Langsung ke konten utama

Kutu Kecil dan Kutu Besar



Dia menyebut buku-buku koleksiku sebagai 'kutu', dan aku menyebutnya sebagai 'kutu besar' berkaki dua yang tingginya melebihi Adam Jordan .  Baiklah, sebut saja buku-bukuku adalah kutu kecil yang memang menggelitik untuk dibaca.

"Tambah lagi donk kutunya." 

Itu komentarnya saat 'kutunjukkan' buku berjudul BUKAN UNDANG UNDANG BIASA. 

"Iyaaaaa...... hahahaha..... tapi kutu ini nggak bikin gatal kayak kutu yang di sebelah situ."

"Kasian yaa yg sudah pernah rasai gatal'a kutu."

"Iya dong, kutunya kakinya dua, tingginya melebihi Adam Jordan. Kalau ngomong.....aduhhhhhh, bikin gatal tujuh keliling."

"Mandi sanaa. Dasar kutuaaan."

Aku hanya bisa terbahak --terbahak dalam arti yang sesungguhnya-- membaca pesan terakhirnya. Begitulah kami saling ejek dan membalas.

+++

Buku ini hadiah dari 'kuis' di pengujung acara Dialog Literasi Perempuan yang dibuat Kohati Badko HMI Aceh setengah hari sore tadi di Aula Kesbangpol Aceh di Kuta Alam, Banda Aceh.

Dialog ini menghadirkan tiga narasumber yaitu psikolog dan penulis buku Blak-blakan Our Secret Nur Jannah Al-Sharafi, yang sebelumnya dikenal dengan nama Nur Jannah Nitura. Lalu ada dosen Fakultas Hukum Unsyiah dan penulis buku Hukum Adat, Teuku Muttaqien Mansur. Dan Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia Yarmen Dinamika.

Di ujung acara Bu Nur Jannah memberikan kuis. Bagi enam peserta yang mampu mendeskripsikan paling panjang sebuah objek yang ditentukan, akan mendapatkan masing-masing satu buku. Objeknya adalah vas bunga dari porselain yang tentunya berisi dengan kuntum-kuntum bunga plastik. 
Aku salah satu di antara peserta yang beruntung mendapatkan hadiah buku.

BUKAN UNDANG UNDANG BIASA ditulis keroyokan oleh 20 penulis, salah satunya adalah Pak T. Muttaqien Mansur. Sebagai refleksi 10 tahun Undang Undang Pemerintahan Aceh. Sebuah undang-undang yang disebut Dekan FH Unsyiah Prof. Faisal A. Rani dalam testimoninya, lahir dari kepentingan penyelesaian konflik secara damai, maka wajah ia harus dijaga oleh berbagai pihak.

+++

Pulang dari diskusi ini aku dan Yelli memilih jalan kaki menuju kost-an di Peulanggahan. Karena sama-sama tidak membawa kendaraan. Saat pergi siangnya kami janjian naik Trans-K. 


Ketika melewati jalur pedestrian di sepanjang pinggir Krueng Aceh, kami berhenti sejenak untuk foto-foto. Tepatnya aku yang meminta untuk difoto dengan koleksi 'kutu' baru. Sebenarnya ingin berlama-lama di sini, tapi karena hari sudah senja, kami segera pulang. Thanks untuk Yelli sudah menjadi fotografer dadakan.[]

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.