Langsung ke konten utama

Di Namamu Rinduku Bersujud

Ini adalah malam ke sekian, sejak aku mengenalmu di bulan april. Malam-malam sesudahnya yang membuat tidurku tidak pernah sempurna. Malam yang selalu membuatku terjaga di ketiak malam. Malam yang selalu memunculkan sketsa wajahmu di langit-langit kamarku. Sekalipun telah kupadamkan lampu, bayang wajahmu tetap hadir sebagai mimpi.

Di malam-malam senyapnya telingaku menangkap derap-derap suara yang kuterjemahkan sebagai suara langkah kakimu menuju padaku. Rindu ini demikian parahnya, hingga tak sadar sering membuatku kepayahan.

Ah, bagaimana bisa aku jatuh cinta padamu? Dan bagaimana bisa cinta ini bertahan. Sedang engkau hanya jelmaan angin di hidupku. Yang pernah kurasakan desaunya, yang pernah kurasakan desirnya, yang pernah kurasakan sejuknya. Tetapi tidak pernah aku melihat wujudmu. Tidak pernah aku menyentuh wajahmu. Tidak pernah aku memelukmu. Tidak pernah aku menatap matamu. Kecuali dalam imajinasiku.

Ini adalah malam ke sekian aku mengingat namamu. Nama yang telah menjadi ayah bagi beberapa anak narasiku. Nama sederhana yang telah begitu istimewa di telingaku. Nama yang telah menjadi warna baru di meja tulisku. Juga di dinding hatiku.

Ah, Engkau! Berdosakah aku yang jatuh cinta padamu? Dan untuk alasan itu kah engkau sengaja hilang dari hidupku? Salahkah aku yang menaruh rasa untukmu? Padahal aku tidak pernah memintamu menjadi sesuatu untuk hidupku.

Kukatakan di sini (walau engkau tidak pernah membacanya) malamku selalu dikepung rindu yang parah untukmu. Siangku diserbu kemarau rasa yang telah pecah. Dan aku selalu menjadikan air mataku sebagai keringat yang jatuh di bawah kelopak mata. Sebab aku tak ingin mengaduh, apalagi mengeluh.

Kukatakan, bahwa mengenalmu adalah anugerah. Pernah mendengar tawamu adalah oase. Bagi hati yang kadangkala berubah menjadi gurun. Kukatakan! Bahwa di namamu rinduku bersujud.




Serambi Masjid
25 November 2011
08.56 pm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…