Langsung ke konten utama

Kota Ingatan

Di mataku, kota ini bukan lagi sekedar kota untuk mencari makan, tetapi telah menjadi nafas kehidupanku sendiri. Itu karena beberapa lekuknya pernah kita nikmati bersama. Melintasi tempat-tempat yang pernah kita datangi seperti memberikan semangat mengapa aku harus terus bertahan di kota ini.

Memandangi bekas tempat engkau berdiri, atau duduk, entah mengapa tak bisa kubendung sesak yang tiba-tiba menyergap. Ah, kita telah sering kali mengalah, untuk takdir yang tidak bisa kita ciptakan. Untuk itulah, mengapa aku selalu ingin berlama-lama di tempat itu, sekedar untuk menikmati senja atau menghabiskan malam bersama diam yang telah menelan keadaan.

Dan pagi ini, kudapati diriku seperti hendak mengeluarkan air mata, namun aku seperti telah lupa bagaimana caranya menangis,  ya, aku telah hampir lupa sebab telah terlalu sering aku menangis, kadang dengan diam sambil menatap manik matamu, atau kadang sambil terpekur di pelukanmu, atau kadang sambil tersenyum saat membalas ciumanmu.

Betapa tidak, ketika mengatakan cinta untukmu, saat itu kita harus menangis dengan cara tidak biasa, ketika melalui hari-hari sebagai kekasih terlalu banyak perkara yang membuat kita hampir tidak bisa tertawa. Kekasih, inikah perjuangan? Yang pada akhirnya tetap tidak menjadi sebagai pemenang? Pun begitu kekalahan bukanlah milik kita.

Maka, bagaimana mungkin aku ingin pergi dari kota ini. Kota yang bisa kulihat engkau dalam imajinasiku. Kota yang menyemerbakkan harum tubuhmu, kota yang membuatku meriang dan akan sembuh bila berhasil kau dekap. Kota yang telah membuatku menjadi ada.

Kekasih, sesungguhnya tidak ada yang tiba-tiba dari kisah kita, apa yang terjadi hari ini adalah perkiraan tujuh tahun yang lalu. Saat kita masih bercerita tentang emansipasi dan adat istiadat. Saat leguh kita masih bercampur bersama angin malam. Saat teriakan kita tertahan desau pasir di tepi pantai. Pada purnama di lautan itu aku pernah menaruh harap untuk dapat bercinta denganmu.

Saat rinduku terbit untukmu, saat itulah aku teringat akan hutang-hutangmu yang belum sepenuhnya kau tunaikan padaku; tentang lukisan yang belum sepenuhnya kau selesaikan.

Permata punie, 23 November 2011
09:03 am

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.