Langsung ke konten utama

Salah Pilih Warung Kopi

Hidangan kopi Arabika Gayo dan sejumput gula aren untuk sweetener-nya @Ihan Sunrise

INI pertama kalinya aku duduk di warung (kafe) kopi ini. Salah satu dari sekian banyak warung kopi yang ada di Jalan P. Nyak Makam Banda Aceh. Letaknya hanya selemparan batu dari hotel berbintang yang ada di jalan ini. 

Secara fisik warung ini cukup good looking. Satu pintu toko yang ditata seapik mungkin. Di dalamnya tertata kursi dan deretan sofa empuk yang nyaman diduduki. Di bagian luar ada beberapa meja. Ruangannya dicat dengan dominasi warna merah dan hitam. Dua warna yang sangat kusukai.

Maka ketika tadi melangkahkan kaki masuk ke warung ini, kupikir aku tidak akan salah. Ada banyak sekali warung kopi di Banda Aceh ini. Itulah kenapa kota mungil yang menaungi sembilan kecamatan ini dijuluki Negeri 1001 Warung Kopi. Selain sudah punya beberapa warung langganan, sesekali aku dan teman-teman juga ngopi di warung-warung yang belum pernah kami datangi. Itung-itung cari suasana baru. Sekalian mencicipi menu-menu istimewa/interiornya yang makin ke sini makin keren-keren.

Makanya pagi tadi ketika Risa memberi kode di grup untuk minum kopi, aku segera menyambutnya. Lagipula sudah lama tidak ngopi bareng dengan dokter gigi muda ini. Aku diberi hak oleh Risa untuk memilih warung mana yang akan kami datangi. Akupun memilih warung kopi ini, karena memang belum pernah ke sini. Dan ternyata semuanya di luar ekspektasi.



Aku sampai lebih awal dari Risa, sekitar pukul 09:45 WIB.  Usai parkir motor langsung masuk, dan seperti biasa langsung mengeluarkan laptop. Jadi bisa sambil bekerja. Ini namanya ngopi produktif; nongkrong bareng teman dapat, kerja juga jalan terus.

Sekitar 15 menit setelah duduk barulah salah satu pelayannya datang membawa daftar menu. Karena niatnya memang mau ngopi, tanpa melihat daftar menu langsung kupesan sanger. 

Lalu terjadilah dialog seperti berikut:

"Sanger aja," kataku.
"Udah abis," jawab si pelayan.

Keningku spontan berkerut.

"Habis? Kok bisa sanger habis?" tanyaku terheran-heran.

Pertanyaan ini benar-benar spontan. Soalnya sanger itu kan minuman yang diracik dari kopi dan susu. Lha kok bisa habis? Aku sempat berfikir mungkin stok kopi atau susunya sedang kosong. Tapi mustahil untuk warung kopi 'seelit' ini. Tapi urung kutanyakan lebih detail.

"Iya, kemarin udah saya bilang sama tokenya kalau sangernya habis. Dia belum beli juga," anak muda itu kembali menjelaskan.

Saya makin bingung. Kening masih berkerut.

"Kopi Ulee Kareng boleh?" tanyanya menawarkan alternatif.

Hatiku langsung mengembang. Tak ada sanger kopi pun jadilah.

"Bolehlah!"
"Tapi kopi sachet, boleh?" 
"Hah? Apa? Masak sachet, sareng nggak ada?"
"Nggak. Yang sanger pun sachet juga."

Lagi-lagi aku berteriak hah! dalam hati. Memang sudah ada ya bubuk sanger atau sanger kemasan? Duuuhhhhh kudet nih.

"Owalah..... Kalau gitu lemon tea panas ajalah," jawabku dengan semangat yang turun drastis.

Racikan sanger yang cocok bagi penikmat kopi pemula @Ihan Sunrise

Sampai di sini, aku tertegun sebentar. Semangat yang tadi berapi-api rasanya menguap. Teringat ingin keluar dan cari warung kopi lain. Baru kali ini salah masuk warung kopi. Tapi nggak enak juga soalnya udah lumayan lama duduk. Lagipula internetnya lumayan kencang, jadi punya alasan untuk tetap bertahan. 

Tak lama kemudian si anak muda tadi datang dengan segelas lemon tea yang benar-benar panas. Asapnya masih mengepul. Ini lagi-lagi jadi alasan untuk tak buru-buru pulang. :-D Beberapa saat kemudian Risa pun tiba.

Agak kurang seru kalau kita duduk di warung kopi terus yang disuguhin itu kopi sachet, atau malah sanger sachet. Kecuali di rumah. Khusus mengenai sanger, jujur baru pertama kalinya dengar ada yang sachet. Untuk memastikan kalau tadi aku nggak salah dengar, waktu mau pulang dan bayar di kasir kutanyakan sekali lagi. Ternyata memang benar, di sini menyediakan sanger sachet. Untuk membuktikan lain kali kayaknya perlu datang lagi ke mari. 

Ngomong-ngomong soal minum kopi, aku memang sangat menyukai minuman hitam ini, kalau tak bisa dibilang candu. Pernah rehat lumayan lama dari kopi tapi belakangan ini balik lagi. Dulu waktu kecil kopi kesukaanku adalah kopi tubruk cap Rusa. Setelah bisa meracik kopi sendiri, sering takaran kopinya ditambah biar lebih nendang. Dan karena sejak kecil saya sering minum kopi made in Teupien Raya kalau pulang tempat nenek, jadi sudah terbiasa dengan cita rasa kopi yang kuat. Aku enggak suka sama kopi sachet. 

Nada dan Nadi muda @YouTube


Kembali ke warung kopi ini, akhirnya sah kukatakan kalau aku salah pilih warung kopi pagi ini. Bukan apa-apa, sudah tak ada kopi, sanger pun tak ada, saat aku meminta cemilan atau kue basah pun di sini tak tersedia. Lalu lagu-lagu yang diputar pun lagu-lagu era 90-an yang menurutku kurang cocok diputar di warkop macam ini. Aku dan Risa sesekali cekikian ketika mendengar lagu-lagu itu.

Rita Sugiarto muda @CDku.com

Akhirnya, seumur-umur duduk di warung kopi baru kali ini ditemani dengan tembang-tembang lawas ala Rita Sugiarto, juga Nada dan Nadi Baraka yang suaranya mirip Rhoma Irama. Lagu-lagu yang menjadi teman setianya penumpang L300. Inilah acara ngopi rasa penumpang minibus antar kota dalam provinsi.[]

Nb: ditulis ulang dari catatan Facebook, Rabu, 3 Mei 2017.

Komentar

  1. terus nama warungnya apa ihan??? banyak tu warung sekitar hotel itu

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja