Langsung ke konten utama

Ephoria Olahraga dan Semangat Mencibir Masyarakat Kita


saya bukan penggemar olah raga, bahkan tidak ada satu jenis olah ragapun yang saya taruh perhatian khusus. Makanya ketika musim olah raga tiba reaksi saya biasa-biasa saja, sebut saja misalkan ketika musim piala dunia beberapa tahun lalu, atau ketika musim piala FIF, dan yang paling anyar adalah pertandingan pra piala dunia dan sea games yang sedang berlangsung saat ini.

Lazimnya, ketika pesta olah raga tiba masyarakat melalui kesepakatan tidak tertulis telah mempersiapkan dirinya. Di warung-warung kopi mereka menyediakan layar yang lebar-lebar agar para pengunjung leluasa ketika menonton tim kesebelasanya bertanding. Di warung-warung kampung pemandangannya juga tak jauh berbeda, di rumah-rumah, mereka seolah larut dalam ephoria sepak bola.

Saya bukannya tidak setuju dengan ephoria tersebut, di lain sisi saya melihat itu justru bagus untuk memunculkan semangat sportifitas dan memunculkan semangat dalam berolahraga, kecuali untuk saya barangkali.

Namun saya miris ketika melihat semangat yang meledak-ledak itu tiba-tiba berubah menjadi teriakan makian dan umpatan, ketika tim kesebelasannya kalah. Atau, katakanlah ketika timnas Indonesia sedang bertanding dengan timnas negara lain betapa kita sangat kompak untuk mendukung tim kesebelasan tanah air, status di facebook pun tidak jauh-jauh dari ekspresi tersebut, tentunya harapan untuk menang.

Tetapi apa yang terjadi ketika tim jagoannya tidak menang? Harapan-harapan tadi berubah menjadi ungkapan kekecewaan yang mendalam, letupan-letupan kemarahan bernuansa sumpah serapah dengan tudingan seperti para pemain tidak kompak, pelatih yang jelek, si A yang ingin menonjol sendiri, dan lain-lain.

Sekali lagi, saya bukan pecinta olah raga, jadi, menang atau kalah tidak mempengaruhi saya. Hanya saja saya jengah melihat ekspresi orang-orang di sekitar saya. Maksud saya begini, olah raga mengajarkan sportifitas tinggi, tetapi mengapa semangat sporitifitas itu tidak menular ke pendukungnya? Atau memang inilah potret masyarakat kita yang sesungguhnya? Di mana budaya mencemooh dan menghujat masih menjadi karakter utama bangsa kita?

Padahal, secara moril seharusnya kita memberikan dukungan ekstra kepada para pemain yang kalah, agar performa mereka bisa lebih meningkat lagi di lain waktu. Karena secara sederhana, memberikan pujian atas suatu prestasi itu sangat gampang, seseorang yang berhasil dalam suatu pencapaian lebih gampang dielu-elukan, namun, mampukah kita menunjukkan sikap berjiwa besar dalam menerima kekalahan?

Menurut hemat saya, jikapun mereka (tim sepakbola) kalah sebelum bertanding itu jauh lebih terhormat daripada penonton yang hanya mampu menyoraki, meneriaki, bahkan terkesan dipaksakan namun tidak mengerti apa-apa tentang teknik dalam bermain. (Ihan)

Komentar

  1. setuju banget, Ihan. Inilah potret masyarakat kita. Mungkin mereka tidak pernah membayangkan jika mereka berada di posisi orang2 yang mereka puji lalu berbalik mereka cacimaki.

    BalasHapus
  2. sama lah dengan kakek Dollah

    BalasHapus
  3. sama apa nih? sama dalam mencibir ya hehehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…