Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

Gemuruh Hati

Adalah hati, Yang jika bergemuruh Maka gemuruhnya melebihi gemuruh langit
Adalah hati, Yang jika bergetar Maka getarnya melebihi getaran bumi
Adalah hati, Ketika ia berbicara Maka seluru panca indera akan menjadi takluk

Semangat Berlari dan Nostalgia Masa Kecil yang Penuh Petualangan

Akhir-akhir ini lagi doyan banget buat lari. Tapi karena akunya tergolong manusia berkasta 'melankoli', jadinya nggak suka lari di tempat-tempat yang menjadi pusat keramaian, semisal di Lapangan Blang Padang. Sukanya di tempat-tempat yang lengang-lengang aja seperti gambar di atas. Biar bisa menikmati suasana. Itu kan 'tipikal' kasta ini banget, suka alone tapi bukan berarti lonely lho ya hehehe.
Ada tiga jalur yang menjadi rute favoritku buat lari. Pertama, jalur potong yang menghubungkan GampĂ´ng Ulee Tuy dengan Kompleks TNI di Japakeh. Kedua, rute hutan trambesi yang ada di Kompleks Rindam Mata Ie. Ketiga, rute Kuburan Cina dari Gue Gajah tembus ke Mata Ie.
Di tulisan ini aku mau cerita yang rute pertama aja dulu. Soalnya dari tiga rute tadi, yang ini paling favorit dan berkesan. Menemukan rute ini adalah kejutan tersendiri buatku. Pasalnya bertahun-tahun tinggal di Permata Punie, baru sebulan terakhir aku tahu ada jalan di dekat kawasan yang pemandangannya bikin terus…

Secangkir Kopi Hitam dan Kolase Rindu di Bawah Rumoh Aceh Ar-Raniry

"Kupi saboh, Bang," kataku.

"Kupi?"

"Yap! Kupi!"

Jawabku mantap sambil mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang kosong. "Bak meja nyan beh," kataku lagi sambil menunjuk sebuah meja di dekat kasir.

"Jeut!" Jawab si peracik kopi dengan ramah.

Setelah sepekan absen menyesap kopi, pagi tadi akhirnya aku kembali menyeruput minuman hitam dengan aroma yang khas itu. Kali ini aku memilih Solong Corner yang lapaknya ada di bawah Rumoh Aceh di kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Seorang diri, tanpa gawai, aku menikmati pagi yang dibaluri mendung dengan menyesap kopi yang hangat. Sembari membaca tulisan-tulisan lama di majalah tempatku bekerja dulu. Ah, bukankah kopi adalah teman paling syahdu untuk menikmati kesendirian?

***


Sebenarnya ini agenda minum kopi tanpa rencana. Ceritanya, pagi tadi aku mengantar adik yang hari ini mengikuti ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri di Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry.

Sate Belut; Hadiah Ultah Spesial Usia Cantik

KESENDIRIAN selalu memberikan nilai lebih buatku. Di sini, di tempat ini, bersama bayangan, aku merayakannya sendiri. Dengan sekotak donat labu ketela dan sebotol minuman ringan.
Taman Sari, Saturday Nite, 6 Mei 2017.
***
Hingga memasuki usia yang lebih dari seperempat abad ini, ulang tahun bukan hari yang spesial buatku. Merayakannya juga bukan suatu kebiasaan. Aku bahkan kadang lupa dengan hari lahirku sendiri, sampai kadang-kadang Zenja mengingatkan, dengan satu atau dua puisi yang ia kirimkan. Begitulah cara kami saling merayakannya, hanya dengan saling bertukar puisi atau surat. 
Tapi kali ini, entah mengapa aku merasa penting ingin merayakannya. Tentu saja dengan caraku sendiri. Tanpa keriuhan, tanpa kue, atau lilin yang dinyalakan hanya untuk dipadamkan. Aku merayakannya dalam senyap. 
Bahkan sejak bertahun-tahun silam, salah satu laman media sosialku sengaja 'kugembok', agar orang-orang (baca: friend list) tidak bisa menuliskan ucapan selamat happy milad, happy birthday, at…

Cemburu yang Hangat dan Berisik

Zenja,

Ada apa gerangan tiba-tiba kau muncul di mimpiku semalam? Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak saling mengingat, tidak saling bertukar pandang, tidak saling mengunjungi, sekalipun dalam mimpi?

Ah, tapi kita tidak pernah membuat perjanjian khusus tentang itu bukan? Artinya, kita (masih) boleh saling mengingat, boleh saling bertukar pandang, boleh saling mengunjungi, sekalipun hanya dalam mimpi.

Atau, karena ini Mei. Bulan yang selalu mengembalikanmu kepadaku, seperti aku yang kembali padamu di setiap September. Bulan di mana kau selalu berusah payah untuk membuat sepotong dua potong puisi, hanya untuk mengatakan bahwa aku begitu berarti untukmu.

Entahlah, aku hanya berpikir mengapa dua orang yang sama-sama keras kepala seperti kita bisa punya cerita sepanjang ini. Jika cerita ini kuilustrasikan sebagai benang, dan kita berdua memintalnya, sudah menjadi sebuah permadani yang berlapis-lapis tebalnya.

Banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, tentang langit jingga yang menyedo…

Salah Pilih Warung Kopi

INI pertama kalinya aku duduk di warung (kafe) kopi ini. Salah satu dari sekian banyak warung kopi yang ada di Jalan P. Nyak Makam Banda Aceh. Letaknya hanya selemparan batu dari hotel berbintang yang ada di jalan ini. 
Secara fisik warung ini cukup good looking. Satu pintu toko yang ditata seapik mungkin. Di dalamnya tertata kursi dan deretan sofa empuk yang nyaman diduduki. Di bagian luar ada beberapa meja. Ruangannya dicat dengan dominasi warna merah dan hitam. Dua warna yang sangat kusukai.
Maka ketika tadi melangkahkan kaki masuk ke warung ini, kupikir aku tidak akan salah. Ada banyak sekali warung kopi di Banda Aceh ini. Itulah kenapa kota mungil yang menaungi sembilan kecamatan ini dijuluki Negeri 1001 Warung Kopi. Selain sudah punya beberapa warung langganan, sesekali aku dan teman-teman juga ngopi di warung-warung yang belum pernah kami datangi. Itung-itung cari suasana baru. Sekalian mencicipi menu-menu istimewa/interiornya yang makin ke sini makin keren-keren.
Makanya pagi tad…

"Kapan Kawin" dan "Kapan-Kapan" Lainnya

"Kapan nih?"

Itulah pertanyaan yang dilontarkan tetangga di kampung, setelah ia melepas kangen dengan ibu karena sudah lama tidak bertemu. Pertanyaan itu tentu saja ditujukan kepadaku, yang secara tersirat bermakna; kapan kawin?

Aku yang tak menduga bakal langsung disodorin pertanyaan seperti itu, -bahkan sebelum pantatku rapat benar dengan kursi- tak spontan menjawab.

Tetangga tersebut adalah ibu teman SMA-ku. Jika tak salah ingat terakhir kami bertegur sapa sudah lama sekali, waktu aku masih SMA. Kupikir, setelah belasan tahun tidak melihatku, si ibu ini akan bertanya aku kerja di mana, dan hal-hal lainnya yang menyangkut dengan karier. Ternyata dugaanku meleset. Pertanyaan kapan kawin ternyata lebih seksi dan menggoda.

Seperti biasa, aku hanya membalas dengan senyuman saja sebagai 'kode'. Tapi sayangnya saat aku memberi jawaban berupa senyum, si ibu itu malah tak melihatnya. Dia sedang menyiapkan dua mengkok mie so pesanan kami.

"Tuh ditanyain." Ibu mem…

Kangen Zatin!

SECANGKIR es kopi pabrikan yang kuhabiskan petang tadi, ditambah segelas mungil kopi hitam yang kusesap lepas isya, cukuplah sebagai 'syarat' membuat mata tetap terbelalak hingga selarut ini. Sudah lebih dari tengah malam, tapi belum ada tanda-tanda mata ini akan segera layuh.

Setelah 'menyadari' kalau ini akan menjadi malam yang cukup panjang, aku menyalakan laptop. Menuliskan satu atau dua kalimat panjang mungkin bisa membuatku segera tertidur, setidaknya bisa menghadirkan lelah sebagai syarat utama untuk tidur.

Aku ingin menuliskan tentang Zatin, seorang karib yang telah mengisi ruang khusus di hatiku. Beberapa hari ini ingatanku terus tertuju padanya, sejak mengetahui bahwa ia secara 'diam-diam' telah meninggalkan kota yang tak seberapa riuh ini. Emosi sentimentilku mengatakan, dia meninggalkanku. Hiks...