Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2013

Puisi Persada

Senja sudah menggantung di pucuk waktu Aku di sini masih sibuk mengumpulkan suara-suara angin Jika jumlahnya cukup akan segera kurangkai menjadi simfoni untukmu Liana Dengannya kau bisa menyetel harmoni Mengiramakan detak jantung Mengatur ritme denyut nadi Bahkan adrenalin Senja masih menggantung di pucuk waktu Matahari kian memerah, sebentar lagi sempurna ia mengatup Aku masih di sini, masih memilin suara-suara Sebentar lagi akan menjadi irama lagu happy birthday untukmu Aku juga akan mengumpulkan bunga-bunga rumput Kutiup rasa paling dalam dari diriku agar bunga-bunga itu semerbak Kupercikkan rindu paling dalam agar bunga-bunga itu beraneka warna Kupercikkan harapan paling harap agar bunga-bunga itu terus hidup Di hatimu Di ingatanmu Di kalbumu Di hidupmu Ah, Liana, senja telah tiba Tajamkan telingamu, dengarlah denting paling harmoni ini Buka tanganmu, genggam bunga ini Buka hat

Iklan Gita dan Caleg Facebook

print screen Pemilu 2014 masih lama. Kita juga masih hidup di tahun 2013. Tapi, maaf, bau 'amis' politik mulai tercium. Ada yang samar-samar, hanya tercium jika ada 'angin' yang membawanya. Ada pula yang terang benderang, seterang lampu petromak di malam gulita. Tak heran jika semua mata tertuju ke lampu atau sumber bau 'amis' itu.  Beberapa hari ini ada yang berbeda jika saya membuka halaman Kompasiana. Yaitu wajah pak Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan yang tiba-tiba ngablag begitu besarnya hingga bikin kaget. Untung saja cuma foto, kalau beneran orangnya pasti sudah pingsan karena terpesona :-D.  Wajah besar pak menteri pelan-pelan akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa detik. Jika tak sabaran menunggu sampai hilang sendiri, jangan ragu untuk tekan tanda skipp di pojok kiri atas gambar.   Rupanya bukan saya saja yang terganggu dengan iklan besar pak menteri, ada Kompasianer lainnya bahkan membuat sebuah artikel yang meminta agar Gita

Behind the scene resensi "Ibu Dalam Sekeping Cerita"

Kamis 14 November 2013 kemarin resensiku yang berjudul " Ibu Dalam Sekeping Cerita " dimuat di Koran Jakarta. Merasa cukup surprise juga karena resensi itu baru kukirim pada Selasa 12 November. Artinya resensi itu dimuat hanya berselang dua hari setelah pengiriman. Yang bikin aku lebih surprise lagi karena itu resensi perdana yang kubuat dan kukirimkan ke media. Jadi saat tahu resensi itu sudah tayang, senangnya bukan main. Senyum-senyum terus :-) Apalagi salah seorang temanku bela-belain ngirim pemberitahuan di wall facebook-ku. Di grup facebook Forum Lingkar Pena, aku malah diberi selamat. Padahal aku sama sekali bukan anggota grup itu heheheee.... Tapi ini semacam berkah nepotisme karena aku mengenal beberapa dedengkot di forum tersebut. Thx untuk Ferhat. Ngomong-ngomong soal bikin resensi, ini memang "dunia" baru buatku. Baru banget, karena seumur hidup baru dua kali aku membuat resensi. Meski sudah lama menulis, selama ini aku hanya tertarik bikin cerpen,

Ibu dalam sekeping cerita [Koran Jakarta]

Judul buku : Ibu dalam Diriku Penulis : Mitsalina Maulida Hafidz dkk Penerbit : Gigih Pustaka Mandiri bekerjasama dengan Linikreatif Publishing Tebal : x 135 halaman ISBN : 978-602-17414-4-3  Tahun terbit : 2013 Kehidupan seorang anak tanpa sosok ibu tentu gelap, tak berpengharapan. Tanpa menafikan peran ayah, nyatanya ibu lebih besar dalam proses tumbuh kembang anak. Ikatan emosional antara ibu dan anak yang terjalin sejak dalam kandungan berdampak hingga dewasa. Begitulah makna tersirat dalam 15 cerpen dalam antologi cerita Ibu dalam Diriku. Kelima belas penulis dari berbagai latar belakang mampu mengemas tema-tema sederhana menjadi menggugah dan sarat makna. Mereka memadukan diksi dan narasi yang mengagumkan. Kumpulan cerpen yang ditulis Mitsalina Maulida Hafidz dan kawan-kawan ini menggunakan gaya bahasa sederhana, tapi lugas, sehingga tak membuat monoton meskipun tema yang diangkat sangat umum. Melalui tulisan ini, pembaca diajak merenung, tanpa berpegang pada seorang

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n