Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2011

Nekrolog

"Jadilah nekrolog-ku, dan aku tidak akan memintamu menjadi apapun setelah itu." "Ihan, jangan bicara tentang kematian!" "Tidak terlalu sulit untukmu, tinggal menyetujui atau tidak." "Oke! Oke!" Ihan, maafkan aku, 'iya'ku ketika itu hanyalah jawaban pendek tanpa fikir panjang, hanya untuk segera menyudahi desakanmu yang terus-menerus memintaku menjadi nekrolog-mu.
Dan, bila akhirnya aku berdiri di sini untuk sebuah nekrologi yang tidak teratur, sungguh, itu bukanlah bagian dari doaku agar keinginanmu segera terwujud. Aku, dan atau siapapun itu masih ingin melihatmu duduk dan berdiri di hadapanku; untuk sebuah kelekar lucu yang menguras tawa.

Juli dalam Gundahku

Perjalanan, bagaimanapun rupanya selalu menyisihkan waktu bagi diri untuk menyelami dirinya, entah itu sebagai yang kau sebut pelayaran Jawa-Sumatera pada tahun 1998 silam, seperti kapal yang melebur bersama ombak yang pecah, atau seperti kendaraan darat yang mencoba berpacu bersama abstraksi angin.

Bagaimanapun suasananya, perjalanan lebih banyak memberikan lengang, itulah mengapa akhirnya Juli begitu membekas di benakmu, atau seperti lelakiku yang telah mereinkarnasi menjadi teman, sahabat, kakak dan seorang kekasih yang banyak mengajarkanku tentang makna hidup.

Dan nostalgia tentang perjalanan itu pelan-pelan berubah bentuk, menjadi sesuatu yang kita sebut sebagai kenangan, lalu berubah menjadi prasasti yang kerap melahirkan gundah dan risau, itulah tempat di mana memori mulai mengambil tempatnya di hati kita.

Tetapi pernahkah kita teringat, bahwasannya dalam gundah seseorang terlibat seseorang yang lain, dalam gundahmu terlibat Juli dari Kuala Leugeu yang pernah beberapa kali menelep…

Rihoen*

Oleh; Ihan Sunrise Tahi lalat di bawah hidungnya mengingatkanku pada seseorang, hanya saja tahi lalatnya terletak di sebelah kanan, dan tahi lalat seseorang yang kuingat itu terletak di sebelah kiri. Juga diam yang selalu mengatupkan bibirnya, ia hanya sesekali menjawab serupa desis bila aku sedang menanyainya, selebihnya ia seperti sibuk dengan dunianya sendiri. Wajahnya bulat, dengan sepasang mata hitam pekat bertelekan alis yang lebat, syukurlah, dengan diamnya aku memiliki banyak kesempatan untuk mengamati potongan wajahnya yang bernuansa hindi, senyumnya hanya sepotong-sepotong, sama misterinya dengan sesekali pandangannya yang tertuju ke arahku. “Benarkah namamu Rihoen?” tanyaku ke tiga kalinya.