Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2011

Di Namamu Rinduku Bersujud

Ini adalah malam ke sekian, sejak aku mengenalmu di bulan april. Malam-malam sesudahnya yang membuat tidurku tidak pernah sempurna. Malam yang selalu membuatku terjaga di ketiak malam. Malam yang selalu memunculkan sketsa wajahmu di langit-langit kamarku. Sekalipun telah kupadamkan lampu, bayang wajahmu tetap hadir sebagai mimpi.

Di malam-malam senyapnya telingaku menangkap derap-derap suara yang kuterjemahkan sebagai suara langkah kakimu menuju padaku. Rindu ini demikian parahnya, hingga tak sadar sering membuatku kepayahan.

Ah, bagaimana bisa aku jatuh cinta padamu? Dan bagaimana bisa cinta ini bertahan. Sedang engkau hanya jelmaan angin di hidupku. Yang pernah kurasakan desaunya, yang pernah kurasakan desirnya, yang pernah kurasakan sejuknya. Tetapi tidak pernah aku melihat wujudmu. Tidak pernah aku menyentuh wajahmu. Tidak pernah aku memelukmu. Tidak pernah aku menatap matamu. Kecuali dalam imajinasiku.

Ini adalah malam ke sekian aku mengingat namamu. Nama yang telah menjadi ayah …

Lukisan Merah (*)

Tak pernah lupa aku pada puisi-puisi pendek yang kerap datang ketika matahari telah dhuha, atau ketika petang mulai menjelang. Bagaimana mungkin aku bisa lupa, puisi-puisi itu telah mengembalikan seluruh imajinasiku yang sempat karam oleh trauma masa lalu.
Puisi-puisi yang kuyakini sebagai penggerak ke dua tanganku untuk kembali mengangkat kuas, memadukan berbagai variasi warna, dan menggoresnya sebagai lukisan abstrak di kanvas berwarna putih. Puisi-puisi itu telah mengembalikan diriku. Ya, tak mungkin aku melupakannya. Lebih tepatnya tak sanggup.
Ketika aku tak tahu harus melukis apa, maka puisi-puisi itu menjelma menjadi penunjuk jalan bagi imajinasiku. Antara sadar dan tidak  aku mengayunkan langkah, memasang kanvas, menyiapkan kuas-kuas dan cat, lalu tanganku membentuk guratan-guratan garis di atas kain kanvas, dan entah bagaimana tiba-tiba hasilnya menjadi sketsa wajah seorang perempuan.
Perempuan yang hanya kutemui sekali dalam hidupku, yang datang ketika petang akan menjelang. Ke…

Ephoria Olahraga dan Semangat Mencibir Masyarakat Kita

saya bukan penggemar olah raga, bahkan tidak ada satu jenis olah ragapun yang saya taruh perhatian khusus. Makanya ketika musim olah raga tiba reaksi saya biasa-biasa saja, sebut saja misalkan ketika musim piala dunia beberapa tahun lalu, atau ketika musim piala FIF, dan yang paling anyar adalah pertandingan pra piala dunia dan sea games yang sedang berlangsung saat ini.
Lazimnya, ketika pesta olah raga tiba masyarakat melalui kesepakatan tidak tertulis telah mempersiapkan dirinya. Di warung-warung kopi mereka menyediakan layar yang lebar-lebar agar para pengunjung leluasa ketika menonton tim kesebelasanya bertanding. Di warung-warung kampung pemandangannya juga tak jauh berbeda, di rumah-rumah, mereka seolah larut dalam ephoria sepak bola.
Saya bukannya tidak setuju dengan ephoria tersebut, di lain sisi saya melihat itu justru bagus untuk memunculkan semangat sportifitas dan memunculkan semangat dalam berolahraga, kecuali untuk saya barangkali.
Namun saya miris ketika melihat semangat …

Kota Ingatan

Di mataku, kota ini bukan lagi sekedar kota untuk mencari makan, tetapi telah menjadi nafas kehidupanku sendiri. Itu karena beberapa lekuknya pernah kita nikmati bersama. Melintasi tempat-tempat yang pernah kita datangi seperti memberikan semangat mengapa aku harus terus bertahan di kota ini.
Memandangi bekas tempat engkau berdiri, atau duduk, entah mengapa tak bisa kubendung sesak yang tiba-tiba menyergap. Ah, kita telah sering kali mengalah, untuk takdir yang tidak bisa kita ciptakan. Untuk itulah, mengapa aku selalu ingin berlama-lama di tempat itu, sekedar untuk menikmati senja atau menghabiskan malam bersama diam yang telah menelan keadaan.
Dan pagi ini, kudapati diriku seperti hendak mengeluarkan air mata, namun aku seperti telah lupa bagaimana caranya menangis,  ya, aku telah hampir lupa sebab telah terlalu sering aku menangis, kadang dengan diam sambil menatap manik matamu, atau kadang sambil terpekur di pelukanmu, atau kadang sambil tersenyum saat membalas ciumanmu.
Betapa …

Terimakasih Tuhan

terimakasih tuhan, untuk kehidupan luar biasa yang kau anugerahi untukku. 

aku adalah ulat, yang menggeliat menjijikkan dan menimbulkan kegelian. 

tetapi dengan cintamu aku belajar bermetamorfosis, untuk tumbuh perlahan-lahan, kelak aku akan menjadi kupu-kupu yang cantik. 

yang memiliki sepasang sayap untuk mengepak mengelilingi dunia, yang memiliki sepasang mata tajam untuk mengagumi keindahan ciptaanmu. 

yang memiliki orkestra rasa untuk dapat menikmati setiap cinta dari makhlukmu. 

terimakasih untuk lelaki istimewa yang telah kau kirimkan ke hidupku, yang mematangkan naluriku, yang mendewasakan pikiranku, yang membesarkan jiwaku; untuk garis takdir yang tidak sesuai kehendak. 

resahku hanya sebatas embun sebelum matahari terbit, galauku hanya seusia kilau bulan, sementara bahagiaku sepanjang rotasi yang tak pernah menemui ujungnya. 

terimakasih tuhan, takdir yang tak pernah kusesali adalah terlahir sebagai diriku, menaruh hatiku untuknya,dan memastikan bahwa aku berhenti mencintainya keti…

Puisi Penghilang Nyeri II

Puisi bagi saya seperti pil kecil yang menghilangkan nyeri di kepala, maka kalau tak nyeri tidak dibutuhkan pil, seperti saya yang membutuhkan puisi untuk menghilangkan nyeri, oleh apa saja.

Jelaskan padaku, tentang pelangi dua warna, yang satu menyerupai warna hati, yang satu menyerupai warna nafsu. Tunjukkan padaku di mana lentera yag tidak memiliki sumbu, tidak memerlukan bahan bakar, tetapi memiliki cahaya seterang matahari.
24.10.11
06.46 pm

Enyahlah seperti batu yang tergelincir ke lautan, agar rupamu tidak lagi kutemui di cakrawala sebagai pelangi. Hadirmu memang sesekali, tetapi mengapa mesti dengan ritual hujan engkau datang, tak lelah kah kau mengundang nestapa di rasaku?
31.10.11
06.16 pm

Matahari muncul untuk menyesap duka yang tercipta ketika malam mulai lengang, sepi sering kali menelurkan gundah. Sedang bulan hadir untuk menghibur jiwa resah di siang hari.01.11.1108.37 am

Bilakah puisi menemui takdirnya sebagai hati yang bebas menjatuhkan hati pada selaksa?

0…

Puisi Penghilang Nyeri I

Puisi bagi saya seperti pil kecil yang menghilangkan nyeri di kepala, maka kalau tak nyeri tidak dibutuhkan pil, seperti saya yang membutuhkan puisi untuk menghilangkan nyeri, oleh apa saja.
Untuk malam selarut ini, mengingatmu masih membuatku berdebar, sungguh, meski entah siapa aku telah begitu mabuk denganmu

~Candu~ 07/10/2011
10:35 pm

Menikmati malam dengan segelah cahaya dari bulan, semoga terangnya sampai ke wajahmu, agar binarnya terlihat hingga ke malam berikutnya

~Kagum~
09/10/2011
08:15 pm

Malam menemui lengangnya, menyergap sepi dari empat penjuru takdir, seperti kumparan aku terkurung di antara semuanya, adakah engkau di salah satu penjurunya?

~Takdir~
17/10/2011
06:30 pm

Sebelum hujan tadi pagi kukirimkan seikat bunga rumpur untuk engkau, warnanya kuning gading, tetapi ia tidak memiliki wangi yang membuatmu sadar bahwa aku telah meletakkannya di bawah bantal tidurmu, nanti ketika kau mencium wangi kasturi janganlah berfikir bahwa itu berasal dari bunga rumput yang kukirim, t…

Maafkan

Jalan ini begitu lengang dengan lalu lalang manusia yang membuat mabuk pikiran, sepi yang panjang atas kegelisahan yang menguras energi, hingga senyum pun terasa hambar, ah, aku melamun di keramaian.

Bunga rumput ini telah kering, padahal hujan senantiasa menyiramnya sebelum subuh, dalam gigil tidur yang mengilukan tulang belulang, dan aku basah dalam takdirku, untuk ke sekian kalinya, tak dapat kucegah semua ini, nokturia malam yang parah.

Inikah metamorfosis?

Ketika diamku menemui puncak amarahnya, dan tidak seorangpun kuharap mengerti, maafkan, aku tak dapat menjelaskan semuanya di hadapanmu, karena ku takut hujan turun di mataku, dan aku khawatir basahnya membuat sembab mata, hingga aku tak dapat menyaksikan mentari pagi yang hangat.

Maafkan, maafkan aku, aku adalah perempuan pencinta diam dan minim ekspresi, tetapi sesungguhnya di mataku tersimpan semua cerita.
16 November 2011 jam 14:31

Hanya Sekali

malam telah sangat tua ketika aku mengingatmu, bahkan beberapa kali kokok ayam kudengar begitu jelas di antara lengang.

aku mengingatmu, karena kita pernah melalui malam-malam panjang yang enggan dihinggapi lelah.

aku mengingatmu, sebab ini sabtu malam, sebab kau kekasihku, karena semestinya di akhir pekan kita bertemu untuk membarter cerita, dan juga energi.

malam sudah bungkuk ketika kau mulai meringkuk di ingatanku, setengah dekade lebih bersama kita hanya pernah sekali bertemu di malam minggu.

bagaimana aku tidak mengingatmu malam ini? selama 6 x 360 hari kita cuma pernah malam mingguan sekali, tok sekali, dan itu terjadi bulan maret lalu, setelah lima tahun kita saling jatuh cinta.

mencintaimu sungguh istimewa, untung aku perempuanmu, dan untung kau lelakiku, jika tidak sudah tak terhitung serapah yang keluar karena kita tidak pernah bermalam minggu.

kelak, yang kuingat darimu hanya yang terjadi di malam yang sekali itu.

luv you Z
13 November 2011 jam 2:43

26 tahun lalu

hari ini 5 november, tepat 26 tahun lalu seorang bayi perempuan dilahirkan dengan prosesi sekarat seorang perempuan dewasa, kelak dipanggil sebagai ibu.

mengalami kontraksi berhari-hari tetapi si bayi tidak juga mau ke luar, mungkin ia tahu bila kelak dunia mengubahnya menjadi perempuan mawar hitam yang langka karena nista.

setelah hampir merenggut nyawa ibunya, si bayi akhirnya lahir juga, ia menangis, karena dua hal, pertama terbayang tangan dukun beranak yang sampai ke ulu hati ibunya, ke dua karena ia sedih akan hinanya dunia.

ia tumbuh, tetapi tidak seperti anak perempuan pada umumnya, ia tak punya mainan boneka meski ia suka main pasar-pasaran, bajunya singlet putih tanpa lengan, celananya pendek se dengkul.

ia anak yang pendiam, tetapi imajinasinya liar. ia tak suka melawan tetapi memiliki jiwa pemberontak, ia tak suka bercanda tapi ia suka mengamati.

ia besar, hidup dengan masalahnya sendiri, ia tak ingin jadi apa-selain menjadi aku bagi dirinya.

bayi itu aku!
happy anniverser…

Enyahlah

wahai lelaki yang selalu hadir dalam mimpi, enyahlah.

jangan usik ruang bawah sadarku dengan hadirmu yang tiba-tiba.

engkau bukan hanya melelahkan fisikku, tetapi juga batinku, perasaanku robek, hatiku tersayat oleh perilakumu.

pasal takwil mimpi ini, entah apa yang membuatmu begitu lekat di ingatan.

tapi mengingatmu bagai menyelinapkan pisau lipat di genggamanku, mengiris-ngiris menitikkan darah tanpa terasa.

tolong, sekali ini saja, aku tidak memohon untuk pentakbulan rindu, tetapi meminta agar engkau menjauh dari pikiranku.


31 Oktober 2011 jam 18:58