Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Zelda

Ketika semuanya menjadi nyata, maka itulah akhir dari sebuah cerita. 
Bukan, bukan aku ingin menyudahi semua proses yang penuh warna ini. Bahkan belum semua warna kita guratkan di atas kanvas. Kita juga belum mencoba semua kuas bukan? Semuanya baru berupa sketsa yang kita belum tahu akan seperti apa bentuknya. Ah, sketsa yang abstrak. Sebab ia sama sekali belum bisa ditebak.

Jika boleh kuandaikan sebagai sebuah rumah. Aku baru sadar, ternyata selama ini ada pintu yang kurang rapat. Dan ada jendela yang merenggang. Mungkin aku yang alpa, atau setengah sengaja? Agar menimbulkan tanya, seperti apa rupa warna-warna di dalamnya?

Aku hanya ingin mendesain ulang sketsa ini. Aku ingin menikmati prosesnya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Mungkin sudah cukup kita bertemankan riuh, yang membuat potongan-potongan cerita ini dengan mudahnya berceceran.

Aku ingin menikmatinya dalam diam. Bagai bunga-bunga rumput yang tak lena meski dibuai kesiur angin. Yang tetap kokoh meski angin kencang …

Kutu Kecil dan Kutu Besar

Dia menyebut buku-buku koleksiku sebagai 'kutu', dan aku menyebutnya sebagai 'kutu besar' berkaki dua yang tingginya melebihi Adam Jordan :-D.  Baiklah, sebut saja buku-bukuku adalah kutu kecil yang memang menggelitik untuk dibaca.

"Tambah lagi donk kutunya." 

Itu komentarnya saat 'kutunjukkan' buku berjudul BUKAN UNDANG UNDANG BIASA. 

"Iyaaaaa...... hahahaha..... tapi kutu ini nggak bikin gatal kayak kutu yang di sebelah situ."

"Kasian yaa yg sudah pernah rasai gatal'a kutu."

"Iya dong, kutunya kakinya dua, tingginya melebihi Adam Jordan. Kalau ngomong.....aduhhhhhh, bikin gatal tujuh keliling."

"Mandi sanaa. Dasar kutuaaan."

Aku hanya bisa terbahak --terbahak dalam arti yang sesungguhnya-- membaca pesan terakhirnya. Begitulah kami saling ejek dan membalas.

+++

Buku ini hadiah dari 'kuis' di pengujung acara Dialog Literasi Perempuan yang dibuat Kohati Badko HMI Aceh setengah hari sore tadi di Aula Kesbangpol…

Lavia

"Bisakah kita bertemu sore nanti?"

Pesan dari Lavia membuat Zenra yang sedang malas-malasan di hammock menjadi bersemangat. Degub jantungnya seketika berdetak kencang. Tak mampu ia kendalikan. Akhir-akhir ini ia selalu gugup setiap kali menerima pesan dari Lavia. Padahal isinya sama sekali tak ada yang istimewa bagi kebanyakan orang. Tapi bagi Zenra, semua yang berasal dari Lavia begitu istimewa.

"Bisa."

Balas Zenra tanpa berpikir dua kali. Ia sadar ada janji temu dengan salah satu kliennya nanti sore. Tapi bertemu dengan Lavia jauh lebih penting. Dan berharga. Sudah berbulan-bulan ia tidak melihat wajah sahabatnya itu. Pesan-pesan panjang yang ia kirimkan untuk Lavia hanya dibalas sesekali. Rindu yang sudah lama tumbuh itu menjadi benalu yang kerap membuatnya nyeri. Ia tak peduli meskipun Lavia tak pernah menanggapi rindu yang ia labuhkan.

"Kita bertemu di taman pinggir sungai ya?"

"Baiklah. Pukul setengah lima aku sudah di sana."

Setelah itu …

Traveling with My Boy Bike #1: Menjajal Rute Mata Ie - Lhok Nga Seorang Diri

DEMI menguji adrenalin, aku bertekad dan nekat menjajal rute Mata Ie - Lhok Nga dengan my Boy Bike, panggilan khusus untuk si Polygon Xtrada punyaku. Mengapa kukatakan nekat? Sebab aku belum pernah melewati rute ini sebelumnya. Jadi masih blank ke mana tembusnya. Kali ini aku kembali mengandalkan feeling sebagai guide.

Dan, mengapa aku bertekad? Ya, karena aku sekarang punya Boy Bike, rugi kalau dibiarkan menganggur. Dan rasanya kurang menantang jika mengayuh di rute yang aman dan nyaman seperti di seputar perkotaan saja.

Setelah sehari sebelumnya sempat tanya-tanya ke Zelda berapa jarak Mata Ie - Lhok Nga, --yang dijawab dengan tidak serius-- Sabtu pagi, 26 Agustus 2017, sebelum pukul delapan pagi aku mulai bertolak dari kost-an di Peulanggahan, Banda Aceh.

Sebelum bertolak jauh aku terlebih dahulu berhenti di gerbang depan Masjid Raya Baiturrahman yang menghadap ke Sinbun Sibreh. Di sini aku mengabadikan si Boy Bike dengan latar gerbang masjid berornamen Pintoe Aceh.

Kini saatnya untuk …