Rihoen*

Oleh; Ihan Sunrise
Tahi lalat di bawah hidungnya mengingatkanku pada seseorang, hanya saja tahi lalatnya terletak di sebelah kanan, dan tahi lalat seseorang yang kuingat itu terletak di sebelah kiri. Juga diam yang selalu mengatupkan bibirnya, ia hanya sesekali menjawab serupa desis bila aku sedang menanyainya, selebihnya ia seperti sibuk dengan dunianya sendiri.
Wajahnya bulat, dengan sepasang mata hitam pekat bertelekan alis yang lebat, syukurlah, dengan diamnya aku memiliki banyak kesempatan untuk mengamati potongan wajahnya yang bernuansa hindi, senyumnya hanya sepotong-sepotong, sama misterinya dengan sesekali pandangannya yang tertuju ke arahku.
“Benarkah namamu Rihoen?” tanyaku ke tiga kalinya.



Ia masih mengangguk. Aku sengaja memberi jeda untuk pertanyaan selanjutnya, agar ia punya kesempatan untuk memberi jawaban lebih. Tetapi hingga beberapa menit berselang ia masih mematung di tempatnya, tidak ada tanda-tanda akan berbicara. Aku nyaris kehilangan akal untuk membuatnya mau berbicara.
“Apa kau tahu artinya rihoen?” tanyaku kemudian, berharap kali ini ia akan menjelaskannya sedikit lebih banyak.
Sejak pertama kali melihat namanya tertera di daftar murid yang belajar di sekolah musik yang kukelola, Aku telah menaruh perhatian khusus untuknya. Aku mengikuti perkembangan belajarnya dari hari ke hari, jiwa seninya begitu kuat, bahkan untuk beberapa alat musik ia sangat piawai. Namun ia terlihat jarang bersosialisasi dengan orang-orang di sekelilingnya. Membuatku semakin ingin mengetahui tentangnya.
Tetapi sebenarnya bukan itu, namanya yang etnik telah membawaku kembali terlempar ke masa lalu. Mengingatkanku pada sosok yang begitu samar, bahkan hingga ketika aku memutuskan untuk menghilang dari kehidupannya, aku tak pernah tahu ia seperti apa, begitu juga sebaliknya. Hingga Rihoen datang sebagai muridku.
“Rindu” jawabnya.
“Oh ya?” pancingku lagi, dia kembali mengangguk.
Aku menarik napas panjang, ingatanku kembali terpental ke waktu puluhan tahun silam, ketika aku sering mendapatkan diam disertai dengan tarikan nafas panjang dari leguh nafas seorang perempuan, dia yang sempat mencuri beberapa potong waktuku, “Setiap kali aku menarik nafas panjang, aku selalu merasa lega dan beban di hatiku berkurang.” Selalu itu jawabannya ketika kutanya mengapa ia senang sekali menarik napas panjang.
Namun aku selalu lupa bertanya lega apa yang ia rasakan, dan beban apa yang ia maksud. Belakangan di ujung-ujung kebersamaan kami aku mengetahui. “Beban hati karena menyimpan rindu yang berat untukmu,” jawabnya begitu lirih, seperti jerit yang dibawa kabur oleh angin. Setelah itu diam adalah milikku yang tak ingin kubagi dengan siapapun.
“Mengapa kau begitu ingin tahu?” tanya Rihoen sejurus kemudian membuatku tersentak, ingatanku tentang perempuan masa lalu terputus, aku terdiam untuk beberapa saat, terkepung oleh pertanyaannya yang penuh selidik. Untuk apa?
Kuseruput kopi hitam dengan sedikit gula yang sudah dingin, pahitnya terasa lengket hinggap di kerongkonganku, lalu kepul-kepul asap dari rokok kretekku ikut berpacu berlomba lari menembusi lorong paru. Sekedar untuk menghilangkan kikuk di depan seorang gadis belia.
“Kau mengingatkanku pada seseorang.” Jawabku akhirnya berterus terang. Entahlah, dengan perempuan masa lalu itu aku tak memiliki hubungan istimewa apapun, tapi keberaniannya menyampaikan perasaan itu yang sering membuatku tak bisa tidur sampai sekarang. Masih melekat benar di ingatanku bagaimana suaranya ketika ia memintaku untuk menciumnya, dan aku dengan kaget yang belum hilang menjawab bahwa aku tidak bisa menciumnya dari seberang telepon.
Atau ketika ia bersikukuh menyuruhku untuk menyebut namanya, karena itu akan membuatnya merasa menjadi perempuan dewasa yang terhormat. Aku tak mengerti jalan pikirnya tetapi aku ikut senang ketika mendengar suaranya begitu girang saat aku akhirnya memanggil namanya; Hani!
“Pastilah dia seorang perempuan bukan?” tanyanya lagi.
“Ya, tentu saja, begitu juga sebaliknya, seperti kau dan lelakimu kukira.” Aku mencoba bercanda. Kutarik segaris senyum agar ia ikut tersenyum, karena pada garis wajah yang sangat datar itu aku tidak dapat menterjemahkan apapun.
“Bukankah kau sedang ingin menceritakan tentang dirimu sendiri?” tanyanya, senyumku tercekat, ia nyaris seperti perempuan masa laluku, yang berbicara apa adanya tanpa ada pengantar apapun. Dan kadang-kadang sering membuatku bingung dan tersentak.
“Maksudmu?” tanyaku sepotong.
“Apakah kau mempunyai seorang anak yang bernama Alviano?”
Darahku tiba-tiba terkesiap, aku seperti dirayapi gigil yang parah, tapi aku tahu gigil ini bukan seperti gigil karena rindu yang sering menghinggapi perempuan masa laluku, tapi pada pertanyaan yang kudengar barusan, aku seperti baru tersadar, apakah seperti ini lunglai yang dulu sering diceritakan olehnya, atau gugup yang tiba-tiba datang menghampirinya tiap kali aku datang menemuinya melalui resonansi di malam-malam tua.
“Alviano, apakah setelah itu kau akan menyebut Algitaro?” tanyaku terngiang pada percakapan masa lalu.
Gadis itu tak menjawab, ia memandangiku dengan mata yang sulit kutebak, jiwanya menyimpan gemuruh yang hebat dan itu tersembul dari tarikan-tarikan nafasnya yang cepat. Kali ini ia menarik segaris senyum di bibirnya yang lembab. Tetapi bersamaan dengan itu segaris air jatuh dari lengkung matanya. Begitu cepat hingga aku tak sadar kapan mendung hinggap di rahim matanya dan kornea melahirkan bulir tanpa mengedan.
“Namaku Rihoen, kata ibuku rihoen artinya rindu. Aku hanya ingin memastikan apakah kau lelaki yang telah memanggil ibuku sebagai Rihoen?”
Rihoen. Yah, itu memang sudah sangat lama sekali, mungkin sekitar dua puluh tahun yang lalu atau lebih. Aku tidak mengingat detilnya sebab perempuan masa laluku hanyalah kabut yang hadir sebentar sebelum matahari tinggi, dia hanya badai yang tiba-tiba hadir lalu hilang tanpa bekas, tapi aku memang pernah memintanya agar bersedia kupanggil sebagai Rihoen.
Ah, aku selalu merasa berdosa setiap kali mengingatnya, baginya aku mungkin hanya embun di pucuk rumput yang hadir sebentar sebelum fajar, merambati ruang perempuannya, menyemai bibit rindu di hatinya, dan kemudian aku tersentak ketika dia bilang bahwa ia telah kembali jatuh cinta padaku. Sementara aku adalah lelaki yang tak pernah percaya dan menganggap bahwa cinta itu benar-benar ada. Dan ketika matahari tepat di pucaknya, akupun memutuskan untuk pergi.
“Mengapa kau begitu yakin?”
“Seperti kau yang memperhatikanku, akupun selalu memperhatikanmu, dan bukan tanpa maksud aku menjadi muridmu di sekolah ini, semata-mata untuk menuntaskan rasa ingin tahuku, mengapa ibu tak pernah berhenti menulis tentangmu.”
“Menuliskan tentangku?” aku terusik untuk ingin tahu lebih jauh.
“Kau pasti tahu bahwa ibuku seorang penulis bukan?” mata yang masih terlihat merah itu kembali menatapku. Ia menarik napas panjang dan kemudian membuang pandangannya pada gitar tua yang terpasung dalam bingkai kaca yang berdiri di pojok ruangan kerjaku. “Tulisan-tulisannya menceritakan kepadaku, tentang pembicaraan kalian ketika kau memetik gitar itu untuknya di dua malam terakhir kebersamaan kalian, apa kau masih ingat bahwa ibu ingin sekali mempunyai seorang anak yang diberi nama Rihoen? Keinginan ibu telah terwujud, tapi bukan kau sebagai ayahku.” Air matanya kembali jatuh, tanpa suara, aku tidak tega melihatnya, seperti mengenang suara tangis perempuan masa laluku yang pernah menangis di telingaku karena rindunya terhadapku, tetapi sekalipun aku tak pernah percaya bila ia benar-benar rindu padaku apalagi mencintaiku.
Aku tidak pernah lupa pada percakapan itu, dia yang selalu meneriaki rindu dengan lantang, tentang keinginannya untuk masa depan, mimpi-mimpinya, pada semangat hidupnya aku banyak belajar, dia yang seperti tidak pernah lelah.
“Rihoen, di mana ibumu sekarang?” tanyaku akhirnya
Aku memang tak lagi muda untuk terlibat pada dialog hati seperti ini, rambut-rambutku telah menguban, mengisyaratkan bahwa kematian telah begitu dekat denganku, bahkan suaraku semakin berat oleh racun-racun nikotin yang aku yakin bila perempuan masa laluku mendengarnya bukan membuat ia rindu tetapi membuatnya takut dan ngeri.
Jari jemariku tak lagi lincah untuk sekedar memetik gitar sebagai pengisi kekosongan hati. Tapi entah mengapa kali ini aku tiba-tiba disergap rindu yang begitu kuat, aku yang ingin kembali mendengarkan suara parau perempuan masa laluku membacakan tulisan-tulisannya untukku. Atau aku yang menyanyikan lagu-lagu balada kesukaannya.
“Di suatu tempat, di mana rindu telah menemui muaranya, tempat di mana cinta kembali ke hakikatnya.” Jawabnya cepat.
“Rihoen, bicaramu persis seperti ibumu.” Kataku kagum.
“Tapi aku pandai bermain musik sepertimu.” Pungkasnya.
Aku tersenyum getir, bila saja waktu dapat diputar kembali aku ingin kembali pada masa dua puluh tahun silam, agar aku untuk sekali dalam hidupku dapat bertemu dengan perempuan masa laluku, mungkin pada saat itu aku akan benar-benar percaya bahwa ia menyimpan rindu untukku, bahwa ia telah kembali jatuh cinta padaku, bahwa ia ingin menjadi perempuan yang hanya akan menuliskan catatan-catatan kecilnya untukku.
“Katakan di mana ibumu, Rihoen!” aku tak sabar untuk mengetahui keberadaannya.
Rihoen, gadis belia berjari lentik yang telah menarik perhatianku, ia kembali diam dengan bibir bergetar, kadang ia menatapku sekali-sekali dengan ekspresi wajah yang tak bisa kutebak. Dan setelah ia puas dengan debarnya ia bangkit dari duduknya. Berdiri di hadapanku dan menyibak pakaian atasnya, hingga warna kulit perutnya jelas terlihat olehku.
Sekerat benda berwarna putih perak membuatku terpukau, dan sesaat kemudian benda itu telah berpindah tempat di telapak tangannya.
“Apa ini, Rihoen?”
“Apakah kau pernah meminta ibuku untuk memakai kalung pinggang ini untukmu?” tanyanya.
Aku tak menjawab, sebab itu memang benar adanya, tapi, kalaupun iya bukankah itu sudah sangat lama sekali, mana mungkin perempuan masa laluku menyimpan benda itu untuk waktu selama itu. Apakah itu artinya, ya, aku ingat ia pernah mengatakan bahwa selama ia masih menggunakan kalung pinggang itu berarti ia masih menyimpan cinta untukku. Tiba-tiba aku merasa tersanjung atas kebesaran hatinya.
Aku mengangguk.
“Sekarang aku berikan ini untukmu.”
“Untuk apa? Bukankah itu milik ibumu?”
“Karena ibuku sudah tidak memerlukannya lagi.”
“Ya, mungkin cintanya untukku telah habis.”
“Bukan, justru cintanya untukmu baru saja di mulai, di tempat yang baru, dengan suasana yang baru, dan mungkin untuk takdir yang berpihak padanya.”
“Rihoen, aku tidak mengerti maksudmu.”
“Kau akan mengerti ketika kau bertemu dengan Tuhan, dan memakaikan kalung ini di pinggang ibuku di serambi surga.” Ucapnya dengan suara sedingin salju.
Pada senja kali ini aku bahkan tak mampu membendung air mataku, kerapuhanku semakin menjadi serbuk di ambang usiaku yang sebentar lagi, resah, mengapa tak pernah sepi dari hidupku, tetapi kehilangan ini adalah sebenarnya kehilangan yang tak bisa kukembalikan. Dan entah mengapa tiba-tiba aku ingin berada di sana untuknya. Untuk Rihoen!
01:25 am
Permata Punie, 13-Juni 2011
(*) cerpen ini telah dimuat di koran Harian Aceh, edisi 3 Juli 2011

Komentar