Langsung ke konten utama

Behind the scene resensi "Ibu Dalam Sekeping Cerita"

Kamis 14 November 2013 kemarin resensiku yang berjudul "Ibu Dalam Sekeping Cerita" dimuat di Koran Jakarta. Merasa cukup surprise juga karena resensi itu baru kukirim pada Selasa 12 November. Artinya resensi itu dimuat hanya berselang dua hari setelah pengiriman.

Yang bikin aku lebih surprise lagi karena itu resensi perdana yang kubuat dan kukirimkan ke media. Jadi saat tahu resensi itu sudah tayang, senangnya bukan main. Senyum-senyum terus :-) Apalagi salah seorang temanku bela-belain ngirim pemberitahuan di wall facebook-ku. Di grup facebook Forum Lingkar Pena, aku malah diberi selamat. Padahal aku sama sekali bukan anggota grup itu heheheee.... Tapi ini semacam berkah nepotisme karena aku mengenal beberapa dedengkot di forum tersebut. Thx untuk Ferhat.

Ngomong-ngomong soal bikin resensi, ini memang "dunia" baru buatku. Baru banget, karena seumur hidup baru dua kali aku membuat resensi. Meski sudah lama menulis, selama ini aku hanya tertarik bikin cerpen, puisi atau prosa. Tidak yang lainnya. Mungkin belum kali yaa...


Resensi pertama yang kubuat tentang novel Life of Pie pada awal Februari 2013 lalu. Novel ini diangkat dari kisah nyata seorang pria India yang kini bermukim di Kanada. Novel itu kupinjam dari seorang teman, bang Arie namanya. Nah, jika kemudian aku meresensi novel tersebut, itu semata-mata karena kutemukan potongan koran yang berisi tentang resensi novel tersebut di dalamnya. Setelah membaca resensi di koran itu, aku pun ingin memberikan persepsiku tentang novel yang sudah difilmkan itu. Resensi Life of Pie kumuat di media tempatku bekerja. Lalu, mengapa aku mengatakan Ibu Dalam Sekeping Cerita resensi pertamaku yang dimuat di media? Itu karena resensi tersebut kukirim ke media lain, yang proses penayangannya sudah melewati proses seleksi dan editing di redakturnya. Aku juga harus bersaing dengan resensor lainnya bukan? Jadi, ada nilai lebih (tantangan) sendiri yang kurasakan. Beda jika dimuat di media sendiri, karena memang aku sendiri yang mempublikasikannya :-)

Pada Juli 2013 lalu, aku menerima hadiah buku dari salah satu grup menulis yang kuikuti di facebook. Judulnya Ibu Dalam Diriku, sebuah buku antologi cerpen. Buku itu yang kemudian kuresensi, lalu kukirim ke Korjak, dan dimuat.

"Kenapa bukan kau yang membuat resensinya?" kata penulis yang cerpennya masuk dalam antologi Ibu Dalam Diriku, lewat chatting di facebook beberapa waktu sebelum buku itu kuterima. Saat itu aku berfikir bahwa nanti setelah buku itu sampai dan kubaca habis, akan kubuat resensinya.

Dan sampailah buku itu. Hanya dalam waktu beberapa hari semua isinya kubaca sampai habis. Beberapa judul membuatku sangat terkesan. Lalu bagaimana dengan resensinya? Ohoo... aku melupakannya. Aku terlalu asyik dengan aktivitasku yang lain.

Barangkali resensi itu takkan pernah jadi jika temanku Eky tidak serta merta berubah jadi kompor. Begini, di grup dia dikenal sebagai ratu lomba, entah itu lomba blog, lomba review, lomba resensi, sampai kuis. Semua diborongnya. Sering sekali dia memposting foto-foto hadiah lomba yang diterimanya. Entah gimana ceritanya aku mulai inbox-inbox Eky, tanya-tanya soal resensi. Lalu kubilang kalau ada beberapa buku baru yang kubaca, salah satunya Ibu Dalam Diriku. Waktu itu sudah mulai buat-buat resensinya, sudah setengah lembaran :-D, tapi cuma diendapkan saja di laptop. Kepada Eky secara tak langsung aku berjanji akan menyelesaikan resensi itu.

Eky adalah Eky, yang kocak dan selalu ramai. Tiba-tiba dia berubah menjadi kompor 16 sumbu yang selalu menyala dan bikin panas. Di chattroom dia sering nanya, resensinya udah siap? Di grup, kalau ada teman-teman yang bikin resensi dia selalu nyolek-nyolek aku hahahahah, sampai-sampai aku takut untuk inbox Eky, takut ditanyain tugas resensinya wkwkwkwk. Eky juga pernah bilang bikin resensi itu ngga perlu lama kok, cuma perlu waktu sebentar. Lha, dia sih udah biasa, aku? ya amplopppppp, Eky tega benar.

Saat 'tugas' resensi itu ngga selesai-selesai, tiba-tiba resensinya Eky dimuat di Korjak. Waktu itu aku tercengang, resensinya pendek amat. Dalam hati 'kalau gitu aku juga bisa hahahaha'. Kalau bisa kenapa ngga siap-siap yaaa???? Ini perang batin namanya.

Saking penasarannya resensi Eky itu kusimpan di email, hampir setiap hari kulihat. Maksudnya kubaca. Masih terkesima dengan jumlah karakternya yang cuma sekitar satu halaman itu. Dalam hati, aku cuma tinggal nambahin yang sudah setengah halaman kubuat tempo hari. Ternyata waktu kutanya sama Eky, minimal harus empat ribu karakter lho, ya, maksimal sekitar dua halaman gitu deh. Tiba-tiba saja aku merasa kok kayak ngos-ngosan gitu, capek, huffff....

Setelah tertunda-tunda terus, Selasa pagi, aku setoran tugas ke Eky, ya, dia sering bikin resensi, sudah sepaturnya aku belajar sama dia kan? Tulisan yang kusetor belum lengkap, baru satu halaman tok, Dan Eky dengan kesabarannya (mungkin) membaca dan memberi masukan; intinya harus cukup sampai 4 ribu karakter. Kubuat lagi, di sela-sela pekerjaan, kutambah beberapa paragraf, membolak-balik buku Ibu Dalam Diriku. Mencermati apa yang kurang, apa yang perlu dibuang. Sampai akhirnya mendekati 4 ribu karakter. Trus setor lagi ke Eky, diperiksa, dan dikirim balik dengan catatan; udah mantap kok Han, ini kukasih feedback.

Mau tahu apa catatan yang dikasi Eky? Cuma dua, ya cuma dua; aku harus melengkapi tahun terbit bukunya dan mengganti penulis menjadi peresensi. Itu tok! Bagaimana aku tidak senang :-D

Setelah membereskan catatan dari Eky, segera kukirim ke Korjak. Hm, setelah itu aku menunggu harap-harap cemas, sempat-sempatnya bilang ke Eky, kalau resensi itu dimuat aku bakal buat behind the scenenya hahahah. Menunggu beberapa jam, sore harinya aku dapat email balasan dari Korjak, redakturnya minta aku melengkapi biodata. Aku makin deg-degan, kembali lapor ke Eky. Aduhhh katrok amat yaa, Amat aja ngga kayak gitu deh perasaan. Malamnya di grup masih sempat-sempatnya diskusi soal itu.

Setelah sehari menunggu, pagi Kamis, begitu datang ke kantor, buka komputer, buka facebook dan taraaaaaa.... ada ucapan selamat dari Ferhat. Mengabarkan kalau resensiku dimuat. Waaa senangnyaaa.... langsung bilang Alhamdulillah saat itu juga.

Hari ini, aku menyelesaikan pe-er keduaku, membuat behind the scene-nya :-D. Anggap saja ini sebagai nazar, dan sebagai ucapan terimakasihku kepada Eky yang sudah mau membimbingku.[]

Note: setelah bikin resensi ini aku jadi mikir, sebenarnya bukan ngga bisa, tapi ngga mau mencoba :-D

Komentar

  1. Alamaaaaaaak...mau pengsan aku bacanya. Yang ratu-ratu itu lho... wkwkwkwkwkw

    Ferhar mana ferhaaat..namamu disebut-sebut jugak di sini lhoooo...wkwkwk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan pengsan dulu, cerpen aku belum ente bacahhh

      Hapus
  2. Kenaapaaaa han aku di hilangkn dr bumi ini.. knp?
    Kamu kejam han. Memblock aku...

    BalasHapus
  3. Yeyyeyeyeyee... namaku disebut, tapi tidak sebanyak nama Eky -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. gpp Ferhat, ente kan sudah pernah kutulis special

      Hapus
  4. aku nggak disebutin

    #disebutkanbuatapaya hehehehe

    BalasHapus
  5. selamat ya Ihan, pintu kesuksessan udah terbuka tinggal masuk.
    jadi ingat pelajaran bahasa dulu, setiap pelajaran selalu ditugaskan buat resensi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe.... prosesnya masih panjang kak Lisa

      Hapus
  6. Balasan
    1. Trims mba Esti :-) ini bener-bener di luar prediksi

      Hapus
  7. WOW Keren nie artikernya
    Sambil baca artikel ini, Aku numpang promosi deh !
    Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…