Aku Sayang Ayah

sekali-kali dalam menulis baru kali ini aku ingin menceritakan tentang mimpi yang kualami semalam, dalam ruang gelap sebuah suara memanggil...menyayat...terasa begitu sakit dan memilukan, adalah suara ayah...dan aku segera berlari, menyusul suara itu, ayah terlihat begitu lemah, tidur tak berdaya dan terus memanggil nama ku, anak perempuannya yang aku tahu dia sangat menyayangi ku. aku memeluknya dan menangis tersedu-sedu, memeluknya kuat sekali dan tak ingin melepasnya hingga akhirnya aku terjaga.

mimpi yang tidak menyenangkan karena hari ini kembali aku harus mengingatnya, bahkan menuliskannya disini. yang semalam memanglah mimpi, tapi yang sebenarnya terjadi pun begitu, ayah kesakitan dan terus berusaha bertahan dengan segala ketegarannya, tak ingin menampakkan bahwa ia teramat sakit didepan anak-anaknya, terutama aku, yang terjadi semalam adalah yang ku lakukan beberapa waktu lalu, saat tiba-tiba ibu menelefonku dan menyuruhku pulang. "Kondisi ayah sangat memprihatikan, kalau pekerjaan mu bisa ditunda pulanglah sebentar mengengok ayah..." kata itu, sore itu menjelang magrib. suaranya serak, menahan tangis, begitu juga aku, diam tanpa dapat melanjutkan kata-kata. "Nanti malam aku pulang, bu." jawab ku sambil terus menyapu air mata.

segera saja ku selesaikan pekerjaan ku, agar besok pagi teman ku yang lain bisa menyerahkan berkas itu kepada klien. setelah magrib langsung aku pulang kerumah dan berkemas-kemas dan segera menuju terminal diantar oleh seorang teman. sepanjang perjalanan aku terus menangis dan tak bisa menghentikan laju air yang mengalir dari kelopak mata hingga bengkak. mau tidur rasanya sangat sulit karena terus terfikir akan kondisi ayah.

paginya setelah sampai dirumah aku masuk ke kamar ayah, segera ku peluk dan aku menangis terisak-isak, ayah memandang ku, tatapannya menyiratkan banyak hal, mengingatkanku pada saat lebaran sebulan yang lalu, aku mencium kakinya sambil menangis pula, satu hal yang belum pernah ku lakukan selama ini. biasanya aku hanya mencium tangannya saja. begitu pula saat aku akan kembali ke banda aceh beberapa hari berikutnya, ayah mengantarkan ku sampai ke terminal, saat itu beliau masih sanggup menyetir mobil dan membawa motor, sebelum berangkat ia berpesan, agar aku berhati-hati dan bersungguh-sungguh, "ayah tidak lagi sehat sekarang..." katanya singkat. tapi aku tahu maksudnya, secara tidak langsung ia ingin mengatakan bahwa ayah mungkin tidak lagi bisa menyenangkan kalian dengan banyak hal seperti selama ini, kalian harus mandiri jika sewaktu-waktu ayah sudah tidak ada, kalian harus selalu hidup sederhana, dan satu hal yang ingin sekali ia tegaskan pada ku agar aku bisa meneruskan apa yang sudah dirintisnya, aku tahu itu, tapi aku tidak dapat melakukannya karena aku punya dunia sendiri dan jiwa yang berbeda. kepada ibu sering aku katakan itu.

tiga hari dirumah, ayah pergi berobat dengan ditemani oleh paman, aku menunggunya sampai esok hari tapi ternyata ayah harus menginap, ku tunggu lagi sampai esoknya tapi ternyata ayah belum pulang juga dan harus menunggu dua hari lagi. karena pekerjaan, aku memutuskan segera kembali ke banda aceh, dengan hati yang pias dan jiwa yang tak tegar. tapi berusaha ku sembunyikan semua itu dari ibu, dari adik-adik ku, dari teman, dari semuanya.

aku sering menangis, terutama bila sedang sendirian, aku takut kehilangan, takut ayah terlalu cepat pergi dari kami semua padahal masih banyak hal yang ingin aku tunjukkan kepada ayah. aku ingin menelepon kerumah, tapi tidak berani, takut mendengar ibu menangis karena itu ku tahan hati ku agar tidak menghubunginya. hati ku selalu bergetar bila teringat ayah, walaupun bila bersama kami jarang sekali berkomunikasi, kami mempunyai karakter yang hampir mirip, tidak banyak omong, menunjukkan kasih sayang dengan cara yang berbeda dari yang dilakukan orang-orang, tidak melalui candaan, tidak melalui kata-kata, entah dengan apa....hanya kami sendiri yang tau.

tak ada yang tahu isi hati ku, tak ada yang tahu aku terluka, tak ada yang tahu aku menangis...tak ada yang tahu...

Komentar

  1. yaa....ihan...mesti tabah, kuatkanlah hatimu dalam menahan kesedihan, serahkan pada yang Mahakuasa dan berdoa, antara tugas dan tanggung jawab, antara tanggung jawab dan kewajiban kadang susah nak dipisahkan, namun semua harus di jalani.
    sy pun x dapat mehan dengan kata2 ayah....thanks for pm

    BalasHapus
  2. terharu banyaknya, jadi ingat ayah dan ibu juga

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…